SEMARANG – Dua putra Bali berhasil mempertahankan disertasinya di depan dewan penguji  Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (UNDIP), dalam ujian yang dilakukan secara daring, Kamis (8/4/2021). Mereka diuji secara berurutan oleh Tim Penguji yang dipimpin Dekan FEB Undip, Prof Dr Suharnomo SE MSi.

Kedua putra Bali tersebut adalah Made Ika Prastyadewi dan I Gusti Lanang Putu Tantra kebetulan berprofesi sebagai akademisi. Ika Prastyadewi adalah dosen di Universitas Mahasaraswati Denpasar, sedangkan Lanang Putra Tantra adalah dosen di Universitas Warmadewa, Denpasar. Keduanya masuk PDIE FEB Undip tahun 2016.

Bertindak selaku promotor untuk promovendus Ika Prastyadewi adalah Prof Dra Indah Susilowati MSc PhD, sedangkan Dr Agr Deden Dinar Iskandar SE MA sebagai Co-Promotor. Adapun tim pengujinya terdiri dari Prof Dr Suharnomo SE MSi (Ketua Sidang Ujian), Dr Tjokorda Gde Raka Sukawat SE MM (Penguji Eksternal) dan Prof Drs Waridin MS serta Dr Nugroho SBM MSi masing-masing sebagai penguji internal. Promovendus mempertahankan disertasi berjudul “Internalisasi Eksternalitas Untuk Menjaga Eksistensi Lanskap Subak di Bali (Studi Pada Lanskap Subak Jatiluwih di Kabupaten Tabanan).

Adapun promovendus Lanang Putu Tantra yang mempertahankan karya akademik disertasi berjudul “Model Keberlanjutan Pengelolaan Wisata Bahari : Pendekatan Kompetensi Pelayanan Pemandu Wisata Berbasis Kearifan Lokal Kabupaten Buleleng” juga diipromotori oleh Prof Dra Indah Susilowati MSc PhD, dan Dr Agr Deden Dinar Iskandar SE MA sebagai Co-Promotor. Komposisi pengujinya Prof Dr Suharnomo SE MSi (Ketua Sidang Ujian), Dr Tjokorda Gde Raka Sukawat SE MM (Penguji Eksternal) dan Prof Drs Waridin MS serta Dr Nugroho SBM MSi.

Dari hasil sidang dewan penguji, Made Ika Prastyadewi dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. Perempuan yang menyelesaikan studi sarjananya di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana dan magister manajemen di Universitas Brawijaya ini mampu menyelesaikan studi doktornya di PDIE FEB Undip dalam waktu 3 tahun 7 bulan 7 hari dengan indeks prestasi kumulatif akhir 3,92.

Made Ika Prastyadewi (Foto: dok)

Sedangkan I Gusti Lanang Putu Tantra yang mendapatkan gelar kesarjanaannya di Universitas Marwadewa Denpasar, dan Magister Ilmu Ekonomi di FEB Undip ini, diapresiasi atas penelitiannya yang membuka pemahaman besarnya potensi wisata bahari di Kabupaten Buleleng. Kajian yang dibuat Putu Tantra diharapkan bisa memperbaiki kontribusi wisata bahari bagi pendapatan daerah dan kesejahteraan warganya.

Ketua Tim Penguji yang juga Dekan FEB, Suharnomo, mengaku senang Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Diponegoro http://pdie.feb.undip.ac.id/ meluluskan dua dosen ekonomi dari Universitas di Bali  “Kami berharap mereka bisa terus mengembangkan keilmuannya dengan tanpa henti melakukan penelitian dan pengkajian sesuai bidang ilmunya,” kata Suharnomo.

Dengan nada bersemangat Suharnomo mengaku bangga dengan para mahasiswa doktornya yang mampu memberikan sumbangsih nyata bagi pembangunan daerah. Dia menyebutkan mahasiswa program doktor ekonomi di fakultas yang dipimpinnya tidak elitis dan sekedar menjadi menara gading. “PDIE Undip menjadi pilihan bagi teman-teman dari Aceh hingga Papua, karena selain memberikan kompetensi menulis di jurnal internasional terindeks Scopus juga membimbing mahasiswa untuk peka terhadap permasalahan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Yang patut dicatat, dua disertasi ini merupakan riset empiris yang mengumpulkan data dan melakukan analisis diantaranya berdasar data primer melalui observasi langsung dan pengalaman di lapangan. Data selanjutnya diolah dengan menggunakan kaidah ilmiah yang ketat agar dihasilkan rekomendasi yang diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan yang diteliti. Riset Made Ika secara tegas menyatakan hasil akhir penelitian adalah berupa rekomendasi model rekayasa sosial sebagai upaya menjaga eksistensi subak. Sedangkan penelitian I Gusti Lanang yang menghasilkan model pengelolaan peningkatan kompetensi untuk layanan sumber daya wisata bahari di Buleleng, Bali. (tim Humas)