SEMARANG – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Magister Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Nur Sitha Afrilia, mengaku bangga berkesempatan menjadi Putri Duta Bahasa Jawa Tengah. Dengan predikat tersebut, dia merasa bisa membagikan pengetahuannya tentang bahasa kepada khalayak yang lebih luas.

Dia menegaskan, keikutsertaannya dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa yang tiap tahunnya diselenggarakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, didorong niat untuk berkontribusi memartabatkan Bahasa Indonesia. Karena itu, ketika terpilih sebagai Pemenang III Duta Bahasa Jawa Tengah Tahun 2019, dia mengaku bersyukur.

Gadis yang berasal dari Pati ini juga berharap agar ajang ini mampu melahirkan tunas-tunas yang berani berkontribusi dalam memartabatkan Bahasa Indonesia. Karena itu, ketika ada amanat untuk mengelola organisasi para alumni duta bahasa, Ikatan Duta Bahasa Jawa Tengah (IDBJT), dia menerima tugas sebagai Wakil Ketua IDBJT. “Tugas menjadi duta Bahasa Indonesia tidak selesai di ajang pemilihan, tapi dilanjutkan melalui wadah Ikatan Duta Bahasa ,” ujar Nur Sitha Afrilia, Rabu (17/3/2021).

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia bahasa, di sela kesibukannya menyelesaikan tesis Sitha juga bergiat menulis novel. Pada Oktober 2020 lalu, novel perdanya “Ragana” bisa diterbitkan. “Bagi saya, tumbuh dan berkembang di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, khususnya dari jurusan Sastra Indonesia hingga Magister Ilmu Susastra telah meyakinkan saya bahwa secara moral, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk mengedukasi masyarakat di bidang kebahasaan dan kesusastraan,” dia menambahkan.

Karena itu dia berpendapat perhelatan seperti Pemilihan Duta Bahasa ini patut diberi atensi lebih karena cukup berbeda dari ajang pemilihan duta di bidang lainnya. “Penjaringan Duta Bahasa di tingkat provinsi ini cukup ketat, baik dari segi administrasi maupun kriteria individu yang nantinya akan diberi kesempatan untuk mengikuti seleksi tingkat daerahnya masing-masing,’’ ungkapnya.

Salah satu daerah yang dikenal cukup selektif dalam memilih Duta Bahasa adalah Provinsi Jawa Tengah. Sebab, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk menyaring Duta Bahasa Jawa Tengah pun memiliki kriteria yang berbeda dibanding provinsi lain.

Dalam proses seleksinya, setiap peserta diharuskan ber-KTP Jawa Tengah dan diwajibkan untuk menginisiasi program kebahasaan. Ketrampilan berbicara di depan umum dengan baik pun dipersyaratkan. Itu dilakukan dengan hasil Tes UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia), mampu berbahasa daerah (khususnya Jawa) dengan baik, serta minimal bisa berbahasa asing (Inggris).

Selain itu, wawasan kebangsaan dan kebudayaan serta keterampilan di bidang seni pun menjadi aspek yang mendukung penilaian terhadap kepribadian dari masing-masing peserta. ‘’Komplit dan rumit, begitulah kesan yang melekat pada kriteria yang harus dimiliki oleh Duta Bahasa Jawa Tengah,’’ urainya.

Meski syarat dan ketentuan yang ditetapkan itu cukup berat, bagi Sitha, hal tersebut bukanlah penghalang untuk dirinya dalam memperjuangkan tekadnya. “Itu menjadi bagian dari tanggung jawab sebagai pewaris tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Otomatis saya pun memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan identitas bangsa Indonesia, di tengah gempuran arus globalisasi yang perlahan meningkatkan kecenderungan sikap abai terhadap pemartabatan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Padahal, bahasa Indonesia dan keberagaman bahasa daerah yang ada di negara ini merupakan identitas khas yang membedakan negara kita dengan bangsa lain.”

Diakui, keputusan Sitha untuk mengikuti Pemilihan Duta Bahasa Jawa Tengah pada tahun 2019 lalu pun tidak terlepas dari dukungan program studi yang secara suportif memberikan pendampingan dengan optimal. Maka tidak mengherankan jika mahasiswi yang juga Mawapres Utama FIB UNDIP tahun 2017 ini mampu meraih posisi terhormat di ajang tersebut. Sitha juga menjadi Duta Museum Jawa Tengah 2018 saat ini juga aktif di Forum GenRe Kabupaten Pati di bawah naungan Dinas Sosial dan BKKBN Pati hingga.

Tak hanya di dalam negeri, mahasiswi yang sedang dalam proses thesis ini juga sempat menjadi delegasi untuk Asean Youth Summit di Philippines pada tahun 2017, meraih penghargaan di Asia Pasific Future Leader Conference 2016 di Malaysia dan meraih juara 2 dalam Amity Youth Festival 2016 di New Delhi, India.