Undip Tambah Dua Guru Besar FIB

gubes

Undip Tambah Dua Guru Besar FIB

Undip kembali menambah jumlah guru besarnya. Hari ini Agus Maladi Irianto dari jurusan Sastra Indonesia dan Yetty Rochwulaningsih dari jurusan Sejarah dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Sabtu (25/3) di gedung Prof.Soedarto, S.H Undip Tembalang.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai gubes, Agus Maladi mengangkat topik mengenai MEDIA DAN KEBUDAYAAN: Tantangan Ilmu Antropologi Membaca Dunia Kontemporer.

Menurut Prof. Agus Maladi Membaca Indonesia hari ini adalah kontestasi tayangan televisi yang mengeksploitasi berita gosip dan sensasi. Ia beradu cepat dengan media sosial yang secara gencar menebarkan hasutan dan kemarahan. Membaca Indonesia melalui media hari ini, terasakan berada dalam perkembangan pengetahuan dan peradaban bangsa yang sedang berubah terus menerus. Melalui gambaran konstruksi media itu pula, hari ini, kita menjadi sulit membedakan mana wilayah publik dan mana wilayah domestik. Konstruksi media, baik berupa media arus utama (mainstream) maupun media sosial, pada hari ini telah menciptakan provokasi demi provokasi yang luar biasa.

Jadi melalui media, baik mainstream maupun media sosial, masyarakat menjadi terbiasa mengkonsumsi simbol-simbol dan gaya hidup daripada mempertimbangkan fungsi produksi barang yang dikonsumsi. Konsumsi simbol-simbol, gaya hidup, dan dinamika masyarakat terjadi, karena media massa telah melakukan konstruksi realitas sosial.

Prof. Agus Maladi mengungkapkan kesempatan terhormat ini adalah mendiskusikan posisi kebudayaan Indonesia saat ini yang diorganisasi oleh media massa, terutama bertolak dari tayangan acara televisi (TV) dan sejumlah informasi yang sengaja ditebar media sosial setiap hari. Tayangan acara TV dan konstruksi media sosial saat ini telah berkembang tidak hanya sekadar mempresentasikan pengetahuan, gagasan, dan pandangan yang kemudian membentuk struktur secara mantap seperti halnya pada masyarakat yang stabil. Ia justru telah mendekonstruksi realitas sosial dari sebuah industri yang disajikan terhadap masyarakat dinamis, kontemporer, dan terus-menerus berubah.

“Antropologi yang selama ini dikenal sebagai ilmu yang mengkaji tentang kebudayaan manusia tentu saja menjadi relevan untuk menguraikan tentang perkembangan peradaban manusia kontemporer di era pascamodernitas ini. Sebagai salah satu cabang ilmu sosial yang mengkaji tentang manusia dan kebudayaan itu,tentu saja antropologi akan senantiasa membaca fenomena kebudayaan yang terus menerus berkembang,” ujarnya menerangkan.

Sementara itu Prof. Yetty Rochwulaningsih dalam pidato pengukuhan guru besarnya mengangkat topik mengenai “Membongkar Ketidakadilan Struktural dalam Usaha Garam Rakyat Melalui Perspektif Sosiologi Sejarah Guna Mewujudkan Kesejahteraan Petambak Garam dan Swasembada Garam Nasional”.

Prof. Yety menjelaskan pemikiran yang dirumuskan dalam judul Pidato Pengukuhannya ini dilandasi oleh keprihatinan yang mendalam terhadap sektor garam rakyat yang tidak mampu menjadi “tuan” di negeri sendiri bahkan menjadi “ajang” berbagai pihak untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya dengan mengorbankan kehidupan “wong cilik” kaum marjinal petambak garam. Oleh karena itu, potret kehidupan “wong cilik” petambak garaam (petambak kecil dan penggarap) ini selalu identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan,” ungkapnya.

Lebih jauh Prof. Yety menuturkan melalui perspektif sosiologi sejarah yang secara keilmuan saling mendekati (rapprochment) dan bersinergi ini, dapat dibongkar adanya ketidakadilan struktural dalam usaha garam rakyat yang menciptakan kemiskinan petambak garam utamanya petambak kecil dan penggarap serta menciptakan ketidakmampuan garam rakyat dalam memenuhi kebutuhan nasional apalagi untuk ekspor.

“Dalam konteks ini, pemerintah sebagai regulator dan pemegang otoritas ikut andil memberi warna dalam kompleksitas permasalahan tersebut. Namun demikian, dari kompleksitas permasalahan itu yang sangat signifikan pengaruhnya terhadap keterpurukan usaha garam rakyat adalah adanya ketidakadilan struktural yang berdampak kepada kemiskinan petambak garam kecil dan penggarap serta ketidakmampuan mewujudkan swasembada garam nasional utamanya untuk garam industri,” pungkasnya.

Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Utama dalam sambutanya merasa bangga atas bertambahnya guru besar Prof. Agus dan Prof. Yety di Undip.

Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Utama menjelaskan bahwa dengan bertambahnya guru besar tersebut, Undip akan menjadi semakin hebat dalam membuktikan kualitasnya.

“Sosok guru besar adalah pangkat tertinggi dalam pendidikan yang telah teruji dan diakui oleh pemerintah, maka dari itu harus dijaga entitasnya,” tutur Rektor.

Rektor mengatakan penambahan guru besar tersebut tidak hanya menambah struktural kepegawaian tetapi juga bukti kualitas Undip dalam mencetak guru besar.

Rektor berharap dengan bertambahnya guru besar tersebut dapat memacu rekan-rekan yang lain untuk menjadi guru besar juga dan dapat menjadikan Undip sebagai peguruan tinggi negeri yang kuat serta dikenal di kancah internasional.

gubes-2


Statistik

News