SEMARANG – Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (UNDIP), Prof. Dian Ratna Sawitri,S.Psi.,M.Si.,Ph.D; mengatakan bahwa harmonisasi atau keselarasan karier antara remaja dan orang teruji sebagai salah satu penentu optimalitas perkembangan karier dan kesejahteraan psikologis remaja Indonesia. Kesimpulan tersebut diperoleh dari uji beragam model teoritik memakai konsep dan instrumen psikologis.

Pada pengukuhannya sebagai profesor di bidang ilmu Psikologi Pendidikan, Sawitri yang kini menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi Undip ini menyampaikan pidato ilmiah berjudul “Rekonstruksi Model Perkembangan Karier Remaja: Menuju Indonesia Emas 2045” di depan Sidang Terbuka Senat Akademik. Untuk menunjukkan kontribusi keselarasan karier remaja dan orang tua terhadap perkembangan karier dan kesejahteraan psikologis remaja, dia memakai konstruk dan instrumen psikologis untuk pengukuran yang  dikembangkan berdasarkan beberapa teori.

“Yang pertama adalah Teori Ekologi Perkembangan Manusia, dan yang kedua adalah Person Environment Congruence Theory ,” ujar akademisi yang meraih gelar PhD (Doctor of Philosophy) dari Griffith University, Australia pada tahun 2013.  Pada teori ekologi perkembangan manusia, interaksi individu dan lingkungan resiprokal dan saling mengakomodasi, diperkuat pendekatan kontekstual perkembangan manusia bahwa perkembangan karier merupakan proses interaktif antara individu dengan lingkungan fisik, sosial, dan budayanya.

Sedangkan pada Person Environment Congruence Theory disebutkan bahwa individu cenderung memilih lingkungan yang memiliki kesesuaian karakter dengan dirinya; tingkat kesesuaian antara individu dengan lingkungan berpengaruh penting bagi individu maupun lingkungan; dan penyesuaian antara individu dan lingkungan bersifat dua arah.

Congruence bisa ditafsirkan sebagai keselarasan, harmonisasi atau kesesuaian antara individu dan lingkungannya yang bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu complementary congruence sebagai suatu kondisi ketika karakteristik individu dan lingkungan saling melengkapi; dan supplementary congruence yakni suatu kondisi ketika individu memiliki karakteristik sama atau mirip dengan lingkungannya,” urai Sawitri yang merupakan mahasiswa angkatan pertama Program S1 Psikologi Undip, dan Lulusan Magister Psikologi Universitas Indonesia tahun 2008.

Lebih lanjut pengampu 11 mata kuliah di program S1, S2 dan S3 ini menyatakan teori tersebut kemudian diterapkan Kristof dalam setting industri dan organisasi  untuk membangun konsep person organisation fit (P-O fit), yaitu kesesuaian individu sebagai karyawan dengan institusi tempatnya bekerja. Aspek complementary fit mencakup needs-supply fit, suatu kondisi ketika kebutuhan individu terpenuhi oleh dukungan institusi, dan demands-ability fit yakni kondisi ketika individu memiliki kompetensi sesuai tuntutan institusi. Sementara aspek supplementary fit merupakan suatu kondisi ketika individu dan institusi memiliki karakteristik sama atau mirip.

Dosen yang aktif meneliti dan memiliki puluhan publikasi jurnal baik internasional maupun nasional ini kemudian mengadopsi konsep Kristof dalam konteks perkembangan karier remaja. Sawitri mendefinisikan keselarasan karier antara remaja dan orang tua sebagai “Persepsi remaja bahwa orang tua memfasilitasinya dalam melakukan eksplorasi,  perencanaan, dan pencapaian aspirasi karier, dan bahwa orang tua puas dengan kemajuan dalam hal karier yang telah dibuatnya, serta adanya kesamaan atau kemiripan minat, nilai-nilai, perencanaan, dan aspirasi karier antara dirinya dan orang tuanya”.

Bisa saja harmonisasi atau keselarasan tersebut berupa pilihan karier yang sama dengan orang tua, atau bisa juga karier remaja berbeda dengan orang tua tapi pilihannya adalah hasil eksplorasi bersama antara remaja dan orang tua. “Namun remaja yang proaktif pilihan kariernya tidak perlu selaras dengan orang tua karena mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi,” ungkap istri dari Abdul Azis dan ibu dari Aditya Putri Setyanegari.

Remaja dalam masyarakat dengan budaya kolektivis seperti di Indonesia, kata alumni SMAN 4 Semarang ini, biasanya merasakan ekspektasi orang tua dalam bidang akademik dan karier yang lebih spesifik dibandingkan dengan anak-anak dari budaya individualis. Ekspektasi karier orang tua telah lama diidentifikasi sebagai penentu utama perkembangan karier anak remajanya, khususnya di masyarakat dengan budaya kolektivis yang menekankan interdependensi, seperti di Indonesia.

Hal itu terjadi karena private-self dan collective-self tidak terpisah secara tegas. “Perilaku individu dalam masyarakat dengan budaya kolektivis tidak hanya didasari oleh kebutuhan dan keinginan pribadi, namun juga ekspektasi, evaluasi, dan pemikiran dari orang lain yang dianggap penting, misalnya dari orang tua,” kata dosen aktif pertama yang menjadi guru besar di Fakultas Psikologi Undip.

Untuk mengukur adanya keselarasan atau harmonisasi karier, ada indikator sederhana dari The Adolescent-Parent Career Congruence Scale yang sudah dikembangkan dalam bahasa Indonesia. Indikator tersebut terdiri dari 12 item, 7 pertanyaan untuk aspek complementary congruence dan 5 pertanyaan untuk supplementary congruence. Instrumen psikologis yang valid, reliabel, singkat, dan praktis ini diakui memudahkan peneliti dan praktisi menggunakannya untuk penelitian, asesmen, dan evaluasi intervensi psikologis.

Menghadapi Indonesia Emas 2030-2040 yang diprediksi akan mengalami bonus demografi  dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun), keselarasan karier remaja dan orang tua menjadi salah satu kunci sukses. Agar bonus demografi saat 64% tenaga produktif ada di antara 297 juta jiwa penduduk Bumi Nusantara saat itu, kualitas modal manusia menjadi penentu.

Remaja masa kini yang akan menjadi penduduk usia produktif di masa depan harus disiapkan memahami bahwa karier yang tepat bukan sekedar kegiatan mencari nafkah dan pemenuhan kebutuhan fisiologis. Karier berkaitan dengan kehidupan seseorang secara keseluruhan, seperti kepribadian, gaya hidup, status sosial ekonomi, jejaring, identitas sosial, termasuk pula ragam tantangan dan permasalahan yang dihadapi.

Sebagian besar orang dewasa rela menghabiskan sepertiga waktunya dalam sehari untuk pekerjaan yang ditekuninya. Bila waktu tersebut dihabiskan seseorang untuk melakukan aktivitas karier sesuai dengan kompetensi dan minatnya, selaras dengan ekspektasi dan dukungan orang tua, dan dapat membanggakan orang-orang penting di sekitarnya, ia diprediksi akan memiliki perkembangan karier yang optimal dan kesejahteraan psikologis yang terjaga.

Menyitir pendapat Erikson (1959), ketidakmampuan seseorang untuk menemukan identitas karier merupakan sumber masalah utama yang mengganggu kehidupannya dimasa remaja dan dewasa. Karena itu diingatkan agar masa remaja sampai dengan awal masa dewasa dimanfaatkan untuk pembentukan identitas karier. “Pembentukan identitas karier pada masa ini berkembang lebih pesat dibandingkan dengan domain-domain identitas lainnya.”

Atas pencapaiannya sebagai guru besar, putri dari pasangan Harinto  S.Sos., M.M. (alm) dan Suratminingsih, S.Pd.;  ini menyerukan para koleganya terus bersama-sama belajar. “Kapasitas belajar adalah suatu karunia, kemampuan untuk belajar merupakan suatu keterampilan, dan keinginan untuk belajar merupakan suatu  pilihan,” tukasnya (tim humas)