RSND Adakan Sarasehan dan Komitmen Lintas Sektoral Waspada Demam Berdarah

RSND Adakan Sarasehan dan Komitmen Lintas Sektoral Waspada Demam Berdarah

Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Mengadakan Sarasehan dan Komitmen Lintas Sektoral Waspada Demam Berdarah Selasa (18/7) di Aula Laboratorium Sentral Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND),  dihadiri 55 tamu undangan yang berasal dari kader kesehatan, kepala kelurahan, camat, kepala puskesmas, Dinas Kesehatan Kota Semarang, dan Rumah Sakit Nasional Diponegoro sebagai penyelenggara. Menurut Ketua Pelaksana, dr.Mulyono, Sp.A, kegiatan ini bertujuan untuk menggali faktor apa saja yang menjadi hambatan dalam pemberantasan demam berdarah di Kota Semarang, mengenali secara dini kegawatan pasien demam berdarah, dan mengetahui kapan harus merujuk agar kematian akibat demam berdarah dapat dicegah.

Direktur Rumah Sakit Nasional Diponegoro Prof.DR.dr.Susilo Wibowo, MS.Med, Sp.And, mengatakan bahwa perang terhadap nyamuk telah berlangsung sejak zaman dahulu. Indonesia sebagai negara tropis menjadi tempat yang ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak. Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit demam berdarah dapat terbang dalam radius 150 meter, bahkan dapat mencapai 40 km akibat pengaruh angin. Beliau juga menggarisbawahi bahwa pemberantasan nyamuk dengan obat nyamuk semprot di rumah tangga memiliki risiko. Kandungan insektisida di dalam obat nyamuk, seperti transfulthrin, pada penggunaan jangka panjang dapat mempengaruhi pertumbuhan testis dan mempengaruhi kesuburan. Beliau menganjurkan agar pemberantasan demam berdarah lebih menekankan terhadap aspek pencegahan seperti gerakan 3 M (mengubur, menguras, menutup) plus menggunakan kelambu, repellent, menanam tumbuhan penghalau nyamuk seperti sereh.

Kader kesehatan dari Kelurahan Bulusan Maryanti mengungkapkan, bahwa pelaksanaan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) di perkotaan menemui kendala akses terutama di kos-kosan. Penjaga kos tidak memiliki wewenang untuk memberikan ijin kepada petugas kesehatan untuk memeriksa rumah karena pemilik kos berada di luar kota. Saat pemeriksaan, penghuni kos tidak berada di tempat. Hal ini menyulitkan pemantauan bak penampung air di kamar atau rumah kos tersebut. Beliau juga mengusulkan agar Universitas Diponegoro memberikan pengarahan kepada mahasiswa untuk ikut menjadi pemantau jentik di rumah dan kos masing-masing. Langkah lain yang telah dilaksanakan di Kelurahan Bulusan dalam memerangi demam berdarah adalah mengaktifkan Sicentik (siswa pemantau jentik) bekerjasama dengan sekolah, memberikan denda kepada rumah yang terdapat jentik, memberikan laporan kepada DKK bila ditemukan kasus DB agar segera dilakukan penyelidikan epidemiologi. Kader juga berharap agar pemerintah dapat memberikan insentif sebagai wujud perhatian kepada kader dalam menjalankan tugasnya.

Kepala Kelurahan Sumurboto Ibu Komara Yuni, S.IP, menjelaskan bahwa langkah represif, seperti melibatkan Babhinkamtibmas,  kadang harus ditempuh ketika turun lapangan melakukan PSN. Sebagai wujud tanggung jawab pemerintahan, apabila ditemukan kasus DBD di wilayahnya, lurah harus segera melaporkan kejadian tersebut kepada unit kesehatan terdekat. Sebagai upaya preventif, telah dilakukan gerakan pemantauan jentik nyamuk setiap hari Rabu dan Gerakan Jum’at Bersih. Beliau juga menghimbau agar upaya PSN lebih didahulukan daripada fogging. PSN lebih bermanfaat karena dilakukan pada masyarakat sehat, murah, efektif, mudah dilakukan, dan membina sikap gotong royong. Sedangkan fogging dikerjakan setelah ditemukan orang sakit demam berdarah, lebih mahal, hanya memberantas nyamuk dewasa, polusi udara, buruk bagi kesehatan manusia, dan harus memenuhi syarat tertentu seperti jumlah minimal ditemukannya penderita.

Dr.Nahwa Arkhaesi, Msi.Med, Sp.A dalam pemaparannya menyebutkan klinis penderita demam berdarah adalah demam tinggi mendadak selama 2-7 hari, adanya perdarahan spontan (mimisan, gusi berdarah, bintik merah di kulit) atau diprovokasi, pembesaran hati, tanda syok (kaki tangan dingin, nadi kecil dan cepat), serta dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan penurunan jumlah trombosit dan peningkatan hematokrit. Yang harus diwaspadai adalah apabila penderita menunjukkan tanda peringatan (warning sign) seperti nyeri kepala, lemah, mual muntah, nyeri otot, perdarahan, maka harus segera dibawa periksa ke fasilitas layanan kesehatan. Fase kritis berlangsung pada hari ke-4 sampai ke-5, ditandai dengan suhu tubuh turun, jumlah trombosit turun, dan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit). Dalam fase ini penderita dapat jatuh dalam kondisi syok. Maka sangat penting bagi orang tua untuk mengenali secara dini tanda kegawatan pada penderita demam berdarah dengue, dan segera membawa penderita ke fasilitas layanan kesehatan.

Dani Miarso, SKM.M.Kes, dari Dinas Kesehatan Kota Semarang menyebutkan bahwa Kecamatan Tembalang memiliki incidence rate (30,8 %) penderita DBD hingga Juni 2017, tertinggi diantara kecamatan se-Kota Semarang. Hal ini merupakan anomali karena di Kecamatan Tembalang terdapat hampir 8 insitusi pendidikan kesehatan. Beliau juga menuntut komitmen institusi pendidikan kesehatan untuk ikut membantu memerangi demam berdarah.

Acara dilanjutkan dengan tanya jawab dan diakhiri dengan penandatanganan lembar komitmen bersama untuk memberantas demam berdarah.

(Kontibutor:dr.Mulyono, Sp.A/Asta)


Statistik

NEWS
HASIL KLASTERISASI PERGURUAN TINGGI INDONESIA TAHUN 2017, UNDIP RANGKING 6