Pembahasan ketahanan pangan oleh salah satu narasumber

Covid-19 telah membawa banyak dampak dalam kehidupan masyarakat dunia, tidak terkecuali sektor pertanian. Ketahanan pangan antar negara menjadi kaca karena proses pemasaran menjadi terganggu. Berdasarkan kondisi tersebut, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro berinisiatif menyelenggarakan international conference yang bertajuk “Reframing Food Sovereignty After Covid 19”. Webinar ini selain untuk memikirkan bagaimana kondisi ketahanan pangan dunia setelah terjadinya pandemi juga mendukung untuk peningkatan pemahaman mengenai 4 tujuan SDS’s, yaitu terkait zero hunger, good health and wellbeing, climate change, dan life on land.

Webinar yang dilakukan secara virtual melalui aplikasi zoom ini dilakukan pada hari Selasa, 20 Oktober 2020. Kegiatan yang diikuti oleh 500 peserta ini berasal dari seluruh wilayah di Indonesia, bahkan terjauh berasal dari Turki. Mulai dari jam 08.30 hingga pukul 16.30, seluruh peserta menyimak kondisi dan solusi yang dipaparkan oleh 4 pembicara yang berasal dari Australia, Thailand, Filipina, dan Indonesia. Masing-masing adalah Prof. Peter J. Batt, Ass. Prof. Dr. Patthra Pason, Jonatahan Vergara Sabiniano, M.Sc, dan Prof. Anang M. Legowo.

Dibuka oleh Dr. Ir. Bamabng Waluyo H. E. P., M.S., M.Agr., IPU selaku Dekan Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro beliau menyampaikan bahwa acara ini adalah upaya bersama multi stakeholder untuk mendefinisikan ulang apa arti ketahanan pangan setelah adanya pandemi. Dalam sambutannya, beliau juga mengindikasikan bahwa langkah besar ini tidak hanya menjadi tanggung jawab peemrintah atau petani saja, namun juga konsumen, aktivis, dan swasta. Perusahaan mulai dari hulu hingga hilir juga harus mengambil peran karena ini adalah kerja Bersama, mulai penyediaan input, produksi, pasca panen, hingga pemasarannya.

 Prof. Peter J. Batt dari Curtin University mengemukakan bahwa pandemi telah merubah selera dan gaya hidup konsumen. Hal ini justru menjadi peluang untuk peningkatan kesadaran petani sebagai produsen mengenai isu kesehatan, lingkungan, dan keamanan pangan. Ditambahkan oleh Jonathan V. Sabiniano, M.Sc dari Department of Agriculture in the Philippines bahwa covid-19 telah membawa perubahan pada distribusi produk peternakan di Filipina. Utamanya terkait tentang karantina wilayah, kebijakan, dan pembentukan tim khusus yang menangani pangan di level regional dan nasional.

Di lain sisi, Pason Patthra dari King Mongkut’s University of Technology menegaskan bahwa ketahanan pangan bisa tercapai jika telah tercipta sistem pertanian modern yang memanfaatkan penggunaan mikroba agar lebih ramah lingkungan. Terakhir, Prof. Anang M. Legowo dari Diponegoro University memaparkan selain produk pangan dan peternakan, sektor buah-buahan juga perlu mendapat perhatian khusus. Covid-19 telah menyebabkan kesadaran akan pentingnya konsumsi buah. Hal ini bias menjadi peluang untuk menciptakan kebijakan produksi, pemasaran, pasca panen, hingga upaya konsumsi buah lokal.

Di akhir acara, Dr. Siwi Gayatri selaku ketua penyelenggara menyampaikan bahwa semua pemikiran ini akan tercapai ketika ada kerjasama dari beragam disiplin ilmu, baik ilmu alam maupun sosial. Acara ini juga menjadi wahana untuk memikirkan nasib ketahanan pangan kedepan, utamanya di Indonesia. Sebuah peluang antara peneliti dari pemerintah, akademisi, petani, dan perusahaan untuk saling bertukar pemikiran agar menukan solusi yang komprehensif mengenai masalah ketahanan pangan di tengah tragedi Covid-19 ini bias dilihat secara komprehensif. Selain itu, acara ini adalah wahana mengembangkan koneksi antar stakeholder baik di dalam maupun luar negeri agar bisa memahami kondisi ketahanan pangan di berbagai negara setelah adanya pandemi.