Site icon Universitas Diponegoro

Kepala BNPT Bekali Bahaya Radikalisme Pada Pelantikan Ormawa Undip 2019

Kepala Badan Nasional Pemberantasan Teroris Komjen Pol Suhardi Alius memberikan pembekalan kepada Organisasi Mahasiswa Undip 2019 tentang bahaya radikalisme dan terorisme, (Rabu, 20/2) di Gedung Prof. Soedharto Undip Tembalang. Acara tersebut serangkaian dengan pelantikan Ormawa Undip 2019. Sejumlah 69 orang  peserta terdiri dari BEM fakultas dan universitas serta 44 UKM yang ada di Undip resmi dilantik oleh Rektor Undip Prof. Yos Johan Utama. Hadir dalam acara tersebut jajaran pejabat dilingkungan BNPT dan Undip serta Civitas Akademika Undip.

Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum menyampaikan selamat kepada Mahasiswa Undip yang terpilih menjadi ketua dari seluruh organisasi mahasiswa yang ada di Undip. Rektor menyampaikan bahwa memang sudah seharusnya kita bersyukur dengan apa yang ada saat ini. Karena di dunia khususnya di Indonesia sangat banyak contoh radikalisme ataupun paparan radikal yang memang sudah menjamur di masyarakat.

Berkaitan dengan masalah radikalisme yang sudah menjamur di indonesia ini, juga disampaikan bahwa permasalahan yang ada di masyarakat sekarang adalah juga integritas dari masyarakat yang sangat kurang. Mahasiswa juga diharapkan mampu berhati hati dengan segala sesuatu hal yang berkaitan dengan upaya memecah masyarakat. Kunci menjadi seorang mahasiswa yang baik adalah dengan membentuk integritas dan jiwa ksatria, hal yan berkaitan dengan ilmu pengetahuan adalah selanjutnya.

“ Hal yang berkaitan dengan ilmu adalah nomor kesekian, yang terpenting adalah jiwa integritas dan jiwa ksatria yang dibangun didalam diri mahasiswa, itu yang paling penting.” Tutur Prof. Yos

Acara kemudian memasuki pemaparan oleh Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius. Di awal pembekalan, Kepala BNPT mengingatkan akan sejarah pembangunan dan pentingnya ideologi sebagai upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan negara.

“Negara kita ini dibangun dengan ideologi, dan para pahlawan sulit sekali memperjuangkan kemerdekaan kita. Sekarang tugas kita untuk mempertahankannya, tugas kita semua sebagai penerus bangsa,” ujar Kepala BNPT.

Memegang teguh nasionalisme, tidak melupakan sejarah serta memupuk nilai dan kearifan lokal dalam diri menurut Kepala BNPT dapat membekali generasi muda dalam menghadapi globalisasi dan kemajuan teknologi. Hal ini penting dipahami ketika globalisasi dan kemajuan teknologi tidak hanya meningkatkan daya saing profesi, melainkan ada hal-hal negatif di antaranya penyebaran paham-paham menyimpang seperti radikalisme dan terorisme dalam dunia maya.

“Kita bisa betah sekali menghabiskan waktu di depan gadget dan menggunakan internet. Awas, kelompok radikal dan teroris menggunakan internet sebagai medianya. Kalau pegangan kalian terhadap kearifan lokal, sejarah dan nasionalisme kuat, kalian memiliki daya tahan,” ujar mantan Sestamma Lemhannas.

Lebih lanjut, Kepala BNPT juga menjelaskan ciri dan identifikasi radikalisme yang dapat dirasakan di sekeliling lingkungan sosial, utamanya di tengah lingkungan akademik.

“Radikalisme negatif itu meliputi intoleransi, anti NKRI, anti Pancasila dan pemahaman nilai-nilai takfiri. Kalau ada pegawai, pengajar yang mengancam kalian dengan ideologi menyimpang tertentu, ada teman yang perilakunya berubah drastis, jangan permisif, salah ya ditegur, sebelum jadi kultur,” ujar Komjen Pol Suhardi Alius.

Kepala BNPT berharap agar para dekan dan dosen selalu memonitoring secara teliti kegiatan- kegiatan dan dinamika mahasiswa, serta tidak bosan memberikan pembekalan secara moderat kepada mahasiswa baru maupun lama akan pentingnya wawasan kebangsaan.

Share this :
Exit mobile version