Semarang.undip.ac.id- Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro mengadakan Workshop Genetic Course guna membahas masalah penyakit genetic "Medical Genetic Course From Basic to ClinicBioethic" Senin-Rabu (26-28/12) di Gedung Dekanat FK Undip. Workshop ini diikuti oleh perwakilan UI, USU, UNSRI, UNPAD, UNIBRAW, RS.FATMAWATI, EIJKMAN UNIV sebanyak 44 peserta.
Pembantu Rektor Bidang Pengembangan dan Kerjasama Undip Prof.Sultana MH Faradz mengemukakan bahwa dengan adanya workshop ini akan semakin memperkaya dan memperdalam keilmuan kita mengenai masalah Genetic."kami berharap bahwa para mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk banyak bertanya pada narasumber karena kesempatan ini sangat langka maka harus dimanfaatkan dengan baik Imbuhnya.
"Dengan adanya pertemuan ini yang diadakan setiap satu tahun sekali maka kami bisa saling sharing mengenai bagaimana mengatasi masalah penyakit genetic " kata Sulthana
Dekan Fakultas Kedokteran Undip dr.Endang Ambarwati,Sp.RM mengatakan bahwa ilmu “genetik yaitu bagaimana informasi kehidupan ini disimpan dan diturunkan dari generasi ke generasi” bagaimana genetik bisa menerangkan perilaku manusia, bahkan lebih jauh sekarang ini para ilmuwan sedang mencoba mencari bagaimana hubungan lingkungan, makanan dan berbagai stessor dari luar berinteraksi dengan genetic dan menentukan Phenotipe serta perilku manusia”ujarnya”
Pembicara dari RadBoud University Belanda Prof. Ben CJ Hamel mengatakan Saat ini mulai sedikit terkuak mengenaik interaksi lingkungan berbagai toksin dengan terjadinya austism.
“Makin terkuak hubungan antara lingkungan genetik dan timbulnya berbagai masalah kangker setelah faktor genetiknya diketahui ada di squence mana dan kromosom ke berapa penyakit itu terjadi. Bahkan mulai diteliti bagaimana untuk terjadinya kanker sudah ada tetapi masih terjadi gene silencing. Mulai dicari faktor-faktor apa yang menyebabkan gene menjadi aktif dan memicu kanker”ujarnya.
“Maka diperlukan penelitian yang mendalam untuk menjaga agar kanker tidak terjadi dan biaya kesehatan tidak membengkak. Hal ini diperkirakan akan terjadi pada 10 tahun mendatang dimana jumlah kaum manula dan kaum yang mampu mencapai usia lanjut bertambah sehingga kita akan menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan aging society. Indonesia dalam pekiraan 10 tahunini akan memacu dan meningkatkan pengetahuan dan pemahamaan diantara para geneticic khususnya para dokter umum “tandasnya. (Ipung Purwanto-Rintu Kaloka /HUMAS)
| < Prev | Next > |
|---|


