SEMARANG – Dekan Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro(UNDIP), Prof Dr Ir Bambang Waluyo Hadi Eko Prasetiyono MS Magr, meminta penelitian-penelitian yang terkait dengan pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) harus sinkron dengan kebutuhan industri. Artinya, temuan-temuan dan inovasinya bisa diimplementasikan dalam pengembangan EBT sebagai sumber energi masa depan.

Menurut dia, dalam konteks Indonesia yang berada di wilayah tropis, salah satu potensi EBT yang sangat besar adalah bioenergi. “Saat ini banyak biomass yang terbuang percuma. Hanya dibakar saja, padahal potensinya sebagai sumber energi sangat besar,” kata Prof Bambang WHEP dalam sebuah sesi acara Bioenergy Goes to Campus (BGTC) di Kampus Undip, baru-baru ini.

Pengembangan biomassa atau bioenergi ini, selain bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, diyakini bisa membantu memperbaiki pendapatan petani kita. Menjadikan biomassa sebagai sumber energi, pendapatan petani tidak hanya dari hasil panennya saja tapi dari biomassa yang sekarang banyak terbuang percuma.

Dia mengingatkan, ketergantungan dari energi fosil harus segera diakhiri. Para peneliti dan mahasiswa harus berupaya keras melakukan inovasi dan mengembangkan teknologi terkait dengan penggunaan bioenergi.  Ïni penting untuk mencukupi kebutuhan energi dan membangun ketahanan energi kita. Kita harus mengembangkan sumber daya yang ada untuk umat, khususnya di negara yang kita cintai,” ujarnya.

Pria yang menempuh pendidikan S2 di Jepang dan S3 di IPB ini menuturkan energi menjadi permasalahan di dalam negeri maupun seluruh dunia. Energi merupakan komoditas yang strategis ditinjau dari segi ekonomi, politik, sosial, maupun ketahanan nasional. “Banyak konflik di dunia ini, hampir 70 persen konflik ini sumbernya adalah masalah energi dan pangan,” ungkapnya.

Sementara itu Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE, Andriah Feby Misna ST MT, mengatakan penyebarluasan informasi terkait program, potensi, dan juga strategi serta kebijakan pemerintah dalam pengembangan bioenergi dalam mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional terus diintensifkan. Salah satunya dengan program Bioenergi Goes to Campus, yang diharapkan bisa membangun kesepemahaman dan sinergi antara pemerintah dan akademisi.

Feby Misna berharap masukan dari perguruan tinggi untuk mendukung optimalisasi pemanfaatan bioenergi ke depannya. “Produksi minyak terus turun sementara kebutuhan terhadap bahan bakar terus meningkat. Tidak hanya minyak yang kita impor, tapi juga LPG yang cukup besar dan ini cukup mengganggu dari neraca perdagangan kita,” kata perempuan lulusan Program Double Degree(ITB dan Universitas Groningen, Belanda ini.

Data Direktorat Bionergi Kementerian ESDM menunjukkan peningkatan konsumsi energi nasional dalam 10 tahun terakhir dari 2009 hingga 2019 melonjak sangat pesat. Tahun 2009 konsumsi nasional mencapai sebesar lebih dari 700 juta barel oil ekuivalen, dan di tahun 2019 sudah mencapai satu milyar barel oil ekuivalen.