SEMARANG – Program Studi (Prodi) Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNDIP bertekad bisa meraih predikat unggul, meski usia program studi ini belum genap sepuluh tahun. Pengelola program studi kini tengah menyiapkan persyaratan yang diperlukan untuk dimintakan akreditasi baru di tahun 2021.

Ketua Prodi Antropologi Sosial FIB UNDIP, Dr Amirudin, menyatakan tekad meraih predikat unggul baik secara administratif, teknis maupun akademis terus dimantapkan agar pada evaluasi status Prodi tahun 2021 nanti bisa mencapai hasil yang maksimal. “Harapannya, dari status yang sekarang kita bisa langsung meraih predikat unggul,” kata Amirudin, Rabu (14/10/2020).

Menurut Amir yang pernah menjadi Ketua KPID Jawa Tengah dan komisioner di KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Pusat, jajaran Prodi Antropologi Sosial UNDIP merasa terdorong untuk memperbaiki status akreditasinya melihat pesatnya minat masuk Prodi Antropologi Sosial UNDIP. Dilihat dari jumlah calon mahasiswa yang mendaftar, prodi ini berada di papan tengah di antara prodi-prodi yang ada di Universitas Diponegoro. “Rasio peminat dengan kursi yang tersedia sekitar satu banding enam belas,” tambah dia.

Prodi Antropologi Sosial UNDIP berdiri tahun 2014, dan merupakan program studi termuda di Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Berawal dengan 20 mahasiswa di angkatan pertama, setiap tahunnya terjadi penambahan kuota. Di tahun 2020 dari sekitar dua ribu lima ratus pendaftar, sebanyak 150 mahasiswa yang diterima belajar di sini.

Naiknya jumlah mahasiswa dimungkinkan karena jumlah dosennya masih sangat memadai. Tentu saja, kata doktor antropologi lulusan Universitas Indonesia ini, juga ditunjang dengan sarana dan prasarana belajar yang memadai. Dukungan dan komitmen universitas untuk menyediakan kebutuhan dan pengembangan termasuk laboratorium juga membuat program studi ini berkembang pesat.

Tenaga pengajarnya sebagian besar sudah bergelar doktor, bahkan dua di antaranya sudah bergelar profesor, yaitu Prof Dr Mudjahirin Thohir MA dan Prof Dr Nurdien H Kristanto MA PhD. Selain tenaga pengajar yang memadai, tersedia laboratorium etno fotografi dan etno audiovisual yang kini giat mendokumentasikan kekayaan kebudayaan nasional.

Saat ini jumlah orang yang belajar di Program Sarjana Antropologi Sosial FIB UNDIP tak kurang dari 400 mahasiswa. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Prodi ini juga sudah meluluskan sekitar 40 mahasiswa dengan gelar Sarjana Ilmu Sosial (SSos). Perlu diketahui, universitas negeri yang memiliki Prodi Antropologi Sosial cukup banyak, tak kurang dari 12 universitas yang memiliki program ini, di antaranya Universitas Indonesia, UGM, Unair, Unpad, Universitas Udayana, Unhas Makassar, Universitas Kendari dan Universitas Andalas Padang.

Mengenai tingginya minat masuk ke Prodi Antropologi Sosial, Amirudin menyebutkan bahwa kebutuhan sarjana antropologi sosial memang sangat tinggi dengan adanya Undang-Undang Nomer 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Berlakunya undang-undang pemajuan kebudayaan berimplikasi munculnya kebutuan akan profesi pamong budaya di setiap wilayah pemerintahan daerah, bahkan muncul kebutuhan antropolog sosial untuk mengisi pos-pos di kantor-kantor kedutaan Indonesia.

“Peluang dan prospeknya masih terbuka dan sangat bagus. Karena itu, kami berupaya menjadi penyelenggara Program Antropologi Budaya yang unggul, karena penyelenggara Prodi ini cukup banyak. Yang pasti Undip fokus pada kebudayaan manusia modern, bukan yang klasik,”tukasnya.