Salah satu peran penting industri terhadap hilirisasi hasil riset perguruan tinggi adalah melakukan pendampingan sejak proses riset berlangsung hingga memasuki tahap komersialisasi. Demikianlah yang dilakukan PT. Dipo Technology, perusahaan manufaktur partner CPR (Center for Plasma Research) Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro. Kantor Dipo Technology sekaligus pabrik produksi yang berada di Kawasan Industri Candi Semarang, menjadi bukti nyata hasil riset perguruan tinggi telah memasuki tahap produksi massal.

CPR berdiri sejak Februari 2005 sebagai pusat penelitian plasma dan aplikasinya. Kegiatan penelitian aplikasi plasma ini meliputi plasma untuk lingkungan, makanan, pertanian, tekstil, material, medis dan energi. CPR dibawah pimpinan Prof. Dr. Muhammad Nur, DEA, Dosen Fisika Undip, telah menghasilkan berbagai inovasi penelitian berbasis teknologi plasma. Seperti D’ozone untuk memperpanjang masa simpan produk holtikultura sampai 2 bulan. Lalu ada Zeta Green, alat penjernih udara yang mampu membunuh bakteri, virus dan jamur dalam ruangan tertutup dan berpendingin udara. Seaozone berfungsi untuk memperpanjang masa simpan ikan hingga 16 hari dengan suhu 2-8° Celcius. Medical Ozone Generator atau M’Ozone digunakan untuk mengobati luka luar yang susah mengering pada penderita diabetes. Ketiga inovasi yang disebutkan di awal yaitu D’ozone, Zeta Green dan Seazone telah melalui uji laboratorium berulang kali dan uji pasar. Disinilah peran Dipo Technology mendampingi CPR mulai dari proses uji laboratorium, melakukan uji pasar, memikirkan desain produk, hingga memasarkannya.

Berawal dari kepedulian PT. Dipo Technology atas hasil riset dari perguruan tinggi yang belum terlihat dimanfaatkan oleh masyarakat. CPR dengan hasil riset teknologi plasma yang menghasilkan D’ozone ini, dinilai bisa menyelamatkan para petani Indonesia dari kerugian ekonomi, khususnya pasca panen. Sebagai pelaku ekonomi, Azwar, SE,. MM, Direktur PT. Dipo Technology melihat peluang bahwa D’ozone ini bisa dimanfaatkan petani hingga pelosok negeri.

“Kita melihat masyarakat petani harus kita tolong, harus kita bantu. Kalau bisa kita jangan impor karena petani ini punya power yang cukup besar. Ketika produk petani bisa bertahan selama satu minggu saja, itu bagi petani sudah sesuatu yang sangat berharga. Jadi niatan kita bagaimana produk ini bisa digunakan betul di kalangan petani,” jelas Azwar saat kami temui di kantornya di Kawasan Industri Candi, Semarang.

Alasan lain mengapa Dipo Technology tergerak untuk mendampingi CPR karena melihat belum ada pesaing yang memasarkan produk berdasarkan hasil riset perguruan tinggi.

“Bisa saja produk berbasis ozone itu banyak beredar, tapi hasil risetnya mana. Kemudian aman tidak produk tersebut. Nah, ini yang menjadi kata kunci kita karena kalau sudah hasil riset yang kita lakukan artinya produk yang kita buat pun tidak sembarangan, tidak sembrono,” lanjut Azwar.

Oleh karena itu, perguruan tinggi dan perusahaan atau pelaku industri harus bergandengan tangan agar hasil riset dapat digunakan secara luas. Menurut Azwar, pemerintah daerah dan pusat perlu terlibat pula. Pemerintahlah yang mengarahkan para petani untuk menggunakan teknologi plasma ini.

Kerjasama antara CPR dengan Dipo Technology terjalin sejak tahun 2008. Pendampingan dilakukan mulai dari proses penelitian dan pengujian di laboratorium CPR Fakultas Sains dan Matematika Undip, dan di laboratorium RSND. Pada saat hasil riset telah memasuki tahap menjadi sebuah teaching industry, maka peran Dipo Technology pada tahap ini adalah memikirkan desain produk yang layak dijual dan mulai melakukan uji pasar. Hingga saat ini, puluhan unit D’ozone telah digunakan kelompok-kelompok tani di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Kalimantan.  Demikian pula dengan Seazone telah digunakan para nalayan di pesisir pantai Jawa Tengah. Zeta Green juga sudah digunakan di RSND, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Hotel hingga Lemhannas. Bahkan Zeta Green kini tengah memasuki tahap pengembangan produk Zeta Green Mobile untuk sterilisasi kamar hotel dengan waktu singkat kurang dari 20 menit.

“Kami dari awal memang betul-betul mendampingi bagaimana produk ini menjadi sebuah produk yang layak jual, layak dikomersialisasikan. Nah, memang harus ada perusahaan yang mendampingi. Kalau hanya sekedar riset dari perguruan tinggi, banyak orang yang apriori dengan itu, banyak yang meragukan. Tetapi kalau perusahaan yang menangani, tentunya manajemen perusahaan itu kompleks. Ada produksinya. Produksi itu tidak sembarangan. Jangan sampai ada baut yang tercecer di produk tersebut. Ada manajemen keuangannya, ada puschasing-nya. Bagian purchasing ini yang menjaga bahan baku produk tersedia di pasar,” tegas Azwar, lulusan S2 Ilmu Manajemen FEB, Undip.

Sejak Februari 2021, Dipo Technology boyongan ke Kawasan Industri Candi, Semarang. Keberadaan Dipo Technology di kawasan industri ini semakin meneguhkan peran penting industri sebagai pendamping pusat riset perguruan tinggi dalam menghilirisasi hasil riset hingga menjadi produk komersial. Ijin produksi dan ijin edar tentu menjadi suatu keharusan bagi industri yang berkantor di kawasan industri terbesar di Jawa Tengah ini. Begitu pula dengan Dipo Technology. D’ozone dan Zeta Green, serta menyusul produk-produk teknologi plasma lainnya, telah menggenggam ijin produksi dan ijin edar. Artinya, produk siap diproduksi secara massal untuk digunakan secara luas oleh masyarakat. Inilah makna dari riset untuk rakyat. (Hariyani)