Dosen Undip Berdayakan Masyarakat Pesisir dalam Produksi Kosmetik Berbahan Mangrove

Dosen Undip Berdayakan Masyarakat Pesisir dalam Produksi Kosmetik Berbahan Mangrove

Desa Kaliprau merupakan salah satu desa yang terletak di Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Ekologi bahari yang terdapat di desa ini antara lain berupa pohon mangrove (bakau) jenis Rhizopora sp yang ditanam berjajar rapi sepanjang jalan. Sayangnya, hutan mangrove yang melimpah di Desa Kaliprau masih belum dimanfaatkan dengan baik. Mangrove hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar dan pakan ternak semata. Masyarakat Kaliprau telah merintis pengolahan mangrove jenis ini menjadi berbagai olahan pangan, seperti bolu, kue kering dan aneka olahan pangan lainnya. Namun, tanpa disadari oleh warga, mangrove Rhizopora ternyata memiliki senyawa yang berbahaya bagi manusia. “Selama ini kami telah mengolah mangrove menjadi olahan makanan seperti bolu, namun kami tidak tahu kalau ternyata mangrove yang kami gunakan ternyata mengandung zat berbahaya” tutur Daryati, ketua UMKM pengolahan mangrove. Mangrove Rhizopora memiliki kandungan tanin dan sianida yang cukup tinggi, sehingga beracun apabila diolah dengan cara yang kurang tepat.

Tanin merupakan senyawa kimia yang mampu menghambat/mengikat zat nutrisi, sehingga tidak dapat diserap oleh tubuh. Pada jumlah kecil, senyawa tanin sebenarnya tidak terlalu berbahaya, seperti yang tedapat pada teh. Namun, tanin yang terkandung dalam mangrove Rhizopora memiliki kadar yang sangat tinggi. Bahkan, melalui pengolahan yang telah dilakukan masyarakat selama ini masih belum bisa mengurangi kadar tanin dalam jumlah aman konsumsi. Sedangkan senyawa asam Sianida (HCN) merupakan senyawa yang dapat mengikat Oksigen dalam darah sehingga paru-paru dan jantung menerima dampak yang paling fatal sehingga dapat menyebabkan kematian. Dibalik itu semua, tentu ada manfaat tersembunyi dari Rhizopora yang dapat diolah menjadi produk olahan lainnya.

Kandungan tanin lebih tepat digunakan sebagai olahan non pangan. Produk yang ditawarkan berupa lulur, lotion, sabun cair, saleb, minyak aromaterapi, pewarna mangrove, dan pupuk dari mangrove. Dalam upaya penjagaan agar produk olahan mangrove ini dapat terus berkembang, Fahmi Arifan ST, M.Eng membentuk tim KKN untuk memberdayakan masyarakat Desa Kaliprau dalam memanfaatkan potensi mangrove. Tim KKN mengusung program unggulan Program Olahan Mangrove Kaliprau (PROMANGKA). Tim KKN dengan koordinator program Rizky Aji, melakukan kaderisasi terhadap beberapa warga yang diharapkan dapat menjadi stakeholder dalam pembuatan olahan PROMANGKA. Selain memberikan pelatihan kepada calon stakeholder olahan PROMANGKA yang merupakan anggota UMKM setempat, sosialisasi juga dilakukan terhadap ibu-ibu PKK. Upaya tersebut dilakukan agar warga setempat dapat meningkatkan perekonomian.

Pemberian materi pemasaran juga dilakukan oleh mahasiswa KKN agar produk olahan dapat berkelanjutan dari segi pemasarannya. Dalam mendukung kestabilan pemasaran serta menarik minat pembeli, tim KKN Tematik UNDIP juga mengajarkan cara pengemasan dan pelabelan produk. Olahan PROMANGKA juga telah melalui uji laboratorium dan telah terbukti aman secara dermatologi. “Produk ini dapat menjadi nilai tambah bagi masyarakat. Produknya sendiri saat telah melalui uji irirtasi dan akan terus kami dampingi agar bernilai jual dan diminati konsumen”, kata Fahmi, yang merupakan dosen Teknik Kimia UNDIP dan juga sekretaris pusat pelayanan KKN LPPM UNDIP.


Statistik