SEMARANG – Budidaya perikanan intensif sebagai kegiatan yang memiliki manfaat ekonomi dan menguntungkan, juga dapat menimbulkan permasalahan lingkungan kalau praktek budidayanya tidak mempertimbangkan aspek ekologis dan keberlanjutan (sustainability) sehingga menimbulkan gangguan lingkungan. Budidaya yang memang memiliki target keuntungan penting mengedepankan aspek keberlanjutan juga. Karena itu, dibutuhkan bantuan untuk mengoptimalkan produksi budidaya yang berkelanjutan dengan tetap menjaga aspek ekologinya diantaranya melalui serangkaian teknologi yang dapat berfungsi memberi informasi apabila sudah terjadi gangguan pada lingkungan.

“Sudah banyak studi mengenai dampak aktivitas budidaya ikan terhadap kualitas perairan dan sedimen dilakukan. Namun hasilnya bervariasi, mengindikasikan bahwa variabel abiotik lingkungan saja tidak cukup untuk menentukan kualitas lingkungan secara lebih komprehensif. Karena itu saya mencoba mengembangkan aplikasi biomonitoring yang dapat mengamati aktivitas budidaya,” demikian disampaikan Prof. Drs. Sapto Purnomo Putro, M.Si., Ph.D pada pidato ilmiah perdananya sebagai Guru Besar Biologi Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (UNDIP) yang berlangsung di Gedung Prof Soedarto SH Tembalang Semarang, Kamis (10/6/2021)

Pada pidato ilmiah di Sidang Terbuka Senat Akademik Undip yang diberi judul “Inovasi Pengembangan Aplikasi Biomonitoring: Sebuah Kontribusi Biologi Terapan untuk Industri Budidaya Perikanan Produktif Berkelanjutan”, Sapto yang meraih PhD dari Flinders University Australia tahun 2006 ini menyatakan tingkat gangguan ekosistem perairan bisa dilakukan dengan menggunakan struktur makrobenthos, yakni organisme dasar perairan baik berupa hewan maupun tumbuhan, yang hidup di permukaan dasar ataupun di dasar perairan.

Adapun proses biomonitoring yang mampu memantau variabel biotik dan abiotik,  tahapannya terdiri dari enam langkah. Dimulai dari pengambilan sampel sedimen, fiksasi, rinsing (pembilasan), sorting (pemilahan), preservasi (pemeliharaan), dan identifikasi untuk analisa data. Setelahnya, baru diketahui hasil asesmen dan rekomendasinya.

Pada sidang tersebut, Sapto Purnomo yang pada periode 2016 – 2019 menjabat Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Inovasi FSM Undip mengatakan, tingkat gangguan lingkungan dapat ditentukan dengan cara membandingkan kelimpahan dan biomasa komunitas makrobenthos atau yang dikenal dengan metode Abundance-Biomass Comparison (ABC). Dalam kondisi area terganggu, komunitas makrobenthos didominasi oleh organisme yang memiliki strategi “seleksi-r” dalam hidupnya, atau disebut spesies oportunistik. Makrobenhos tersebut memiliki ciri-ciri ukuran tubuhnya relatif kecil, masa hidup pendek, dominan dalam jumlah jenisnya namun rendah atau sedikit biomasanya, memiliki tingkat reproduksi potensial yang tinggi, dan maturasi dini.

Dominasi struktur makrobenthos dapat secara grafis diilustrasikan oleh kurva k-dominance kumulatif terhadap species rank. Pada aplikasinya, kurva k-dominance dapat menunjukkan tingkat dominansi taksa tertentu pada tiap stasiun sehingga dapat digunakan untuk menentukan tingkat gangguan lingkungan perairan.

Pendekatan grafis dan analisa multivariat yang dikembangkan pria kelahiran Tebing Tinggi, 26 Desember 1966 adalah ordinasi Non Metric Multidimensial Scaling (NMDS), yaitu memposisikan tiap stasiun pengambilan sampel, sehingga semakin dekat antar stasiun akan menggambarkan kedekatan struktur komunitas macrobenthos antara 2 stasiun tersebut, dan sebaliknya. Penggunaan ordinasi NMDS dapat menggambarkan tren perbedaan komunitas struktur makrobenthos antar ruang dan waktu. Hal ini dapat menentukan tingkat perbedaan dalam struktur makrobentik antara lokasi budidaya dan area referensi.

“Saya dan tim juga mengembangkan aplikasi software Early Warning System EWS-3SWJ untuk mengukur tingkat kualitas air pada lingkungan budidaya perikanan. Tingkat kualitas air ditentukan oleh aplikasi ini dengan memperhatikan komponen biotik dan abiotik serta indexnya. Setiap komponen memiliki tingkat bobot yang mempengaruhi hasil penentuan tingkat gangguan lingkungan. Bobot setiap komponen merupakan hasil ekstraksi kepakaran tim riset yang telah saya kembangkan dengan mendirikan Center of Marine Ecology and Biomonitoring for Sustainable Aquaculture (Ce-MEBSA)” tambah Doktor bidang marine ecology dengan judul disertasi Studies on the Structure and Distribution of Macrobenthic Assemblages Inhabiting Coarse Sediments Adjacent to Southern Bluefin Tuna Cages at Southern Spencer Gulf, South Australia.

Formulasi software yang dikembangkan tersebut menggunakan “smart algorithm” dan dapat menjadi acuan pengambilan langkah strategis, apakah sebuah station masih dalam kondisi layak untuk aktivitas budidaya atau perlu dilakukan penanganan tertentu agar optimalisasi produktifitas budidaya dan daya dukung lingkungan (carrying capacity) tetap terjaga.

“Aplikasi biomonitoring telah saya terapkan untuk praktek budidaya sistem Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA), merupakan pendekatan budidaya polikultur yang dilakukan dengan mengintegrasikan budidaya spesies yang dalam pertumbuhannya membutuhkan pakan tambahan, dibudidayakan bersama dengan spesies yang mampu mengekstraksi materi anorganik seperti rumput laut, dan spesies yang mampu mengekstrasi bahan organik seperti organisme pemakan suspensi (suspension dan deposit feeders), sehingga dapat meminimalkan dampak pengkayaan organik di area budidaya”, tambah dosen yang mengampu 16 mata kuliah diantaranya biosafety, biodiversitas, sistem ekologi dan biomonitoring.

Aplikasi IMTA diyakini mampu menjaga keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan (carrying capacity) di kawasan budidaya. “Budidaya perikanan berkelanjutan adalah spirit yang perlu terus ditumbuhkan dalam pemanfaatan sumberdaya perairan. Untuk itu, peran pemerintah, baik pusat maupun daerah sangat penting  diantaranya melalui alokasi anggaran pusat (APBN) dan anggaran daerah (APBD) untuk pembangunan sektor perikanan. Apabila pembangunan sektor perikanan sudah meningkat investor swasta pasti tertarik berpartisipasi, tentu saja dengan menekankan pentingnya praktik budidaya yang produktif, efektif dan efisien, serta berkelanjutan. Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia yang memiliki panjang pantai sekira 95.181 kilometer, potensi kita luar biasa” tutup ayah lima orang anak ini. (tim humas)