SEMARANG – Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, Masjid Diponegoro Kampus Undip Peleburan menggelar diskusi panel dengan tema Isra Mi’raj dalam Perspektif Sains dan Agama bertepatan Jumat (12/03/21) malam.

Sebelum diskusi, dilakukan pembacaan Dzikir Rajab dan Istighosah secara bersama-sama yang dipimpin oleh KH Muhyidin. Hadir pula Rektor Undip, Prof Dr Yos Johan Utama SH MHum, dan seluruh pimpinan Undip di antaranya Wakil Rektor Undip, Dekan dan Dosen Undip dan masyarakat umum.

Dalam sambutannya, Rektor Undip mengatakan bahwa peringatan Isra’ Mi’raj sudah sering orang-orang ikuti dan mungkin di usia sekarang ini sudah puluhan kali mengikutinya. Lantas di saat itulah orang akan tergugah alam rasionalnya dan tergugah alam logikanya. Di mana keimanan seseorang akan bergulat menghadapi sesuatu yang secara sains atau secara teknologi tidak akan terjangkau oleh logika-logika yang ada.

“Misalnya kita hidup di zaman Rasulullah yang kita tahu bahwa perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kalau naik onta butuh waktu sekitar 3 minggu sampai 4 minggu, apalagi kalau pulang pergi sekitar 8 minggu. Tiba-tiba Rasulullah mengatakan hanya sepenggal malam saja beliau diperjalankan sedemikian. Nah tantangan sains inilah yang demikian kemudian menjadi tantangan untuk kita menjelaskannya,” ujar Prof Yos Johan.
Sementara pemateri dalam diskusi panel Prof Dr H Thomas Djamaluddin MSc memaparkan, di dalam Al-Qur’an ada dua ayat yang menjelaskan Isra dan Mi’raj pada surat yang berbeda dan ayat yang berbeda, yakni awal surat Bani Israil atau Al isra dan surat An Najm ayat 13-18.

Pada hadits-hadits shahih disebutkan bahwa peristiwa Isra Mi’raj dimulai dari datangnya malaikat Jibril yang membawa Nabi Muhammad SAW dan dibersihkan hatinya dengan diisi iman dan hikmah, kemudian didatangkan burok, mahluk berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata, burok sendiri bermakna sebagai kilat, artinya secepat kilat mahluk ini bergerak.

Dengan burok itu Nabi Muhammad SAW melakukan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina. Kemudian melakukan Mi’raj memasuki tujuh langit. Hingga puncak dari perjalanan tersebut adalah diterimanya perintah shalat.

“Lantas bagaimana Isra Mi’raj dalam pandangan sains? Tentu tidak bisa kita pahami secara utuh. Namun kita mencoba mendekati dari beberapa pendekatan. Isra mi’raj ini bukanlah perjalanan antar negara dari Mekah ke Palestina, namun Isra Mi’raj ini bisa dipahami sebagai perjalanan keluar dari dimensi ruang dan waktu,” terang Prof Thomas Djamaluddin.

Prof Thomas melanjutkan, dalam konsep lama, langit itu berlapis dan berpusat. Namun pada konsep sekarang, langit itu tidak ada pusatnya karena langit diciptakan pada peristiwa big bang, yang mana itu adalah awal dari materi dan awal dari waktu. Sehingga alam semesta yang mengembang itu tidak ada pusatnya.

“Langit dalam konsep yang baru itu sesungguhnya makna tujuh langit adalah jumlah benda-benda langit yang tak terhingga jumlahnya,” tandasnya.
Di sisi lain, KH Drs Muhammad Dian Nafi MPd, menuturkan ada satu kata yang penting dalam ayat ke satu surat Al Isra, yaitu kata min aayaatinaa yang menunjukkan hal-hal yang oleh Allah SWT diperlihatkan dari sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah dan pelajaran-pelajaran dari Mekah ke Baitul Maqdis.

“Sementara dari tafsir Abi Mansyur Al Maturidi, min aayaatinaa adalah Allah SWT menampakan tanda-tanda kekuasaan yang sifatnya tidak rasional saja, akan tetapi juga psikologis spiritual. Lalu tafsir Al Mawardi bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang diperlihatkan pada Nabi pada Isra Mi’raj itu sebuah keajaiban-keajaiban,” pungkasnya.