Sejarah atau awal mula berdirinya Program Studi Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro bermula dari ketersediaan SDM bidang Antropologi di Fakultas Ilmu Budaya Undiversitas Diponegoro yang lumayan banyak, seperti Prof. Dr. Nurdien H Kistanto, Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, Prof. Dr. Agus Maladi Irianto (alm), dan Dr Eko Punto Hendro. Lalu ditambah sejumlah antropolog lainnya di lingkungan Undip – luar FIB antara lain Dr. Ani Margawati, Ronny Aruben, MA, Dr. Sukirno, Dr. Budi Puspo Priyadi, dan Dr. Retna Hanani.    “Sebagai fakultas yang selama ini mengembangkan studi kebudayaan memang perlu mendirikan prodi baru antropologi sebagai disiplin ilmu yang secara keilmuan mempelajari manusia dan kebudayaannya” hal tersebut disampaikan oleh Dr. Amirudin, MA., selaku Ketua Prodi Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.

“Pada awalnya, fokus kajian diarahkan ke studi kebudayaan masyarakat pesisir menyesuaikan dengan arah PIP (pola ilmiah pokok) atau center of excellence nya Undip yakni coastal eco development. Selain itu, berdasarkan assesment kebutuhan pasar banyak institusi (badan publik atau badan privat)  yang memerlukan tenaga profesional analisis, perencana, peneliti, akademisi, jurnalis budaya, serta konsultan dan tenaga professional industri kreatif/budaya sebagai konsekuensi dari perkembangan masyarakat dari tradisionalitas, menuju modernitas atau bahkan posmodernitas” tuturnya.

Antropologi Sosial yang merupakan jurusan baru di Universitas Diponegoro dan prodi termuda di FIB, memiliki visi keilmuan yakni menyelenggarakan pendidikan antropologi yang dapat menghasilkan lulusan sebagai peneliti, akademisi, analis dan perencana yang dapat membuat kajian dan perencanaan sosial budaya yang kreatif, inovatif, berkelanjutan; menguasai konsep-konsep dasar, teori, metode kajian budaya, teknik perencanaan dan analisis yang baik serta keahlian komunikasi dengan menggunakan TIK.

“Ada banyak peluang dan prospek kerja Antropologi Sosial diantaranya Analisis budaya, perencana budaya, konsultan (pamong) budaya, tenaga professional di perusahaan media dan non media” ungkapnya.

Ia menyampaikan langkah-langkah strategis yang dilakukan Prodi Antropologi Sosial untuk meningkatkan minat calon mahasiswa agar tertarik masuk Antropologi antara lain dengan sosialisasi dan pengenalan visi, misi, luaran pembelajaran dan kurikulum kepada sasaran utama calon mahasiswa dan sasaran antara para orang tua.  Ekspose dan publisitas institusional/personal branding para dosen atas karya, kerja nyata keilmuan untuk policy support, pemberdayaan masyarakat,  dan lain lain melalui media (massa, online media, social media) dan seminar/webinar dll. Pembuatan dan pemeliharaan website prodi dalam dua bahasa. Memelihara dan memberikan layanan pembelajaran sebagaimana standart atau bahkan melebihi standart agar kepuasaan mahasiswa dan orang tua terjaga. Mempublish karya-karya tugas mahasiswa (etnografi) melalui youtube, instagram untuk membentuk kognisi publik bahwa belajar di antropologi sangat asyik.

Perubahan dalam suatu  kehidupan merupakan satu keniscayaan, yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Bahkan manusia sebagai agen perubahan dengan sadar melakukan perubahan untuk menuju kehidupan yang lebih baik termasuk perubahan kurikulum pendidikan dan Prodi Antropologi telah menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan global dan segala perubahan tersebut. Menurut Dr. Amirudin Perkembangan TIK yang kini telah menyatu – konvergensi -, dan juga makin intensifnya globalisasi membuat lanskap kebudayaan masyarakat berubah. Cara hidup masyarakat bukan saja dibimbing oleh kebudayaan yang telah didapatkan dan dipelajari secara turun temurun, tetapi melalui tekologi manusia berkreasi, menciptakan kebudayaan baru dalam kerangka beradaptasi dengan lingkungan untuk sustainability mereka. Begitupun, globalisaisi membawa efek perubahan pada konsep kebudayaan yang semula terbatasi lokasi (misal kebudayaan jawa, kebudayaan batak, dll), tetapi kebudayaan (pengetahuan) pun berubah tak lagi terbatasi lokasi, tetapi mengalir ke mana-mana melalui jaringan media, agen-agen internasional. Pada aspek lingkungan muncul gerakan enviromentalisme yang semula hanya discourse tapi kini telah menjadi gerakan. Begitupun dalam hal gender, ekonomi, politik, agama, paradigma pembangunan (SDGs).

“Itu semua kami antisipasi dalam kurikulum dengan mervitalisasi dan/sebaliknya ada penambahan mata kuliah  Internet of Thing, Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan, Perencanaan Pembangunan Budaya, dan lain-lain. Metode dan teori juga disesuaikan dengan perkembangan kekininan karena lanskap masyarakat yang tengah mengalami perubahan” ujarnya.

Kajian-kajian Antropologi memiliki perhatian pada aspek: biologis seperti anatomi/ciri fisik, profil genetik, gizi/kesehatan, dan evolusi manusia; sosial budaya seperti bahasa, kebudayaan, seni, keluarga, sistem hukum, politik, ekonomi, dan religi, tentunya Antropologi memiliki manfaat penting dalam memahami budaya dan masyarakat. “Kebudayaan menurut Chamber adalah bagian dari capital (culture capital), yang sebangun dengan eonomic capital, social capital, political capital, symbolic capital, resourches capital. Dalam kerangka mencapai pertumbuhan ekonomi, atau juga target-target ekonomi di suatu perusahaan, orang sering melupakan bahwa culture itu sesungguhnya kekuatan – atau modal inti yang mendinamisir modal-modal lain bergerak dan bermanfaat bagi kehidupan. Misal di suatu perusahaan, dari sisi modal ekonomi dan modal resourches, sudah sangat cukup. Tetapi tidak diimbangi dengan ketersedian knowledge dan sistem nilai yang mendukung, maka bisa jadi modal ekonomi dan modal resourches itu akan tetap beku menjadi modal yang mati (dead capital)” terangnya.

“Selain itu peran antropologi dalam konteks konflik masuk dalam dua level, yang pertama melakukan analisis kebudayaan yang menjadi sebab konflik – karena secara budaya konflik itu pasti terjadi karena perbedaan cara pandang/nilai, tafsir, identitas dan kelas sosial dalam kompetisi perebutan resourches. Yang kedua memediasi dengan memanfaatkan kebudayaan (kearifan) lokal bagaimana perdamaian dibangun kembali” lanjutnya.

Sedangkan harapan Dr. Amirudin untuk kemajuan Undip menuju World Class University, ia mengatakan WUR  (World Class University Ranking) kini telah menjadi tuntutan. Banyak model pemeringkatan dunia yang telah secara periodik melakukan perangkingan, antara lain: QS WUR, THES, Webometric, Green Metric, dan lain-lain.  Perangkingan ini penting untuk menciptakan suasana kompetisi bagaimana perguruan tinggi masing-masing membangun reputasi di aspek pengajaran, penelitian/publikasi, internasionalisasi, prestasi mahasiswa, infrastruktur dan sebagainya. “Sekalipun prodi baru, prodi Antropologi Sosial berkeinginan juga untuk turut memberikan sumbangan dan dukungan dalam pencapaian target WCU. Misalnya untuk teaching, setiap semester sekurang-kurangnya ada satu atau dua dosen atau professor dari luar negeri yang ikut mengajar/kuliah umum/narasumber seminar/webinar dengan memanfaatkan jaringan diaspora atau pertemanan dosen di LN serta mengikutsertakan mahasiswa asing berkuliah di prodi antropologi. Mendorong dosen publikasi internasional, mahasiswa ikut lomba internasional” jelasnya. (Linda-Humas)