SEMARANG – Tak lama lagi masyarakat bisa mengecek sendiri kualitas daging sapi yang akan dikonsumsinya memakai handphone android berpatokan pada SNI (Standar Nasional Indonesia) yang ditetapkan pemerintah. Inovasi pemanfaatan teknologi citra memakai kamera handphone yang dikembangkan Kusworo Adi, dosen di Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (UNDIP), bahkan mampu mengantarnya menjadi guru besar bidang ilmu fisika instrumentasi.

“Sementara ini inovasinya masih kami fokuskan pada daging sapi karena tingkat akurasinya yang masih di posisi 84 persen. Kami sedang berupaya menaikkan tingkat akurasi supaya lebih proven. Setelah itu baru kita kembangkan untuk jenis daging yang lainnya,”kata lelaki kelahiran Temanggung, 17 Maret 1972, yang semenjak Kamis (27/5/2021) sah menuliskan nama dirinya sebagai Prof. Dr. Kusworo Adi, S.Si., MT.

Dalam orasi ilmiah perdana sebagai guru besar bertajuk “Pemanfaatan Teknologi Citra Untuk Penentuan Kualitas Pangan”, yang disampaikan pada sidang terbuka Senat Akademik (SA) Undip, Kusworo mengatakan inovasi pemanfaatan teknologi citra untuk penentuan kualitas daging didorong kenyataan saat ini kemampuan mengecek kualitas daging masih terbatas pada kalangan pakar dan praktisi teknis saja. Padahal yang sehari-hari berhadapan dengan kondisi itu adalah masyarakat langsung.

Karena itu, untuk meningkatkan perlindungan konsumen, Kusworo memandang perlu ada inovasi yang sederhana dan dapat dioperasikan oleh masyarakat luas. Konsumen daging harus dihindarkan dari konsumsi daging sapi yang tidak berkualitas dan terjaga kemurniannya dalam artian tidak dicampur dengan daging hewan lain. Tentunya dengan cara yang affordable.

Karena itulah Kusworo yang menyelesaikan pendidikan S1 Fisika di FSM Undip dan menyelesaikan S2 dan S3 pengolahan citra di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini terdorong untuk merancang aplikasi yang mudah digunakan dan memiliki akurasi yang bisa dipertanggung jawabkan. Pilihan pada fasilitas kamera yang ada di android dilandasi pertimbangan hampir semua orang bisa mengoperasikan alat tersebut; sementara pemakaian parameter SNI 3932 : 2008 tentang mutu karkas dan daging sapi, karena itu adalah dasar legal yang ada saat ini.

Mengenai tingkat akurasi, ayah satu anak ini menyebut ada beberapa faktor. Yang prinsip, selama resolusinya di atas 4 mega pixel alat tersebut masuk kategori layak dipakai. Namun cara pemakaian dan teknisnya seperti jarak antara obyek dengan alat saat pengambilan, kualitas pencahayaan, serta sudut pengambilan juga bisa berpengaruh terhadap akurasinya.

Teknologi yang berkembang sangat pesat di segala bidang perlu didukung inovasi agar mampu membantu menyelesaikan permasalahan yang timbul. Teknologi citra diyakini mampu menguji kualitas pangan melalui proses analisis citra yang meliputi: machine learning, visi komputer, pengenalan pola, dan kecerdasan buatan.

Sebenarnya, ujar Kusworo yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Bisnis dan Komunikasi FSM Undip; implementasi teknologi citra untuk penentuan kualitas pangan sudah banyak dilakukan. Diantaranya penentuan kualitas untuk buah dan sayuran. Namun untuk daging yang nilai ekonominya cukup tinggi masih jarang, sehingga perlu didorong agar masyarakat luas bisa melakukannya secara mandiri.

Citra merupakan fungsi intensitas cahaya yang direpresentasikan dalam bidang dua dimensi, sedangkan citra digital adalah citra yang dihasilkan dari sinyal digital yang bersifat diskrit. Representasi citra digital dengan piksel tersusun dalam bentuk matriks (Lihat Gambar 1). Dari penelitian yang dilakukan, sistem menunjukkan bahwa akuisisi citra pada jarak 30 cm memberikan akurasi yang lebih baik dengan resolusi kamera 4 MP. Akuisisi citra dapat dilakukan dari berbagai sudut dengan posisi tegak lurus antara daging sapi dan kamera smartphone.

Gambar 1. Representasi Citra Digital RGB

Kusworo yang lulus S3 dari ITB dengan disertasi berjudul “Restorasi dan Phase Unwrapping Citra Komplek Dengan Pendekatan Minimisasi Energi Secara Stokastik” mengungkapkan hasil dari ekstraksi ciri seperti marbling score, warna daging, dan warna lemak kemudian diolah dengan menggunakan Rule Base untuk mendapatkan klasifikasi kualitas daging berdasarkan SNI 3932:2008. Proses itu sangat cepat, namun terukur. Adapun, perangkat lunak yang digunakan adalah android studio dan openCV.

Mengenai capaiannya sebagai guru besar, Kusworo mengaku sangat bersyukur. Dia berharap pencapaiannya dalam jenjang akademik tertinggi ini membuka persepsi masyarakat bahwa ilmu fisika sebenarnya dekat dengan hal-hal yang riil dalam kehidupan. “Fisika bukan hanya berisi teori-teori yang hanya ada dalam pemikiran, tapi ada dalam wujud praktis yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari,” kata pengampu mata kuliah  Sistem Visi Komputer, Elektronika Dasar, Instrumentasi, Jaringan Komputer, Pengolahan Citra, Analisis Citra dan Pengenalan Pola, Biometrika, serta Machine Vision ini.

Penerapan ilmu fisika dalam sektor pangan seperti yang dilakukannya, diharapkan menjadi pemantik minat bagi para siswa dan mahasiswa melakukan inovasi. Bagaimanapun teknologi modern yang mampu meningkatkan efisiensi proses produksi dan kualitas bahan pangan masih sangat dibutuhkan dalam mewujudkan ketahanan pangan. “Fisika, Kimia, Biologi dan Matematika bukan ilmu yang sulit. Siapa saja bisa mempelajarinya. Saya anak petani dari desa sudah membuktikannya,” tukas Kusworo. (tim humas)