SEMARANG, undip.ac.id - Dalam rangka Dies Emas Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang ke 50 th, maka diadakanlah “seminar kewirausahaan dan waralaba” dengan tema “Memacu Kreatifitas Menuju World Class University Melalui Pengembangan Jiwa Kewirausahaan.
Yang Berlandaskan Moral dan Etika” yang bertempat di Ruang Prof. Soemarman Gedung Pasca Sarjana Undip pada Rabu 17 Maret 2010. Yang pada kesempatan itu sesi pertama diisi oleh Irwan Hidayat (Presdir Sidomuncul), Budi Pranoto (Mantan CEO Astra Otopart dan juga alumni FE Undip), Amir Karamoy (Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba Indonesia) dengan moderator Zaini Aboe Amin (Kepala Kantor BI Semarang dan juga alumni FE Undip). Sesi kedua seminar tersebut diisi oleh Dr. (HC) Ir. Ciputra (Pendiri Universitas Ciputra Enterpreneurship Centre) dengan moderator Sigit Pramono (Komisaris Bank BCA & alumni FE Undip).
Hadir pula pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. dr. Susilo Wibowo, MS. Med, Sp. And Rektor Undip, Drs. Kodradi (Direktur Utama BTN dan Dewan Penyantun Undip), Dr. H. M. Chabachib, MSi, Akt (Dekan Fakultas Ekonomi Undip), para dosen FE, para pengajar di tingkat SD, SMP, SMU dan juga 300 mahasiswa Undip, dan masyarakat umum.Sambutan dilakukan oleh Rektor Undip sekaligus membuka acara tersebut. Pada kesempatan itu rector mengatakan bahwa kreatifitas itu dimulai saat seseorang mulai bertanya. “Bertanya mengenai hal-hal baru menjadikan kita berfikir lebih kreatif dan juga proses pembentukan imajinatif”, tuturnya. Dan juga rector menambahkan bahwa inovasi mutlak diperlukan dalam jiwa seorang entrepreneurship. Maka untuk mewujudkan hal tersebut mahasiswa jangan takut berbuat salah.
Pembicara pertama yaitu Budi Pranoto dengan mengambil judul “Pengembangan Usaha Menengah Mandiri Melalui Waralaba”. Ia menerangkan bahwa di Indonesia saat ini pembangunan belum dinikmati oleh masyarakat secara adil dan merata, dan juga terdapatnya ketimpangan ekonomi yang berakibat timbulnya kemiskinan. Maka ia mengatakan “harus diciptakan berbagai kebijakan ekonomi yang berorientasi pada kemampuan atau penguatan (emporing) pengusaha menengah mandiri”. Pada golongan pengusaha menengah mandiri ini dikarenakan modal yang diperlukan relatif kecil dan juga resikonya kecil, mengurangi kecemburuan sosial, dan juga saling menopang antara pengusaha besar dan menengah mandiri.
Kesempatan berikutnya oleh Irwan Hidayat dengan judul “Menumbuhkembangkan Jiwa Kewirausahaan dan Percepatan Transfer Teknologi untuk Membangun Golongan Menengah Mandiri melalui Waralaba”. Untuk membangun jiwa entrepreneurship yang sukses maka yang paling penting dibutuhkan yaitu membangun kepercayaan dan memenangkan hati. “saya membangun kepercayaan dengan para karyawan dengan melakukan hal-hal yang simple, seperti saya mengenakan baju dengan label Sidomuncul, ini saya lakukan untuk membangun kepercayaan di lingkungan saya kerja terhadap para karyawan. Saya pun tidak malu mengenakan seragam Sidomuncul”, ungkapnya. Untuk kegiatan eksternal seperti beriklan Irwan juga mencontohkan bahwa salah satu produknya diiklankan oleh Lula Kamal yang serang dokter. “Dengan memasang Lula Kamal sebagai endorser di iklan jamu Sidomuncul ini memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa produk jamu yang dibuatnya aman untuk dikonsumsi. Dan juga pemasangan public figure yang dicintai masyarakat. Ini bisa memenangkan hati para konsumen”, tambahnya.
Terakhir oleh Amir Karamoy dengan judulnya “ Strategi Membangun Usaha Waralaba Tepat dan Strategi Memilih Waralaba dengan Cermat”. Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2009, ada sebanyak 889 perusahaan pewaralaba yang membentuk sebanyak 42.011 gerai, baik franchised outlets maupun company owned outlets dengan memperkerjakan 1.128.198 tenaga kerja. Dengan perputarannya mencapai Rp. 85,3 trilyun. “Ini menjadikan bahwa waralaba merupakan system bisnis yang telah terbukti berhasil”, ungkapnya.
Amir juga mencontohkan usaha bisnis waralaba seperti rumah makan, café, ritel, pendidikan dan sebagainya, rata-rata lebih stabil dan bila dihitung dalam jangka menengah dan panjang, lebih tinggi daripada bermain di pasar modal.
Pembicara terakhir yaitu Dr. (HC) Ir. Ciputra yang memaparkan tentang “Creating World Class Enterpreneur”. Ciputra menuturkan bahwa moral dan mind set dalam budaya kita saat ini adalah budaya peninggalan jaman kolonial. “penjajahan tersebut yang menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan jiwa enterpreneurnya. Bangsa kita dijajah selama 350 th, ini berakibat pengetahuan dan perekonomian tidak merata dan juga kemampuan entrepreneurship tersebut hilang sama sekali. Ini karena kita dulu dijadikan buruh, tidak diberi kesempatan untuk maju”, ungkapnya.
Jiwa enterpreneurship sangat dibutuhkan sekarang ini, karena sudah banyaknya pengangguran yang ada di Indonesia. Seperti pada kasus banyaknya lulusan sarjana yang membutuhkan lapangan pkerjaan tetapi tidak diimbangi oleh ketersediaan lapangan kerja, jumlah TKI yang dari tahun ke tahun semakin bertambah banyak menunjukkan lapangan pekerjaan yang langka di Indonesia, juga sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui. “Enterpreneurship atau pencipta lapangan kerja adalah sebagai solusi utamanya. Maka seorang entrepreneurship harus mampu menciptakan perubahan yang dramatis dan kreatif atau mampu mengubah yang tidak bernilai menjadi bernilai”, katanya.
| < Prev | Next > |
|---|



