Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro, khususnya Departemen Akuakultur memperkenalkan konsep baru dalam perlindungan pesisir laut, hutan mangrove dan eksistensi tambak bagi petani. Konsep baru ini dinilai berhasil dalam menjaga ketiganya di tengah ancaman abrasi dan penurunan permukaan tanah di sepanjang pantura Jawa.Guru Besar Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip, Prof. Dr Sri Rejeki menjelaskan konsep baru ini bernama Associated Mangrove Aquaculture (AMA) atau sistem tambak terhubung mangrove.

Latar belakang konsep AMA ini adalah adanya adanya penurunan permukaan tanah yang disebabkan berbagai faktor. Mulai dari masifnya penggunaan air tanah, penebangan hutan mangrove yang akhirnya menyebabkan 640 hektare tambak hilang di Demak dan 900 hektare lainnya terdampak akibat penurunan tanah maupun abrasi. Abrasi mengakibatkan morfologi pantai berubah dan garis pantai berpindah. Akibatnya, kualitas lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat juga berubah. Apalagi, banyak petambak yang mulai kehilangan tambak dan menyebabkan pengangguran serta kemiskinan baru.“Konsep AMA ini berbeda dengan sebelumnya, silvofishery. Di mana mangrove tidak ditanam di pematang atau di dalam stambak,” kata Sri Rejeki dalam Webinar “Aquaculture Supporting Mangrove” Seri#1, yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.

Dalam webinar yang dibuka oleh Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip Prof Dr Tri Winarni Agustini tersebut menampilkan sejumlah narasumber, yaitu Project Manager and Researcher at The Chair Group Aquaculture and Fisheries (AFI) 2001-2019, Dr Roel H Bosma; Dosen Departemen Akuakulture FPIK Undip, Restiana Wisnu Ariyati MSi; Pengembang Komunitas pada Building with Nature Project yang memfasilitasi perencanaan 9 desa di Demak, Eko Budi Priyanto; dan peneliti pada Deltares, Ira Wardani.

Prof. Sri Rejeki menyampaikan umumnya tambak di pinggir sungai atau laut punya tanggul dengan lebar yang sempit atau langsung terhubung dengan badan air tanpa proteksi apapun. Sehingga rawan rob atau gelombang air laut. Konsep silvofishery yang menumbuhkan mangrove di dalam tambak atau pematang, kenyataanya hasil kurang optimal untuk budidaya maupun perlindungan pesisir. Karena penurunan kualitas air dan mangrove terlalu rimbun tanpa perawatan. Sistem AMA, pada prinsipnya adalah memperlebar tanggul yang berbatasan dengan sungai atau laut.

“Hal itu sebagai sarana menumbuhkan mangrove untuk greenbelt. Misal, tambak dengan lebar kurang dari 30 meter dari tepian aliran sungai atau laut, disarankan seluruh tambak sebagai sabuk hijau. Jika di atas 30 meter, maka bangun greenbelt 10 meter. Caranya dengan mundurkan tanggul tambak dengan membuat tanggul baru secara bertahap. Melalui cara ini biasanya mangrove akan tumbuh seiring terbentuknya sedimen. Kemudian dibangun tanggul baru berikutnya. Prinsip AMA, mangrove tak berada atau tidak ditanam di pematang atau di pelataran tambak. Konsep lama, sylvofishery, dimana pantai dan pematang tambak tak terlindungi’’ ujarnya.

Project Manager and Researcher at The Chair Group Aquaculture and Fisheries (AFI) 2001-2019, Dr. Roel H Bosma menjelaskan banyak negara yang abai terhadap hutan mangrove ini. Di sepanjang pantura Jawa, kerusakan hutan mangrove menyebabkan hilangnya permukiman, infrastruktur dan ratusan hektare tambak. Untuk itu perlu dilakukan perlindungan dengan melindungi hutan mangrove yang tersisa. “Kurangi penggunaan air tanah, peningkatan SDM masyarakat melalui pelatihan, mengganti tambak dengan mangrove,” katanya.

Dalam sambutannya Dekan FPIK Undip, Prof. Dr. Tri Winarni Agustini mengatakan webinar tersebut akan terbagi menjadi tiga series. Dua webinar lanjutan akan diselenggarakan dua pekan mendatang. “Ini momen bagus untuk mencermati tentang peran akuakultur dalam berkontribusi untuk pemulihan ekosistem mangrove,” tutur Tri Winarni.

Ketua Departemen Aquakultur FPIK Undip, Dr. Sarjito MAppSc sangat mengapresiasi terselenggaranya webinar ini. Webinar ini merupakan kolaborasi internasional dan disebar luaskan pada stakeholder pada bidang perikanan budidaya khususnya. Pembaharuan konsep, pola piker dan teknologi akan terus dilakukan oleh peneliti – peneliti  departemen ini untuk mendukung budidaya ramah lingkungan dan dalam  meningkatkan ekonomi pesisir.

Di akhir sesi, Lestari Widowati, MSi selaku master of ceremony sekaligus moderator, memandu diskusi beberapa pertanyaan dari peserta melalui zoom meeting dan youtube channel. Isu kepemilikan lahan, banjir rob, dan peningkatan produksi udang pada system AMA menarik antusiasme dari peserta webinar dan menjadi bahan diskusi yang menarik. Ucapan terima kasih kepada para donor dari Ecoshape foundation dalam project Building with Nature Indonesia disampaikan oleh Riri untuk mengakhiri webinar sesi 1 ini.