Bencana banjir bandang dan siklon tropis seroja yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (4/4/2021) telah menggerakkan hati keluarga besar civitas akademika Magister Epidemiologi Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro untuk menggalang bantuan. Bantuan mulai digalang sehari setelah peristiwa hingga Sabtu pagi (24/4/2021) saat acara pemberian bantuan berlangsung.

Dana berupa uang tunai yang berhasil dikumpulkan sejumlah Rp. 7,6 juta lebih diserahkan kepada korban secara simbolis melalui zoom meeting. Hadir menyerahkan bantuan Kaprodi Magister Epidemiologi, Dr. drh. Dwi Sutiningsih, M.Kes.

Seorang bapak korban banjir NTT, Thamrin, diundang secara daring untuk menerima bantuan. Ia juga diminta untuk berbagi kisah nyata peristiwa bencana banjir bandang yang melanda desanya di Desa Walburak, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT. Banjir bandang dan siklon seroja mengakibatkan seluruh bangunan di desanya lenyap.

Dekan Pascasarjana Dr. R.B. Sularto, SH., M.Hum berkesempatan hadir untuk menyaksikan secara daring acara pemberian bantuan ini, sekaligus menyampaikan ucapan terimakasih kepada para donatur.

“Dan tentuya saya selaku Dekan Pascasarjana menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada bapak ibu yang telah mendonasikan sebagian uangnya untuk para korban di NTT. Tentunya dengan bantuan tersebut mudah-mudahan bisa meringankan saudara-saudara kita yang kena dampak,” ucap Dr. R.B Sularto, SH., M. Hum.

Tak hanya mengundang korban banjir, acara pemberian bantuan ini juga menghadirkan Epidemiolog Undip Dr. dr. Budi Laksono yang menyampaikan pengalaman lapangan menangani bencana, termasuk bencana banjir bandang NTT. ia bercerita pula tentang bagaimana peran epidemiolog pada peristiwa bencana semacam ini.

“Pelayanan medis dasar menjadi pelayanan utama. Tetapi setelah itu, basic pelayanan yang laIn sangat diperlukan seperti water sanitation, rumah, da hal-hal sosial lainnya. Mahasiswa S2 Epidemiologi Undip perlu dibekali ilmu ini sehingga memahami apa yang terjadi di lapangan dan apa yang harus dipikirkan. Mungkin bisa disebut ilmu Epidemiologi Disaster,” jelas Dr. Budi Laksono melalui zoom dari lokasi kejadian di NTT.

Ia mengajak para lulusan S2 Epidemiologi Undip berani memberikan masukan kepada para pengambil keputusan supaya tidak hanya menerima input dari pemborong bangunan, pengusaha, ekonom, tetapi juga dari epidemiolog. Mental disaster seperti rasa empati dan sikap berjuang juga perlu ditumbuhkan.

Dr. dr. Budi Laksono bersama tim saat ini (24/4/2021) tengah berada di NTT untuk menyalurkan bantuan dari IKA MEDICA UNDIP berupa hunian sementara (huntara)  yang bisa dipasang dalam waktu singkat 30 menit, jamban amphibi, membangun spot-spot drinking water untuk para pengungsi, dan mendirikan stasiun produksi hand sanitizer untuk tenaga medis. (Hariyani-Humas)