Reaksi yang timbul dari kecemasan tentang imunisasi/vaksinasi Covid-19 tentunya akan menganggu proses vaksinasi pada orang-orang di sekitar anda. Orang-orang yang rentan kecemasan memiliki potensi terganggunya proses vaksinasinya karena stress yang ditimbulkan dari kecemasan yang dimiliki sebelum maupun sesudah proses vaksinasi. Hal ini tentunya akan memberikan dampak baik proses vaksin itu sendiri, tenaga Kesehatan, rumah sakit dan juga masyarakat. Kecemasan yang timbul selama proses vaksinasi ini tentunya harus diatasi dengan berbagai strategi yang berhubungan dengan ilmu psikiatri.

Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro pada (16/4) melakukan seminar online untuk memberikan informasi mengenai kecemasan dan bagaimana mengatasi dan strategi tenaga Kesehatan menghadapi kecemasan atau ketakutan yang dialami oleh penerima vaksin. Seminar online ini dimoderatori oleh dr. Fanti Saktini, M.Si.Med. sebagai PPDS Psikiatri FK UNDIP. Materi terkait dengan respon kecemasan yang berhubungan dengan vaksinasi disampaikan oleh Dosen Biokimia Psikiatri FK UNDIP, dr.Innawati Jusup, M.Kes., Sp.KJ. sedangkan pengelolaan kecemasan yang berhubungan dengan vaksinasi disampaikan oleh dr. Tanjung Ayu Sumekar, M.Si.Med., Sp.KJ. Seminar online dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pemateri 1 oleh dr. Innawati dan sesi pemateri 2 oleh dr. Tanjung Ayu kemudian diikuti oleh tanya jawab dan diskusi lalu ditutup dengan foto bersama.

Disampaikan oleh dr. Innawati Jusup bahwa stress terjadi karena adanya suatu masalah pada diri penderita. Dalam hal ini, masalah bisa ditimbulkan karena vaksinasi Covid-19. Walaupun, vaksinasi dianggap sebagai hal yang baik karena menjadi upaya pencegahan dalam penyebaran virus Covid-19 sehingga tidak sedikit orang berbondong-bondong untuk mendapatkannya sesegera mungkin. Tetapi, pada Sebagian masyarakat yang memiliki beragam kecemasan seperti akibat yang akan timbul terhadap dirinya selama proses vaksinasi akan menimbulkan dampak besar. Kecemasan ini dipengaruhi oleh faktor fisik, psikologi dan sosial. Contoh pada kaum manula di Indonesia sebenarnya memberikan respon yang sangat baik dan bersemangat untuk menerima vaksin sesegera mungkin. Akan tetapi, tidak sedikit pula keluarga yang kontra akan akibat yang ditimbulkan dari vaksin dan akan berdampak pada keluarganya yang manula.

Vasovagal atau orang dengan kerentanan pada kecemasan adalah orang yang Vagus Nerve dalam dirinya memancing kecemasan sehingga menimbulkan kondisi kepada bagian tubuh tertentu karena berkaitan dengan emosi dari orang tersebut. Kondisi stress bisa tidak terdeteksi oleh seseorang yang mengalaminya namun tubuh merespon kondisi sensitif tersebut dengan menunjukkan gejala seperti perubahan denyut nadi/tekanan darah. Dukungan dari orang-orang di sekitar yang baik akan sangat membantu. Membentuk pikiran-pikiran positif akan membuat pikiran yang cemas menjadi tenang dan nyaman.

dr. Innawati menyebutkan, stress dapat menimbulkan demam karena terpengaruh oleh pikiran yang diliputi kecemasan berlebih sehingga menurunkan imun tubuh. Untuk menghindarinya, jaga kondisi tubuh sebelum akan divaksin dengan mengkonsumi makanan bergizi dan istirahat yang cukup, juga tenangkan pikiran sehingga membuat rileks sehingga imun tubuh sudah siap saat menerima vaksin. Respon stress akut bisa sampai menimbulkan wajah pucat, detak jantung cepat, berkeringat, mual, pusing dan gejala neurologis lainnya. Karena itu, pemeriksaan sebelum menjalani vaksinasi sangat diperlukan. Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai interaksi berupa pemeriksaan faktor psikologis, faktor biologis, faktor copying presentasi gejala, faktor pemicu dan faktor neurologis disosiatif.

Bagaimana jika kecemasan sudah terjadi pada calon penerima vaksinasi? dr. Tanjung Ayu Sumekar, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dalam paparan materinya menyebutkan bahwa diperlukan penanganan yang baik dan strategi untuk menghadapi calon penerima vaksin yang memiliki kecemasan atau ketakutan dan rentan saat proses vaksinasi. Kecemasan biasanya timbul karena pertanyaan yang muncul dalam benak calon penerima vaksin. Pertanyaan-pertanyaan yang belum menemukan jawaban pasti inilah yang menimbulkan kondisi sensitif dan stress sehingga mempengaruhi pengambilan keputusan dari seseorang penerima vaksin.

Tenaga Kesehatan disarankan untuk tetap tenang saat menemukan kondisi penerima vaksin yang rentan dengan kecemasan atau stress di lapangan. Kesadaran akan ISSR (Immunization Stress Related Respons) dan juga pelatihan agar tenaga Kesehatan dapat mendeteksi, mencegah dan merespon kondisi di lapangan semaksimal mungkin. Kesadaran bahwa ISSR dapat diatasi dan dicegah juga merupakan upaya agar vaksinasi dapat berjalan optimal. ISSR terbagi menjadi dua bagian, yaitu Peri-immunization dan Post-immunization. Dua kondisi ini memberikan dampak berbeda.

Kecemasan atau ketakutan sebelum disuntik menyebabkan penerima vaksin bisa pingsan dan untuk menanggapi hal tersebut adalah dengan menenangkan keluarga/pendamping penerima vaksin jika ada dan memberikan tindakan berupa penempatan pada ruang terpisah, memberikan tempat berbaring yang nyaman dan observasi serta monitoring hingga sadar. Ketakutan yang besar akan jarum suntik akan menimbulkan masalah. Dalam jangka pendek akan menimbulkan prosedur vaksin yang lama, pingsan, nyeri hingga cemas. Sedangkan untuk jangka panjang dapat menyebabkan ketakutan hingga penolakan untuk divaksin. Seseorang yang mengalami kondisi peri-immunization biasanya akan mengalami kondisi post-immunizaion setelah beberap hari vaksinasi dilakukan. Tubuh akan menjadi tidak nyaman dan timbul kecemasan berulang. Kondisi yang dialami biasanya berupa kondisi neurologis disosiatif, seperti kesemutan, rasa kebas, merasa lemas dan lain sebagainya dimana jika diperiksa tidak ada apa-apa.

dr. Tanjung Ayu Sumekar menyebutkan, menghadapi kecemasan lebih baik daripada menghindarinya. Beberapa kiat untuk menghadapi kecemasan diantaranya adalah mendapatkan informasi akurat terkait vaksinasi dari rumah sakit dan tenaga Kesehatan. Mengumpulkan data dari sumber terpercaya mengenai vaksinasi akan membantu pikiran untuk mengurangi kecemasan. Diskusikan kecemasan dengan orang yang dipercaya. Dengan mendiskusikan dan berbagi dengan orang lain, kita akan mengurangi kecemasan diri sendiri dan membuat keputusan dengan lebih baik. Hindari mengeneralisasi ketakutan akan Covid-19 dengan ketakutan akan vaksinasi. Tingkatkan motivasi diri untuk divaksin. Semangati diri dengan keinginan agar pandemi segera berakhir sehingga keinginan divaksin akan semakin tinggi.

Pencegahan sebelum vaksinasi dengan bersikap tenang, bersahabat dan percaya diri. Komunikasi dan identifikasi penerima vaksin yang beresiko tinggi. Seperti, memiliki gangguan cemas, gangguan perkembangan dan pengalaman tidak menyenangkan. Menggunakan pertanyaan penyaring untuk mengetahui seberapa dalam kecemasan yang dialami oleh calon penerima vaksin. Menggunakan kata-kata netral, seperti memberikan fakta terkait sehingga menimbulkan ketenangan, memberikan pilihan kepada penerima vaksin untuk disuntik di lengan kiri/kanan atau mengajak berbicara dengan menggunakan topik yang dapat mengalihkan pikiran penerima vaksin. Bisa juga dengan melakukan peregangan otot untuk merelaksasikan otot dan pikiran. Kondisikan penerima vaksin secara personal seperti memberikan vaksin secara privat, memberikan pilihan-pilihan selama prosedur dilakukan dan memberikan pujian saat vaksin selesai dilakukan.

Semoga pengetahuan tentang kecemasan yang berhubungan dengan vaksinasi dan bagaimana merespon dan menindaklanjuti dalam pencegahan, deteksi dan respon melalui seminar online ini dapat bermanfaat dan membantu baik tenaga Kesehatan, calon penerima vaksin dan masyarakat sehingga program vaksinasi di Indonesia dapat berjalan dengan lancar dan merata. (Diska-Humas)