SEMARANG – Membatasi informasi atau berita dan memilah mana yang layak dipercaya dan mana yang tidak, bisa membantu mengurangi kecemasan pasien COVID-19.  Kecemasan juga bisa dikurangi dengan meningkatkan imunitas secara fisik maupun psikis. Demikian nukilan dari Seminar Online “Pengaruh Psikologis pada Pasien Covid” yang diselenggarakan Prodi dan Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) Cabang Semarang, JUmat (12/3/2021).

Narasumber dalam seminar tersebut adalah dr Alifiati Fitrikasari SpKJ (K) dan dr Widodo Sarjana AS MKM SpKJ, keduanya dari Bagian Psikiatri FK Undip, sementara bertindak sebagai moderator dr Hadi Purwanto. Cemas sebenarnya hal normal, karena bisa menjadi alarm untuk kita. Namun kalau berlebihan, bisa menganggu. “Kecemasan normal itu kalau sesuatu yang membuat kita cemas, hilang setelah masalahnya terlewati,”kata dokter Alifiati.

Dia memberikan contoh seorang pelari marathon yang menjelang masuk finish merasakan ada alarm kecemasan di badannya. Muncul sensasi-sensasi yang tidak nyaman dari badannya. “kalau kita aware, seharusnya kita istirahat dulu. Tapi karena tidak aware dengan alarm yang diberikan badan dalam bentuk tidak nyaman itu, maka begitu sampai finish dia pingsan,” dia mencoba memberikan gambaran pentingnya memperhatikan kecemasan.

Mengenai kecemasan yang tidak normal, kata Alifiati yang menyampaikan paparan berjudul “Kecemasan pada Pasien Covid”, adalah kecemasan yang berkepanjangan meski apa yang dicemaskan sudah terlampaui. Gejala kecemasannya mulai mengganggu kualitas hidup, menjadi patologis. Tidur menjadi tidak enak, merasa badannya ada keluhan dari kepala sampai kaki. seperti menjadi susah tidur misalnya.

Pada kondisi seperti itu pasien perlu dibantu. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah menghindari berita buruk. Karena itu bisa berpengaruh kepada pasien. Termasuk mereka yang bekecimpung di dunia medis yang dijejali informasi bahwa Covid adalah penyakit dengan seribu satu wajah, dengan gejala yang berbeda-beda. Informasi seperti itu, yang menyebabkan ketidakpastian, menimbulkan kecemasan.

Sementara dr Widodo Sarjana yang menyampaikan “Tips untuk Mengatasi Kecemasan Pada Pasien Covid” mengibaratkan saat ini sebenarnya semua orang mengalami badai pandemi yang sama, namun kondisi kapalnya berbeda-beda. Kecemasan yang muncul adalah reaksi yang wajar. Masing-masing dari kita naik kapal yang berbeda, artinya kemampuan resiliensinya berbeda-beda.

Widodo memberikan tips untuk mengatasi kecemasan, yakni dengan pencegahan dan meningkatkan imunitas baik fisik maupun imunitas psikis. Tips pencegahan Covid sudah sangat populer, seperti cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, menghindari jabat tangan dan tinggal di rumah atau bekeja dari rumah. Sedangkan untuk sikap mental responsif diformulakan dengan akronim BAAR (Breath, Asses, Action, Reflect). Pada tahapan Asses ini kita perlu menyeleksi dan memilah informasi tentang pandemi secara kritis dan bijak sebagai bentuk pencegahan.

Untuk imunitas secara fisik bisa dilakukan dengan mengatur makanan, minuman, istirahat yang cukup, olahraga, berjemur pagi atau sore, kemudian tidak merokok dan menghindari alkohol. Sedangkan untuk imunitas psikis dibutuhkan sikap rileks dengan berlatif menarik nafas dalam dan relaksasi otot progresif, emosi yang positif, membangun hubungan sosial yang positif serta meningkatkan spiritualitas.