Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa  menetapkan tanggal 1 Juni  sebagai  Hari Susu Sedunia atau World Milk Day. Tujuan penting utama di balik penetapan Hari Susu Sedunia ini adalah untuk mengakui pentingnya susu dan produk susu dalam hidup kita.  Namun pada kenyataannya konsumsi susu di negara kita dikatakan masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Menurut drh. Dian Wahyu Harjanti, Ph.D, Dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, konsumsi susu masayarakat Indonesia per-kapita tahun 2020 sebesar 16,27 kg/kapita/tahun. Angka tersebut  sebetulnya mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019, yaitu naik sebesar 0,25%. Namun demikian, angka tersebut memang masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Konsumsi susu per-kapita pada tahun 2021 ini diprediksikan juga mengalami kenaikan. Beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan jumlah konsumsi tersebut diantaranya adalah jumlah penduduk yang meningkat, kesadaran masayarakat akan gizi seimbang juga meningkat serta pandemi COVID-19 yang mengharuskan kita untuk meningkatkan imunitas tubuh melalui asupan protein. Mindset masyarakat bahwa susu akan menyebabkan gemuk, jerawat, diare dll perlu diluruskan. Susu merupakan pangan yang memiliki nilai gizi yang mendekati sempurna. Kandungan gizi susu sangat penting untuk perkembangan otak, pertumbuhan, perbaikan sel, mendukung metabolism tubuh termasuk regulasi sistem imunitas.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa jumlah populasi sapi perah dari tahun ketahun memang cenderung stagnan. Namun jumlah populasi sebetulnya bukan merupakan penyebab tunggal rendahnya produksi susu nasional. Sebagian besar peternakan sapi perah di Indonesia merupakan peternakan rakyat. Jika populasi ternak ingin ditambah, misalnya melalui program bantuan ternak, maka pemerintah juga perlu mengkaji tentang kecukupan lahan untuk menanam hijauan berkualitas yang merupakan pakan utama sapi perah. Feeding management merupakan kunci sukses dari budidaya sapi perah. Jika populasi sapi perah ditambah, namun lahan hijauan dan bahan pakan konsentrat terbatas maka tujuan peningkatan produksi susu sulit untuk terwujud.

“Selain feeding management, kualitas genetik dan kesehatan sapi perah juga sangat mempengaruhi produktivitas sapi perah. Permasalahan kesehatan utama pada industri sapi perah adalah peradangan kelenjar mammary yang dikenal dengan penyakit mastitis. Prevalensi mastitis pada sapi perah di Indonesia yang cukup tinggi, yaitu mencapai 80% dan merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi dan kualitas susu. Upaya mengatasi mastitis, yaitu pencegahan serta pengobatan merupakan topik penelitian yang kami lakukan di Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah, Fakultas Peternakan dan Pertanian UNDIP” tuturnya.

Ia mengatakan sampai saat ini, pengobatan menggunakan antibiotik sintetis melalui injeksi secara intramammary adalah satu-satunya cara untuk mengobati mastitis. Namun demikian, penggunaan antibiotik sintetis berpotensi meningkatkan resistensi bakteri terhadap antibiotik, serta dapat  menimbulkan residu antibiotik dalam susu yang dihasilkan. Universitas Diponegoro mengembangkan antibiotik dan antiseptik dari bahan alam (herbal) yang efektif dan aman untuk ternak maupun manusia sebagai konsumen susu. Produk antibiotik herbal (phytobiotic) tersebut bernama MASTI-Herb dan DIPO-Dry yang telah diuji coba secara klinis pada ternak perah penderita mastitis.  Produk antibiotik herbal tersebut terpilih dalam “110 KARYA INOVASI INDONESIA PALING PROSPEKTIF – 2018” oleh Bussiness Innovation Centre (BIC). Sedangkan produk antiseptik herbal yang dikembangkan oleh UNDIP bernama AGERA-Mastic, IPO-GREEN dan I-CARE. Harapan kami, prevalensi mastitis dapat menurun, produksi dan kualitas susu meningkat, serta dapat menghasilkan susu yang aman untuk dikonsumsi karena tidak mengandung cemaran residu antibiotika.

“Produksi susu segar dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan susu nasional termasuk kebutuhan industri. Pada tahun 2020, kebutuhan susu nasional adalah sebesar 4.386 ribu ton, sedangkan produksi susu segar dalam negri sebesar 998 ribu ton. Artinya, hanya 22,8 % kebutuhan susu nasional yang bisa dipenuhi dari produksi susu lokal dan sisanya dipenuhi melalui import dari luar negri. Untuk mengurangi jumlah import, Pemerintah Bersama dengan parktisi di Perguruan Tinggi telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan efisiensi usaha peternakan sapi perah, termasuk peningkatan produksi susu sesuai potensi genetik ternak.” ungkapnya.

“Melalui tridarma perguruan tinggi, kami berupaya menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki untuk meningkatkan produktivitas sapi perah dan kesejahteraan peternak. Untuk mewujudkannya, kami bekerjasama dengan peternak dan stake holder terkait seperti pemerintah serta industri. UNDIP pernah melakukan kerjasama dibawah Kementerian Pertanian RI dan Pemerintah New-Zealand dalam kegiatan bernama Proyek Pengembangan Sapi Perah Indonesia atau Indonesia Dairy Excellence Activity , IDEA. Pada kegiatan tersebut, tim UNDIP dan tim dari New Zealand bekerjasama untuk meningkatkan kapasitas peternak rakyat di Jawa Tengah dengan membentuk focus farm dan bekerjasama dengan industri pengolahan susu. Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan edukasi dan training secara langsung di tujuh Kabupaten Kota sentra peternakan sapi perah di Jawa Tengah, termasuk didalamnya adalah kegiatan pendampingan, monitoring dan evaluasi. Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa yang secara langsung ikut terjun ke lapangan untuk memberikan pendampingan dan motivasi kepada  peternak, sesuai dengan peran mahasiswa sebagai agen perubahan.” terangnya.

Ia berharap agar generasi muda tidak takut untuk bermimpi menjadi peternak. Jangan takut dan ragu untuk terjun ke sektor peternakan. Beternak itu menjanjikan dan menguntungkan. Susu adalah “first food for human”, makanan pertama untuk manusia. Peternakan adalah salah satu tonggak yang menopang bangsa, NO FARM, NO FOOD.

Sudah banyak contoh generasi milenial yang menjelma menjadi peternak dan pengusaha muda yang sukses. Orang yang fokus di bidang peternakan bisa menghasilkan penghasilan yang juga sama baiknya dengan profesi lainnya, yaitu ada penghasilan harian, bulanan dan tahunan. Sebagai contoh, peternak sapi perah dapat menghasilkan penghasilan dari hasil penjualan susu yang diperah setiap hari, penghasilan dari menjual kotorannya untuk pupuk, penghasilan dari menjual anak sapi dan penghasilan dari menjual pakan ternak. Susu yang dihasilkan bahkan dapat diolah menjadi berbagai diversifikasi produk dan dapat dikerjasamakan dengan pihak lain seperti café dan restoran.

“Susu sangat dibutuhkan oleh manusia dari usia bayi hingga lansia. Dengan masih rendahnya suplai lokal, dan tingginya permintaan, maka bisnis sapi perah dan persusuan ini justru sangat prospektif. Apalagi jika ditambah dengan memanfaatkan teknologi digital, maka bisnis susu akan semakin menjanjikan. Susu membentuk generasi cerdas. Ayo minum susu setiap hari. Masyarakat sehat, imunitas kuat membentuk bangsa yang maju dan sejahtera” kata drh. Dian.

Sedangkan harapannya untuk kemajuan Undip menuju World Class University, UNDIP tercinta harus senantiasa mendukung lahirnya inovasi dan invensi dengan terus melakukan perbaikan dan peningkatan pada infrastruktur dan sistem. “Saya berharap UNDIP selalu memberikan support dan pendampingan untuk hilirisasi riset yang telah dilakukan, agar dapat dirasakan manfaatnya oleh peternak dan juga masyarakat sebagai konsumen pangan” pungkas drh. Dian, pakar di bidang keilmuan dairy science/Ilmu Ternak Undip. (Linda Humas)