Tiga Indikator Keberhasilan KKN UNDIP

Tiga Indikator Keberhasilan KKN UNDIP

Mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi tentu membawa tantangan tersendiri bagi mahasiswa peserta KKN. Demikian halnya dengan mahasiswa KKN Tim 1 Kabupaten Jepara yang ditempatkan di desa-desa lokasi KKN yang tersebar di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Jepara, Kecamatan Kedung dan Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Selama 45 hari mereka tinggal di rumah penduduk dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Pada awal diterjunkan, mereka melakukan observasi dan mengidentifikasi kondisi lapangan untuk mengetahui hal apa saja yang dapat mereka lakukan selama tinggal di sana. Berdasarkan hasil observasi inilah, mereka membuat program kerja untuk diimplementasikan selama masa KKN. Disinilah tantangannya, bagaimana mereka mewujudkan program kerja tersebut, mengajak penduduk untuk berpartisipasi dan pada akhirnya penduduk setempat merasakan manfaatnya dari program kerja yang disusun. Secara umum, tolok ukur keberhasilan kegiatan KKN adalah apabila masyarakat setempat merasa terbantu dengan kehadiran mereka.

Dalam kunjungan untuk Monitoring dan Evaluasi tim 1 KKN Undip Kabupaten Jepara, Rabu pagi (5/2/2020), Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Budi Setiyono, S.Sos., M.Pol.Admin., Ph.D menyampaikan tentang tiga indikator mikro sebagai tolok ukur berhasil tidaknya kegiatan KKN mahasiswa. Diantaranya, mahasiswa yang melaksanakan KKN mengenal dengan baik sekurangnya 10 orang penduduk desa. Seperti mengenal nama mereka dan pekerjaan sehari-hari. Indikator kedua, memahami kondisi lingkungan setempat.

“Mengerti dan paham betul tentang apa yang menjadi problem masyarakat. Setidaknya menemukan 5 hingga 6 persoalan dan mampu menyusun dalam skala prioritas. Misalnya, apakah penyakit yang diderita penduduk desa setempat, bagaimana kondisi infrastruktur di desa, dan sebagainya yang menyebabkan penduduk desa kurang sejahtera”, jelas Prof Budi dalam sambutannya.

Selanjutnya Prof Budi menjelaskan tentang  indikator ketiga untuk mengukur keberhasilan program KKN yaitu apakah mahasiswa KKN memiliki sesuatu yang bisa ditawarkan, diaplikasikan atau dikerjasamakan dengan penduduk setempat untuk mengurangi persoalan yang dihadapi penduduk di lokasi KKN. Bila program yang ditawarkan tidak dapat diselesaikan atau tidak bisa diimplementasikan selama masa KKN (program jangka panjang), Prof Budi ingin menggugah hati nurani mahasiswa KKN dengan berpesan kepada mereka agar kembali lagi ke lokasi KKN di masa mendatang.

“Jika tidak bisa diselesaikan selama masa KKN, suatu hari nanti, kalian harus kembali ke desa ini. Mungkin 10 tahun lagi harus kembali ke desa ini untuk menolong mereka lagi”, pesan Prof Budi.

Tim 1 KKN Undip Kabupaten Jepara dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi yang bertempat di Pendopo Kecamatan Kalinyamatan, menyampaikan telah melaksanakan seluruh program kerja yang mereka susun. Tim KKN Kecamatan Kalinyamatan, yang ditempatkan di 10 desa, masing-masing desa memiliki program kerja. Diantara program kerja desa, ada beberapa program kerja unggulan. Seperti mengaplikasikan manajemen sampah Desa Margoyoso, pembuatan ecobrick oleh siswa-siswa Sekolah Dasar dengan memanfaatkan limbah kain potong sisa konveksi hingga memperkenalkan alat pendeteksi kesuburan tanah dengan menggunakan lampu bohlam di desa Purwogondo.

 

Sedangkan tim KKN Kecamatan Jepara yang ditempatkan di 10 desa, memiliki program unggulan desa antara lain pembuatan vertikultur yaitu teknik bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan sempit. Pembuatan hand sanitizer dari lidah buaya, pembuatan sabun cuci pakaian dengan memanfaatkan limbah minyak jelantah dan pembuatan tong sampah ecobrick sebagai solusi mengurangi sampah plastik.

Sementara itu tim KKN Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara juga memiliki sejumlah program unggulan di desa-desa di mana mereka ditempatkan. Seperti pemberdayaan kelompok Petani Garam melalui program Rumah Garam Prisma untuk meningkatkan hasil produksi garam desa. Pembuatan keripik mangrove ‘Kampoeng Kali’ sebagai branding Desa Kalianyar. Desain agrowisata persawahan Desa Karangaji sebagai referensi desain bagi perangkat desa untuk pembangunan desa jangka panjang, hingga pelatihan untuk remaja-remaja Karang Taruna Desa Sowan Kidul membuat lampu emergency sederhana yang sumber dayanya dari baterai 1,5 volt, 3,7 volt atau dari power bank.


Statistik