Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro, pekan lalu menyelenggarakan Webinar bertajuk Aquaculture Supporting Mangrove  seri ke-2 dengan tema Coastal Field School  atau Sekolah Lapangan Tambak pada Rabu (09/06). Webinar seri 2 ini menghadirkan sejumlah expert, akademisi dan praktisi lapangan yaitu Benjamin Brown, Ph.D (Charles Darwin University), Syafruddin, S. P (Balai Proteksi Tanaman pangan dan hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan), Ratnawaty Fadilah, M. Si (departemen Teknologi Pertanian Universitas Negeri Makassar), Weningtyas Kismorodati, M.Si (community development).

Benjamin Brown, Ph.D. selaku Chief Technical Advisor Yayasan Hutan Biru menjelaskan berkaitan dengan webinar seri 1, tanggal 2 Juni lalu mengenai MMA, Ben mengatakan bahwa Mixed Mangrove Aquaculture (MMA) yang diterapkan oleh proyek Building with Nature di Demak, menawarkan solusi yaitu pemberian insentif untuk “mengorbankan” sebidang tambak budidaya sepanjang 20m untuk rehabilitasi bakau. Mangrove yang terbentuk tersebut kemudian terhubung secara hidrologis dengan ekosistem sungai dan pesisir sehingga mampu mengurangi guncangan dan gangguan seperti banjir. Pendekatan Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) tersebut bersama-sama dengan pelaksanaan sekolah lapang (SL) pembudidaya akan menghasilkan praktik pengelolaan yang lebih baik.

Syafruddin, fasilitator SL dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Selatan yang menjelaskan SL memiliki kelebihan pada: meningkatkan kemampuan observasi dan pengetahuan petani/petambak melalui pembelajaran berbasis penemuan; membangun kepercayaan diri dan meningkatkan kapasitas pengambilan keputusan dan memecahkan masalah; mengubah keyakinan dan perilaku yang telah berakar; mendorong budidaya yang ramah lingkungan. Sedangkan kekurangannya adalah: waktu pelaksanaannya cukup; membutuhkan fasilitator yang berpengalaman; biaya cukup mahal. Agar SL bisa berjalan secara efektif dan komprehensif (segi: ekologi, ekonomi dan sosial) diperlukan desain kegiatan yang menarik agar semangat peserta selalu terjaga serta desain monitoring dan evaluasi yang efektif.

 Ratna Fadilah dari Yayasan Hutan Biru Makassar, Sulawesi Selatan secara lebih lanjut menjelaskan bahwa SL dikembangkan sebagai respon terhadap pendekatan pelatihan dan pemberdayaan yang secara umum biasa dilaksanakan namun hasilnya tidak efektif.  SL Tambak melakukan pendekatan yang bersifat inovatif, partisipatif, dan interaktif yang menekankan pada pembelajaran berdasarkan penemuan dan penyelesaian masalah agar masyarakat pesisir mampu membangun rasanya percaya diri serta memperluas pengetahuan lokal secara berkelanjutan.

Keberhasilan SL Tambak juga sangat tergantung pada keberhasilan pengorganisasian kelompok petambak. Weningtyas menegaskan bahwa pengorganisasian kelompok petambak akan memudahkan pencapaian tujuan SL. Durasi waktu Sekolah Lapang Petambak adalah minimal 1 siklus budidaya tambak (± 3-4 bulan) atau berdasarkan topik kultivan yang dipelajari. Di akhir sesi SL peserta  diajak untuk membandingkan antara demplot pembelajaran dan kebiasaan/pembanding. Hasil akhir SL adalah proses pemahaman secara menyeluruh (holistik) anggota kelompok belajar terhadap persoalan dan penemuan solusi (munculnya critical thinking), bukan mengenai kuantitas atau nominal hasil panen semata.

Secara khusus, Prof. Sri Rejeki, Restiana W. Ariyati dan Lestari L. Widowati dari Departemen Akuakultur, FPIK-UNDIP memaparkan pelaksanaan sekolah lapangan di kabupaten Demak. SL berperan secara efektif dalam meningkatkan produksi tambak melalui penerapan teknologi Budidaya Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah (LEISA), sehingga mampu meningkatkan pendapatan pembudidaya.  Prof. Sri Rejeki bersama tim memberikan penyuluhan dan pendampingan kepada lebih dari 270 petambak di 10 desa di Kabupaten Demak dari tahun 2016-2019.  Materi yang diberikan antara lain: Cara Budidaya Ikan yang Baik; pengolahan tambak yang benar; pemantauan kualitas air tambak (pH, salinitas, suhu, oksigen terlarut); pengamatan warna air tambak dengan color card untuk mengetahui pertumbuhan plankton setelah pemberian MOL (pupuk cair) dan penerapan LEISA untuk budidaya tambak yeng berkelanjutan.   Selama 3 tahun penerapan LEISA di 10 desa di kabupaten Demak, petambak yang telah mengikuti SL mengalami peningkatan produksi bandeng sebanyak 2 kali lipat (200%), peningkatan produksi udang sebanyak 25-50% serta memperkecil resiko kegagalan panen.

Seri ke-2 dari rangkaian 3 webinar Associated Mangrove Aquaculture yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom dan live streaming Youtube ini diinisiasi oleh Wetland International dan Ecoshape foundation, dengan kontribusi partner Departemen Akuakultur, FPIK-Undip, NGO Blue Forest dan Wetland Internasional Indonesia.  Antusiasme peserta terlihat dalam sesi QnA yang dipandu oleh moderator Ibu Woro Yuniati. Diskusi berlangsung menarik dengan para narasumber dan Dr. Roel H. Bosma yang ikut berpartisipasi dari Wageningen, The Netherlands melalui platform zoom. Webinar seri 2 ini dapat dilihat secara online melalui tautan you tube : https://www.youtube.com/watch?v=Undfqtjzc1Y&t=8847s&ab_channel=OfficialFPIKUNDIP, atau pada channel Official FPIK Undip.