SEMARANG — Rehabilitasi Mangrove Model DBS (Dual Buffered Silvofishery) terbukti efektif dilakukan di tambak udang maupun tambak bandeng. Dosen dan peneliti di Departemen Biologi Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (UNDIP), Endah Dwi Hastuti, mengungkapkan hal itu pada pengukuhannya sebagai guru besar ekofisiologi tumbuhan pada sidang terbuka Senat Akademik, Kamis (27/5/2021). Dari hasil uji, model DBS juga diketahui memiliki tingkat kelulushidupan mangrove yang lebih baik dibandingkan model yang lain.

Prof. Endah, demikian sejawat dan mahasiswanya menyapa, membawakan pidato ilmiah berjudul “Pengembangan Model Integrasi Mangrove dalam Tambak Berbasis Ekofisiologi Tumbuhan untuk Pengelolaan Berkelanjutan” pada pengukuhan pencapaian derajat akademik tertinggi. Menurut lulusan Program Doktor Ilmu Lingkungan dari Sekolah Pasca Sarjana Undip ini, DBS adalah model integrasi mangrove yang dirancang untuk mengatasi kelemahan dan permasalahan model integrasi mangrove dalam tambak yang sudah ada. “Dalam Sistem DBS, penanaman dilakukan di input dan output tambak,” ungkap sosok yang sekarang penulisan resmi nama lengkapnya adalah Prof. Dr. Dra. Endah Dwi Hastuti, M.Si.

Mengacu data Food and Agricultural Organization (FAO), pakar kelahiran kelahiran Boyolali 5 Mei 1961 ini menyampaikan bahwa kekayaan mangrove di Indonesia yang mencapai 43 jenis adalah yang paling tinggi di dunia. Hanya saja 34 dari 43 jenis mangrove tersebut diketahui status status populasi terus menurun. Bahkan menurut data dari The International Union for Conservation of Nature (IUCN), 1 spesies tercatat termasuk dalam kategori kritis, 2 spesies terancam punah, 1 spesies rentan, dan 3 spesies mendekati terancam punah.

Salah satu yang faktor yang memberi berkontribusi cukup besar  pada penyusutan luas mangrove adalah konversi lahan mangrove menjadi tambak. Sebanyak 60% penyusutan terjadi karena alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak terutama yang terjadi di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Karena itu, rehabilitasi mangrove di tambak perlu didorong selain sebagai upaya pelestarian lingkungan, juga bisa memperbaiki ekosistem tambak agar lebih efisien.

Endah yang keseharian di kampus mengampu 12 mata kuliah, memang intens mendalami dan mengembangkan ilmu biologi. Semua mata kuliah yang diajarkannya seperti Fisiologi Tumbuhan, Anatomi Tumbuhan, Biologi Sel, Teknologi Benih, Ekofisiologi Tumbuhan, Fisiologi Hara, Fisiologi Pasca Panen, serta Bioremediasi dan Biofuel  berbasis pada biologi.

Model DBS, menurut nenek 5 cucu ini, adalah model yang dibuat sebagai upaya rehabilitasi mangrove di kawasan pertambakan melalui silvofishery. Upaya ini bertujuan untuk memulihkan tutupan mangrove dengan tetap memberikan ruang untuk kegiatan budidaya ikan. Model ini perlu dikembangkan karena integrasi ekosistem mangrove dalam tambak yang banyak diterapkan tidak optimal karena kurang mempertimbangkan aspek ekofisiologi tumbuhan sehingga tingkat kelulushidupannya tidak memadai.

Ekofisiologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tentang mekanisme makhluk hidup dalam merespons lingkungan mikro. Dengan mempertimbangkan aspek ekofisiologi untuk penanaman tumbuhan pada ekosistem artifisial, maka bisa diketahui kesesuaian lingkungannya sehingga bisa diperoleh efektivitas dan efisiensi penanaman seperti yang diharapkan.

Dia mengungkapkan, model Dual Buffered Silvofishery (DBS) sebagai model integrasi mangrove dapat mengatasi kelemahan dan permasalahan model integrasi mangrove yang lain. Melalui pengujian model DBS yang dilakukan  di Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang menunjukkan tingkat efektivitas yang lebih tinggi pada tambak wanamina (campuran mangrove dan tambak). Hal itu ditunjukkan dengan tingkat kelulushidupan, kandungan metabolit, serta tingkat pertumbuhannya.

“Pengelolaan ekosistem mangrove yang terintegrasi dengan tambak sangat baik dan diperlukan karena dapat menjaga fungsionalitas mangrove dalam tambak tetap optimal. Integrasi mangrove dalam tambak berbasis ekofisiologi yang dikelola dengan baik dapat memberikan dampak ekologi, ekonomi dan sosial yang positif. Secara ekologis, integrasi mangrove dalam tambak dapat menjaga kualitas lingkungan melalui jasa-jasa lingkungan yang disediakan,” ibu tiga anak yang menyelesaikan studi S1 dan S2-nya di Universitas Gajah Mada (UGM).

Adapun secara ekonomis, model integrase DBS yang optimal dapat mengurangi biaya-biaya pengelolaan dan meningkatkan produktivitas tambak. Adanya mangrove pada tambak akan mendorong munculnya pakan alami, sehingga bisa menghemat kebutuhan pakan buatan yang diperlukan dalam proses budidaya. Pemangkasan pada mangrove yang terlalu subur juga menjadi kompos yang yang berguna. Sedangkan dampak sosial yang dihasilkan antara lain diperoleh dari estetika lingkungan dan ketersediaan lapangan pekerjaan.

Selaku Kepala Departemen Biologi FSM Undip dia menyatakan bersyukus mendapat tambahan dua guru besar termasuk dirinya, sehingga kini memiliki 4 profesor. Istri dari Ir Sunarto MP ini juga berterima kasih atas kerelaan suami, anak dan cucu-cucunya memberi ruang dan waktu untuk menyelesaikan persyaratan administrasi untuk meraih jabatan akademik tertinggi. “Tidak mudah untuk melakukannya, karena tidak bisa diserahkan ke orang lain. Tapi Alhamdullilah semuanya bisa diselesaikan. Saya merasa menjadi profesor yang sesungguhnya karena diperoleh saat sudah memilki lima cucu,” ungkapnya setengah berkelakar. (tim humas)