Selasa, 23 Februari 2021, 2 – 4 PM Jakarta Time.

Sebagai tindak lanjut penandatanganan MoU Kerja Sama antara Universitas Diponegoro dan Asian Development Bank dan Kemen PUPR, pada hari Selasa, 23 Februari 2021 diselenggarakan Webinar Asian Water Development Outlook Seri 1. Webinar ini merupakan hasil kerja sama UNDIP dengan ADB terkait bidang pembangunan air di Indonesia. Semina ini diikuti oleh hampir 3000 peserta yang mengikuti melalui zoom dan kanal Youtube Undip TV Official. Para peserta seminar tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari Filipina, Malaysia, Australia, India, Sri Lanka, Taiwan, Afghanistan, Iran, Timor Leste, Inggris (United Kingdom), Belanda, dan Bolivia. Peserta Webinar AWDO kali ini berlatar belakang sebagai guru, akademisi, pegawai pemerintah bidang pembangunan fisik dan analis, swasta, aktivis LSM, dan mahasiswa.

Acara diawali dengan sambutan (welcoming remarks) dari pihak Undip oleh Prof Ambariyanto (Wakil Rektor Empat bidang Inovasi dan Kerja sama Penelitian) mewakili Rektor Universitas Diponegoro. Kemudian disambung pembukaan (opening remarks) oleh Mr. Winfies Wicklein (Country Director for Indonesia) mewakili ADB. Pada kedua sambutan tersebut disampaikan betapa perlunya kerja sama antar pemangku kepentingan seperti akademisi, ADB, praktisi, dan pemerintah dalam mencari solusi atas masalah penmbangunan air yang terjadi di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh UNDIP-ADB-Kemen PUPR.

Seminar ini dipandu oleh Prof Eelco van Beek (Integrated Water Resource Management, University of Twente Netherlands) sebagai moderator. Terdapat tiga sesi dalam seminar ini meliputi sesi Keynote Speeches dan dua sesi plenari. Sesi Keynote Speeches menampilkan Keynote Speakers Bapak Jarot Widyoko (Dirjen Sumber Daya Air, dalam kesempatan ini  diwakili oleh Ir. Lilik Reno Cahyadiningsih, MA, Direktorat Bina Operasi dan Pemeliharaan), dan penyajian kpmprehensif mengenai AWDO dari pakar sumber daya air dari ADB,  Coral P Fernandez-Illescas, Ph.D. Penyaji dari AWDO memaparkan metodologi dan proses pembangunan untuk pencapaian keamanan air dalam lima dimensi kunci (keamanan air tingkat rumah tangga, keamanan penghematan air, keamanan air tingkat masyarakat urban, keamanan air di lingkungan alam, keamanan air terkait bencana air) melalui konsep AWDO.

Memasuki sesi plenari pertama, terdapat dua penyaji dan satu pembahas. Kedua penyaji pada sesi plenari pertama ini adalah Piyatida Ruangrassamee, Ph.D (Assistant Professor, Water Resource Engineering Department, Chulalongkorn University Thailand), dan Dr. P. S. Rao (Advanced Center for Integrated Water Resources Management, Government of Karnataka India), dengan pembahas oleh Dr. Mochammad Amron (National Water Resources Council, Indonesia). Piyatida Ruangrassamee, Ph.D memaparkan bagaimana aplikasi strategi keamanan air AWDO dalam strategi pembangunan air negara Thailand. Selanjutnya, Dr. P. S. Rao dari India membagi pengalaman penanganan pembangunan air di wilayah Karnataka, India yang berlandaskan SDGs (Goal 6, 11, 13 dan 14) dan melibatkan berbagai pihak seperti LSM/NGO, Pemerintah dan akademisi yang berkonsolidasi di dalam satu bidang. Dari paparan kedua penyaji tersebut, Dr. Mochammad Amron sebagai pembahas  menyatakan bahwa dengan mengaplikasikan strategi pembangunan air AWDO melalui Key Dimension dan kolaborasi antar pihak terkait bisa menyelesaikan masalah-masalah pembangunan air; dengan disusunnya regulasi dan kebijakan yang jelas dan aplikatif terkait pembangunan air,pelibatan semua pihak dalam pembangunan air, pelaksanaaan strategi yang tepat sasaran untuk pembangunan air yang diperlukan, sampai dengan penyiapan antisipasi terjadinya bencana terkait air.

Dalam sesi plenari kedua, ditampilkan juga dua penyaji yaitu Prof Steven Kenway (Advanced Water Management Center, University of Queensland Australia), dan Ir. Iswar Aminuddin (Sekretaris Daerah Kota Semarang) diwakili Kepala BAPPEDA Kota Semarang, Dr. Bunyamin, dengan Pembahas oleh Prof Suripin (Kaprodi S3 Teknik Sipil, Universitas Diponegoro, Indonesia). Prof Steven Kenway memaparkan rekomendasi regulasi seperti apa yang perlu diterapkan untuk mencapai dimensi kunci ketiga (keamanan air tingkat masyarakat urban) dengan berfokus pada suplai air bersih, system sanitasi, dan pengelolaan air limbah. Penyaji dari Semarang yang diwakili Kepala BAPPEDA memaparkan masalah-masalah pembagunan air yang dihadapi Kota Semarang seperti banjir, pengelolaan sungai, dan penyaluran air bersih. Sesi plenari kedua ini dibahas oleh Prof Suripin. Menurut Prof Suripin, pembangunan air di Indonesia, seperti pada kota-kota besar di Indonesia, baru mencapai index menengah yang menunjukkan kondisi system air di Indonesia tidak terlalu buruk ataupun sudah maksimal, hanya saja Perof Suripin masih meragukan beberapa kriteria yang dinilai yang menunjukkan Indonesia mendapat hasil maksimal karena ada ketidaksesuaian validitas data dan realitas lapangan. Pembahasan Prof Suripin terkait paparan perwakilan pemerintah Kota Semarang mengenai kondisi perairan Kota Semarang menunjukkan adanya enam masalah yang dihadapi Kota Semarang, antara lain sumber air bersih yang terbatas, naiknya air laut ke daratan sebagai akibat penurunan permukaan tanah, system drainase yang kurang baik, system pembuangan limbah cair dan sampah yang kurang baik, aliran air dari daerah tinggi yang terlalu deras terutama saat hujan, dan ketidaksediaan data yang akurat terkait penanganan air dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap masalah lingkungan dan air. Prof Suripin juga memberi masukan agar Pemerintah Kota Semarang melibatkan pihak di luar pemerintahan untuk menyelesaikan maasalah pembangunan air ini agara bisa lebih komprehensif dan tepat sasaran.

Pada sesi tanya jawab, ada banyak pertanyaan yang diajukan pada para narasumber. Pertanyaan – pertanyaan dari penanya antara lain pendekatan kajian AWDO, metodologi praktek kajian AWDO untuk memberi solusi masalah air, perbandingan antara nilai dan peringkat penilaian Dimensi Kunci antara negara Thailand dan Indonesia, jumlah biaya yang diperlukan untuk melakukan kajian AWDO pada tingkat nasional, apakah keamanan air tingkat regional bisa merepresentasikan keamanan air tingkat nasional, dan masalah banjir rob dan penurunan permukaan tanah di Semarang yang makin mengkhawatirkan selama sepuluh tahun terakhir.