Tradisi dan budaya bisa dikatakan sebagai sarana pengikat bagi masyarakat Jawa yang memiliki status sosial, agama dan keyakinan yang berbeda. Dalam tradisi dan budaya Jawa,  terdapat nilai-nilai luhur yang berperan dalam membentuk karakter, secara fungsional mampu menjaga keharmonisan dalam masyarakat. Wayang sebagai salah satu seni tradisi memiliki posisi penting dalam budaya Jawa yang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan seni perlambang. Oleh karena itu wayang dianggap memiliki nilai sangat berharga dalam pembentukan karakter dan jati diri bangsa serta peradaban Indonesia, ia terus berkembang dari zaman ke zaman, digunakan sebagai  media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

Dr. Dhanang Respati Puguh, M.Hum., Dosen Sejarah Universitas Diponegoro tidak menyurutkan kecintaannya terhadap kesenian wayang dan tradisi Jawa di era modern sekarang ini, ia pun turut terlibat dalam pembinaan seni pertunjukkan tradisi diantaranya menjadi anggota Dewan Pembina Ngesti Pandowo Semarang.

“Sebagai dosen saya malah sering melakukan penelitian tentang seni pertunjukan tradisi Jawa dengan pendekatan sejarah. Artikel-artikel hasil penelitian itu dipublikasikan pada jurnal dan prosiding yang dapat diakses secara daring oleh masyarakat luas dengan harapan dapat memberi inspirasi bagi pembacanya agar dapat memberikan apresiasi terhadap seni tradisi Jawa” ungkapnya dalam wawancara tertulis, Kamis (8/4).

“Saya pun diminta oleh berbagai pihak baik lembaga pemerintah, provinsi, kabupaten atau kota, serta perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk menjadi narasumber dalam seminar, workshop dan sarasehan untuk bidang kebudayaan, khususnya kesenian atau seni tradisi Jawa. Pada kesempatan itulah saya menyampaikan gagasan dan pemikiran untuk menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi” terangnya.

“Saya juga terlibat dalam pembinaan seni pertunjukan tradisi di Undip melalui Unit Kegiatan Mahasiswa dan pementasan insidental untuk berbagai acara misalnya dalam rangka Dies Natalis dan Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi. Selain itu saya juga menjadi anggota Dewan Pembina Ngesti Pandowo, perkumpulan wayang orang legendaris di Semarang dan Ketua Dewan Pakar Persatuan Pedalangan Indonesia Kota Semarang dan beberapa kali memberi dukungan finansial untuk penyelenggaraan pergelaran seni, wayang kulit purwa dan karawitan Jawa di Kota Semarang” lanjutnya.

Berbicara mengenai wayang, tentu tidak terlepas dari kebudayaan Jawa yang tersohor tak hanya karena keunikan dan keindahannya, tetapi juga pemikiran orang Jawa yang terkenal sistematis dan kehidupannya penuh nilai-nilai filosofis. Dalam pandangannya, pencapaian tertinggi dari masyarakat Jawa itu adalah pengetahuan tentang sangkan paran dumadi yang sampai kapan pun tetap relevan, karena merupakan sesuatu yang hakiki dalam kehidupan manusia. Semaju apa pun dan dalam bidang apa pun tingkat perkembangan masyarakat, hal itu tetap harus menjadi pedoman hidup manusia. Manusia Jawa harus ingat asal-usul dan tujuan akhirnya: Allah SWT, Sang Murbeng Dumadi. Oleh karena itu, manusia Jawa harus selalu eling dan waspada; eling dalam asal-usul dan tujuan, dan waspada dalam proses pencapaian tujuan.

Menurutnya saat ini seni tradisi Jawa mengalami tantangan yang sangat berat di tengah kehidupan global. Upaya-upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi memang telah banyak dilakukan, tetapi hasilnya belum atau tidak seperti yang diharapkan. “Para seniman tidak mudah dalam mendapatkan sponsor atau dukungan untuk penyelenggaraan gelaran seni tradisi, mungkin karena  dianggap tidak dapat memberikan keuntungan bagi pemberi dana. Namun, masih banyak lembaga-lembaga yang menyelenggarakan kegiatan pelatihan seni tradisi Jawa untuk anak-anak saat ini dengan keterbatasan-keterbatasannya. Semua itu perlu mendapat apresiasi” ungkapnya. (Linda-Humas)