SEMARANG – Memiliki buah hati (momongan) bagi pasangan suami-istri yang telah lama menikah merupakan sebuah anugerah yang luar biasa diberikan Tuhan. Terlebih buah hati yang dinanti-nantikan dapat lahir secara normal dan terhindar dari ganguan perkembangan seksual, salah satu di antaranya berupa hipospadia yang merupakan kelainan bawaan yang disebabkan tidak sinkronnya determinasi seks dan diferensiasi seksual selama perkembangan janin.

Pakar genetika medik dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP), Prof Dr Sultana MH Faradz PhD, membagikan tips bagi para ibu hamil agar bisa terhindar dari Hipospadia terhadap janin saat proses persalinannya. Salah satunya Porf Sultana mengajak para ibu hamil untuk mengurangi penggunaan obat penguat kehamilan. Sebab, penggunaan obat penguat kehamilan bagi ibu hamil yang marasa terancam keguguran tanpa resep dokter secara terus menerus bisa menyebabkan terjadinya Hipospadia, yakni suatu kelainan yang menyebabkan letak lubang kencing (uretra) bayi laki-laki menjadi tidak normal dan merupakan kelainan bawaan sejak lahir.

“Artinya penggunaan obat penguat kehamilan terutama bagi ancaman keguguran harus mendapat petunjuk dari dokter (jangan petunjuk bidan) karena obat ini harus dengan resep dokter dan dosis yang dianjurkan pada waktu tertentu saja, bukan terus-menerus selama kehamilan. Misalnya allylestrenol (nama generiknya) dengan dosis tinggi dan terlalu lama mempunyai efek samping  hypogonadism and sexual dysfunction (gangguan perkembangan alat seks genital, red),” ujar Prof Sultana, Koordinator Tim Penyesuaian Kelamin RS Kariadi Semarang dan Fakultas Kedokteran Undip/RS Nasional Diponegoro saat diwawancara, Selasa (22/6/2021).

Faktor lain penyebab Hipospadia, kata penerima penghargaan Achmad Bakrie dari Freedom Institute sebagai peneliti terbaik bidang Kedokteran pada 2012, adalah faktor lingkungan seperti penggunaan obat nyamuk bakar pada ibu hamil muda sepanjang malam. Sebab obat nyamuk bakar merupakan bahan kimia yang dapat mengandung endocrine disruptors. Gangguan ini dapat menyebabkan tumor kanker, cacat lahir, dan gangguan perkembangan lainnya tak terkecuali kerancuan kelamin.

“Penyebab lainnya yang paling sering adalah faktor genetik, kehamilan ganda atau kembar, kelahiran premature, usia ibu  hamil lebih dari 35 tahun serta orang tua yang merokok,” tegas Prof Sultana yang menjadi anggota Dewan Riset Nasional tahun 2005-2011.

Perempuan yang pernah menjabat Wakil Rektor Undip Bidang Pengembangan dan Kerja Sama tahun 2011-2015 ini mengingatkan, pada kasus pemain Timnas Voli Indonesia yang juga anggota TNI AD, Aprilia Manganang, hanya salah satu saja. Sebenarnya banyak kasus lain.

Disebutkan, pada rentang tahun 2004 – 2020 di lingkup Jawa Tengah saja yang berkonsultasi ke Cebior ditemukan 1.069 kasus gangguan perkembangan seksual. Dari kasus yang terdeteksi, 37% di antaranya merupakan Hipospadia, yakni kelainan yang terjadi pada saluran kemih dan penis. “Sehingga pada mereka sering (terjadi) salah menentukan jenis kelamin bayi,” katanya.

Karena banyaknya kasus hipospadia, Prof Sultana terus bergiat menyuarakan perlunya dibuat standar manajemen penanganan dan gangguan perkembangan seksual secara nasional supaya bisa dilakukan deteksi lebih dini dan penanganan yang maksimal sehingga penderita kerancuan kelamin bisa hidup lebih baik dan tidak mengalami kebingungan gender. “Kalau ditangani sejak dini maka tidak terjadi kebingungan dalam menentukan gender, pola asuh dan kualitas hidup penderita akan lebih baik,” tegasnya. (tim humas)