Teater Diponegoro dan Teater Wadas UIN Walisongo Pentas Bersama di Undip

Teater Diponegoro dan Teater Wadas UIN Walisongo Pentas Bersama di Undip

Category : Beranda , Berita , Events

Panggung tampak gelap kemudian perlahan temaram, terlihat properti seperti taman dengan bunga-bunga berwarna-warni berjajar rapi, tiba-tiba terdengar suara seseorang tertawa keras dari balik panggung dan berjalan sempoyongan memasuki panggung dengan membawa keranjang kecil berisi anggur.

Sedikit gambaran tersebut merupakan adegan awal pentas bersama Teater Diponegoro Undip dengan Teater Wadas UIN Walisongo  dalam lakon yang berjudul “Apakah  Penyair Itu” di Rusunawa Universitas Diponegoro, Rabu (15/11).

Naskah teater ini menggambaran kehidupan seorang penyair dengan puisi-puisi yang ditulisannya, dimana ada seorang Gadis yang menaruh hati pada penyair, sayang sekali ternyata itu hanyalah  sebuah puisi yang dibuat penyair kepada setiap orang yang ditemuinya. Gadis merasa sangat sakit hati, hingga ia pun menggatakan semua penyair adalah pendusta dan tidak akan pernah lagi mencintai penyair. Yang menarik dalam pementasan ini adalah ada salah satu adegan dimana tokoh menyelipkan dialog dengan logat kental khas Banyumas.

Menurut Anastasia, selaku sutradara teater mengatakan naskah tersebut merupakan sebuah puisi yang  dicoba divisualisasikan di panggung pertunjukan. “Tidak ada kesulitan dalam menggarap naskah ini sebab naskah cukup singkat sedangkan pengemasannya beraliran campuran antara realis dan surealis” ujarnya. “Untuk tokohnya, ada tiga tokoh, yakni penyair I sebagai pemeran utama, penyair II dengan karakteristik dingin, lugas apa adanya dan Gadis dengan karakteristik perasa dan sedikit manja” lanjutnya.

Sedangkan Mulyo HP, selaku Pembina Teater Diponegoro, berharap iklim kesenian di perguruan tinggi mesti ditingkatkan lagi.  “Tidak harus ikut  UKM teater untuk bisa disebut pecinta seni sejati, tapi dengan turut mengapresiasi dan mendukung kegiatan-kegiatan kesenian, seperti misalnya nonton teater atau mengikuti diskusi seni semacam ini tentunya sudah turut mewakili kecintaan kita pada seni, sastra dan teater” tuturnya. “Memang tidak dipungkiri bahwa kegiatan berkesenian seperti teater masih minim mendapat perhatian masyarakat, tapi tidak berarti karya berhenti, proses  berkesenian harus terus berjalan sebab hidup tanpa seni rasanya tidak indah” ujarnya.


Statistik

 
NEWS