Pemerhati Sastra Masih Fokus Sastra Lisan dan Tulis

Pemerhati Sastra Masih Fokus Sastra Lisan dan Tulis

Category : Beranda , Berita

Selama ini para peneliti dan pemerhati sastra hanya mengambil fokus pada sastra lisan dan tulis meskipun dalam era digital ini telah hadir sastra virtual dan elektornik. Untuk menyingkapi sastra elektronik saja baru dimulai. Kini malah hadir jenis campuran karya sastra dari ketiga jenis tersebut. Karya campuran (lisan,tulis dan elektronik) ini lazim disebut dengan sastra hibrida. Dalam menghadapi persoalan sastra elektronik dengan hibridanya itu tentu saja diperlukan pendekatan teori dan metodologi penelitian yang spesifik. Oleh karena itu persoalan tersebut sangat perlu dikaji secara mendalam oleh ahli sastra dan pemerhati sastra, pengajar sastra, dan pembelajar sastra hal itu disampaikan oleh Dekan FIB Undip  Dr. Redyanto Noor, M.HUM saat membuka acara Seminar Internasional “Mengurai Persoalan Sastra Hibrida” yang diselenggarakan oleh Program Magister susastra Fakultas Ilmu Budaya Undip, Rabu,(15/11) di Hotel Kesambi Semarang.

Redyanto mengatakan bahawa pada awal abad XXI perkembangan penulisan sastra telah jauh meninggalkan teori dan kritik sastra. Para penilti dan kritikus sastra semakin kesulitan melakukan kajian terhadap sastra modern yang kuantitas dan variabelnya berkembang amat cepat. Walaupun teori dan kritik sastra modern telah ada dan dipelajari oleh para pemerhati sastra sejak awal abad XX tetapi pengenalan dan penerapannya dimulai pada tahun 1950-an sejalan dengan dibukanya program ilmu sastra di beberapa perguruan tinggi,” ujarnya.

“Persoalan utama yang dikaji dalam seminar ini adalah fenomena lahirnya sastra hibrida, karakteristik dan batasan sastra hibrida, pendekatan dan teori sastra yang sesuai untuk mengkajinya serta metodologi yang sesuai untuk menghadapi persoalan sastra hibrida dalam penelitian ilmiah yang berkualitas.

Hadir sebagai narasumber dalam seminar itu Prof.Dr.Sapardi Djoko Damono ( UI) , Dr.Aprinus Salam,M.Hum (UGM), Jonathan Moore,MA (Easten Illinois University) dan Prof.Dr.Surasak Khamkhong (Ubon Ratchathani University).

Dalam paparannya Prof.Sapardi mengatakan dalam bahasa Indonesia hibriditas setidaknya memiliki dua padanan kata, yakni ‘blasteran’ dan ‘indo’. Kedua kata itu biasanya kita kenakan pada orang, tetapi dalam pembicaraan ringkas ini akan saya kaitkan dengan sastra. Dalam KBBI daring, ‘blasteran’ berarti ‘hasil perkawinan campuran dari dua jenis yang berbeda; hasil perkawinan silang. Dalam percakapan berarti juga peranakan – bukan keturunan asli’. Kata ‘indo’ tidak kedapatan dalam kamus tersebut. Contoh yang sering dipakai untuk menjelaskan konsep hibriditas adalah kata ‘dwifungsi’ – kata yang berasal dari dua bahasa yang berbeda, dwi (Sansekerta) dan fungsi (Inggris, Belanda),” ungkapnya.

“Di zaman yang semakin terbuka terhadap segala sesuatu yang berasal dari mana saja, hibriditas alhmadulillah semakin berkembang dalam semua segi kehidupan kita. Dalam New Oxford Amarican Dictionary, hybrid adalah a thing made by combining two different elements; a mixture. Bidang biologi atau ilmu tumbuh-tumbuhan menyebutkan bahwa tanaman hibrida, hasil kawin silang antara dua spesies, memiliki ciri dan kualitas yang lebih baik dari jika masing-masing tumbuhan tidak mengalami kawin silang. Itu sebabnya kita sengaja menciptakan tanaman hibrida meniru proses yang membentuk tanaman dan binatang hibrida di alam bebas. Dan tentu itu juga sebabnya orang yang digolongkan sebagai indo memiliki sejumlah ciri fisik dan kualitas pemikiran yang tidak jarang mengungguli yang bukan indo.

Lebih jauh Prof. Sapardi mengatakan bahwa konsep hibrida yang semakin meluas cakupannya itu kali ini kita kaitkan dengan kesusastraan, menyangkut hubungan-hubungan yang ada antara penciptaan dan pencipta serta pembaca dan pembacaan karya sastra. Dalam pengertian ini hibrida menyangkut sastrawan dan karya sastra, yang tentunya juga mencakup proses penciptaannya. Perkembangan bahasa yang sangat cepat menyebabkan munculnya sejumlah besar kata yang dengan sengaja diciptakan, yang bisa dipakai untuk menjelaskan konsep hibriditas. ‘Kids jaman now’ sering sekali terdengar tidak hanya di kalangan orang-orang muda yang memang semakin menyukai segala sesuatu yang campur-aduk, tetapi juga mulai masuk ke dalam kesadaran siapa pun yang menggunakan bahasa tanpa merasa harus sepenuhnya tunduk pada tatanan bahasa yang ‘baik dan benar’ – atau bahkan bisa dengan aman boleh dikatakan bahwa proses yang demikian itu adalah bagian terciptanya bahasa yang ‘baik dan benar’.

“Frasa ‘anak zaman sekarang’ rupanya tidak lagi bisa memuaskan (mula-mula) atau setidaknya sudah dianggap lecek oleh anak-anak muda dan untuk menjadikannya terdengar keren dimunculkanlah frasa ‘kids jaman now’ – campuran antara bahasa Inggris dan Arab. Kita tahu tentunya bahwa hampir semua kata dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain juga berasal dari bahasa asing. Itu sebabnya juga bahasa Indonesia, yang menyerap kata dari begitu banyak bahasa (asing dan daerah), berkembang sangat cepat – meskipun hasil perkembangan itu tidak terekam dalam kamus kita yang saya anggap tidak cekatan merekamnya antara lain karena disusun berdasarkan prinsip ‘baik dan benar’ yang jelas memblokir konsep keragaman dalam penulisan dan pengucapan,” pungkasnya.


Statistik