Mahasiswa Undip Manfaatkan Limbah Kulit Nanas Menjadi Sampo

Limbah-kulit-nanas-jadi-sampo

Mahasiswa Undip Manfaatkan Limbah Kulit Nanas Menjadi Sampo

Nanas merupakan salah satu buah tropis tidak hanya dinikmati dalam bentuk buah saja namun juga berbagai olahan, dimana hasil sampingnya berupa limbah kulit nanas yang selama ini hanya dibuang. Namun di tangan orang-orang kreatif, limbah bisa diolah menjadi barang yang dapat digunakan. Sejumlah mahasiswa Universitas Diponegoro, yaitu Astrid Noviana, Ayu Munti Nilamsari, Rina Yuniarti, Muhammad Rizqi, dan Khisnun Baani, telah menyulap limbah kulit nanas menjadi sampo. Lima mahasiswa tersebut tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) dibawah bimbingan Dr. Diana Nur Afifah, S.TP., M.Si., yang dilaksanakan di Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang.

Foto-Team
Ide bermula ketika mereka melakukan kunjungan ke Desa Belik dan menemukan tumpukan limbah kulit nanas. Nanas madu merupakan hasil perkebunan utama dari Kecamatan Belik dengan jumlah produksi tertinggi di Jawa Tengah. Banyak produk olahan dari  buah nanas yang dibuat oleh warga setempat, namun kulitnya hanya dibuang ke kebun dan sungai. Hal ini memprihatinkan karena semakin hari semakin banyak dan berpotensi mencemari lingkungan. Oleh karena itu, lahirlah ide untuk mengolah kulit nanas menjadi produk yang berguna, yakni sampo.

Upaya untuk mengolah kulit nanas menjadi sampo telah melewati proses cukup  panjang dan membutuhkan percobaan berkali-kali untuk menghasilkan formulasi sampo yang sesuai dan dapat diterima, baik dari segi warna, tekstur, maupun aromanya. Ayu Munti Nilamsari, anggota tim dari jurusan teknik kimia selaku penanggung jawab produksi menuturkan bahwa tidak mudah memilih bahan dan menyusun formulasi yang pas untuk menghasilkan sampo kulit nanas dengan kualitas yang mirip seperti sampo komersil. Tim juga berupaya untuk meminimalisir penggunaan bahan kimia dalam komposisi sampo kulit nanas.

“Kami awalnya Membaca penelitian-penelitian tentang buah nanas yang dijadikan sampo, juga informasi komposisi sampo yang menggunakan ekstrak dan jus buah nanas. Kami juga membaca penelitian mengenai senyawa pada kulit nanas yang ternyata hampir sama dengan daging buah nanas, terdapat enzim bromelin yang bisa digunakan sebagai antiketombe. Bahan pebuatan sampo juga mudah, prosesnya gampang untuk dilakukan, pasti masyarakat mudah mempraktikan. Sekarang baru pelatihan pada kelompok PKK Desa Belik, harapannya dapat meluas ke daerah lain”, ungkap Astrid Noviana selaku ketua kelompok.

Pelatihan pengolahan limbah kulit nanas dilakukan kepada kelompok PKK desa Belik mulai sejak tanggal 8 April 2017 yang kemudian pembuatan sampo kulit nanas dilanjutkan oleh masyarakat.

“Pelatihan pengolahan limbah kulit nanas ini menambah keterampilan saya pribadi dan kelompok PKK yang lain. Kelompok PKK akhirnya mempunyai kegiatan mandiri yang produktif. Selain itu, limbah kulit nanas yang dibuang kini semakin berkurang karena kami olah menjadi sampo. Saat ini sampo kulit nanas digunakan keluarga, juga sudah dijual kepada tetangga sekitar desa Belik. Harapannya selain mengurangi limbah kulit nanas, sampo kulit nanas ini dapat diproduksi secara masal dan dapat diperjual belikan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat desa Belik.”, tutur Yunita selaku salah satu anggota PKK.

Pengolahan limbah kulit nanas diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi limbah kulit nanas dan dapat dikembangkan di berbagai daerah. Selain itu, sampo kulit nanas berpotensi sebagai usaha bisnis masyarakat sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. (Kontributor : M Rizqi)Limbah-di-Desa-Belik


Statistik

News