Senat Akademik (SA) Universitas Diponegoro menggelar presentasi calon guru besar Undip dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dan Fakultas Kedokteran (FK), Selasa (22/6).

Dalam presentasinya, Dr. Ir. Abdul Ghofar, M.Sc., calon guru besar dari FPIK menyampaikan materi mengenai Pengelolaan Perikanan Tuna: Kemajuan, Dampak dan Tantangannya Bagi Indonesia. Ia mengatakan pengelolaan perikanan tuna mengalami pengayaan (enrichment) dari keterlibatan Indonesia di Regional Fisheries Management Organization (RFMO) dan menjalani program Fisheries Improvement Program (FIP) telah, dan akan terus memberikan dampak positif bagi pengelolaan perikanan tuna dan perikanan-perikanan lainnya. Secara  strategis setidaknya ada empat program pemerintah yang bisa mendapatkan manfaat, yaitu pengembangan pengelolaan  Wilayah Pengelolaan Perikanan-Negara Republik Indonesia (WPP-NRI), perencanaan dan implementasi pengelolaan perikanan yang lebih terstruktur dan terukur, integrasi antara kegiatan ekonomi-bisnis (perikanan) dengan konservasi, serta pemodelan yang lebih holistic yang menyangkut pembenahan perikanan, kebijakan pemerintah, termasuk investasi.

“Diperlukan suatu pemahaman yang lebih baik tentang pengelolaan perikanan sesuai Undang-Undang  No. 45 tahun 2009 juncto No. 31 tahun 2004, sebagai modal utama untuk penyelenggaraan perikanan yang lebih sehat. Dibutuhkan pula koordinasi yang lebih efektif antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota untuk pengelolaan perikanan yang lebih sehat guna merealisasikan ke empat program itu. Perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk memberikan kontribusinya dalam keseluruhan hal tersebut, melalui program Tri-Dharma perguruan tinggi atau learning centers yang dibangun di tiap  WPP” tuturnya.

Sementara dalam  kesempatannya, dr. Muhamad Thohar Arifin, PhD, PA, Sp.BS(K), calon gurubesar dari Fakultas Kedokteran membahas mengenai Implementasi Neuroanatomi Klinis Dalam Perkembangan Ilmu Bedah Saraf Fungsional.

“Ilmu bedah saraf adalah restorasi struktur neuro-anatomi. Pentingnya penguasaan neuroanatomi klinis bagi kemajuan ilmu bedah saraf yang merupakan suatu prasyarat wajib untuk setiap ahli dan residen bedah saraf. Pengetahuan neuroanatami kita dituntut untuk menyesuaikan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi bedah saraf berbasis neuroanatomi ditunjukkan dengan perkembangan intra operative monitoring, minimal invasive surgery, stereotactic surgery dan sistem neuronavigasi yang memungkinkan seorang ahli bedah saraf dapat melakukan operasi dengan presisi tinggi secara real time” ungkapnya.

Lebih lanjut dr. Muhamad Thohar Arifin mengatakan integritas pemahaman neuroanatomi, neurofisiology, cortical mapping dapat meningkatkan pelayanan pada pasien dengan kompleksitas tinggi (tumor, epilepsy) yang pada satu dekade sebelumnya masih tidak mungkin dilakukan. Pembedahan dengan pendekatan integritas neurofungsional (bedah saraf fungsional) harus menjadi “ruh” setiap ahli bedah saraf dalam melakukan praktiknya sehingga keselamatan dan kualitas hidup pasien selalu diutamakan. (Linda Humas)