Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) ke 50, Kamis (17/4) di Gedung Prof Sudharto, kampus Undip Tembalang gelar seminar nasional bertajuk "Global Warning". Isu yang mengemuka dalam seminar kali ini adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat jumlah emisi gas rumah aca di atmosfir. Efek gas rumah kaca, berupa akumulasi gas rmah kaca hasil emisi yang memantulkan panas atau energi di atmosfir bumi. Dengan pantulan tersebut, maka bumi mengalami peningkatan temperatur.
Sebagai Keynotespeaker Seminar Nasional kali ini adalah Dadang dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup, dengan menampilkan para pembicara, antara lain Prof Dr Sudharto P Hadi, MS (Kepala Magister Ilmu Lingkungan Undip). Dr Armi Susandi, MT (Konsultan Undip dan KLH, Kepala Prodi Meteorologi ITB), Dr Rizaldi Boer ( Kepala Laboratorium Klimatologi Jurusan Geofisika Meteorologi IPB).
Prof Dr Sudharto, dalam mekalahnya bertemakan "Peran Mahasiswa dan Civitas Akademi Fakultas Teknik Dalam Menyikapi Issue Global Warning" antara lain mengatakan, bahwa pemanasan global telah berdampak pada perubahan ikli global sehingga terjadi penguapan , pembentukan awan dan polahujan serta kecepatan angin yang cukup tinggi.
Kerentanan Indonesia terhadap dampak perubahan iklim tersebut adalah sulitnya melakukan koordinasi berbagai pihak terkait, sebab negara Indonesia terdiri dari 17.500 pulau. Kemudian memiliki garis pantai terpanjang ke -2 di dunia yakni 81.000 kilometer, sebagian besar penduduknya (65 persen) tinggal di wilayah pesisir.
Sementara itu, Dadang dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup, mengatakan, dampak global warning atau perubahan iklim ini sangat mengancam kehidupan manusia di bumi ini. Diantaranya, di pertengahan abad, rata-rata run off sungai dan ketesediaan air diproyeksikan akan meningka 10 - 40 persen di daerah lintang tinggi dan dibeberapa wilayah tropis basah dan akan menurun sekiar 10 - 30 persen di wilayah daerah lintang menengah dan daerah tropis kering.
Yang lebih mengkawatirkan lagi adalah 20 -30 persen spesies tumbuhan dan hewan akan musnah akibat kenaikan temperatur global ini. Di Jawa Tengah sendiri dampak pemanasan global ini tampak sekali dengan adanya fenomena rob (penggenangan areal pesisir selama spiring tide. Di wilayah Kabupaten Demak misalnya, akibat pemanasan global ini sejak tahun 1995 berdampak lebih dari 650 hektar di enam desa yakni Sriwulan, Bedono, Timbul Seloka, Surodadi, Babadan dan Beran Wetan telah hancur.
Kemudian, dampak pemanasan global terhadap kesehatan manusia, antara lain resiko penularan penyakit tular vektor seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria meningkat tajam. Peningkatan jumlah penderita elergi dan asma secara signifikan. Belum lagi dampak serius di sektor pertanian, dimana di Jawa dan Bali ini semakiin pendeknya musim hujan (MH), sehingga mempersulit upaya peningkatan indek penanaman apabila tidk ada varietas yang berumur lebih pendek, rehabilitasi dan pengembangan jaringan irigasi yang ada.
Pada musim hujan, akan terjadi peningkatan hujan dan menambah lama musim pertanaman, sehingga indek penanaman pertu ditingkatkan. Untuk menjawab tantangan demi tantangan diatas, maka mulai sekarang perlu adanya sosialisasi masalah tersebut ke masyarakat luas. Kemudian, prioritas lain adalah perlu dikembangkan pelatihan, pendidikan, diseminasi informasi dan pemberdayaan masyarakat, peningkatan kesejahteraan.
| < Prev | Next > |
|---|



