“Teknik Sipil Universitas Diponegoro telah berdiri sejak tahun 1958, jadi tahun ini sudah berusia 63 tahun, sebuah usia yang cukup matang bagi suatu departemen. Teknik sipil usianya hampir setua UNDIP sendiri yang didirikan setahun sebelumnya yakni tahun 1957. Kemudian program studi magister Teknik sipil kami buka pada tahun 1998 dan Program studi Doktor Teknik Sipil berdiri sejak 2004” tutur Jati Utomo Dwi Hatmoko, ST., MM., MSc., PhD. selaku Ketua Departemen Teknik Sipil Universitas Diponegoro.

Visi Departemen Teknik Sipil Universitas Diponegoro, adalah menjadi institusi pendidikan Teknik Sipil yang unggul dalam pengajaran dan penelitian, sedangkan misi Departemen Teknik Sipil Universitas Diponegoro yaitu menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas tinggi dibidang ketekniksipilan yang didukung oleh tenaga akademik dan tenaga administrasi yang berkualitas, meningkatkan jumlah dan kualitas penelitian dan publikasi internasional dengan tetap memperhatikan PIP UNDIP, menyediakan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dalam menyelesaikan persoalan pembangunan, membantu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan pertamanya dan menjadikan Departemen Teknik Sipil sebagai tempat bekerja yang nyaman.

Menurut Dr. Jati, peluang kerja lulusan Teknik Sipil sangat terbuka luas. Apalagi lulusan Teknik Sipil UNDIP yang dikenal berkualitas, ulet, dan mempunyai daya resilience yang tinggi. Artinya tidak mudah putus asa dan menyerah pada segala tantangan yang dihadapi. Ini adalah hasil survei salah satu perusahaan BUMN konstruksi yang banyak menerima alumni Teknik SIpil UNDIP. Bahkan banyak alumni yang diterima di perusahaan konstruksi BUMN, sebelum mereka lulus, sehingga perusahaan-perusahaan tersebut berlomba-lomba merekrut para lulusan sedini mungkin sejak mereka masih kuliah.

“Ibaratnya siapa cepat merekrut, mereka mendapatkan yang terbaik. Ada yang memberi beasiswa ikatan dinas kepada para mahasiwa tingkat akhir. Dari sisi kebutuhan industri konstruksi sendiri, masih banyak dibutuhkan lulusan Teknik sipil. Pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang digaungkan pemerintah saat ini memerlukan banyak lulusan Teknik sipil untuk mengisinya. Untuk ke depan saya rasa juga demikian, selama bangsa Indonesia masih terus membangun, maka akan banyak kebutuhan terhadap lulusan Teknik Sipil” ungkapnya.

Dalam  menghadapi tantangan pembelajaran di era digital dan Revolusi Industri 4.0, Departemen Teknik Sipil banyak melalukan berbagai upaya dan strategi. Dr. Jati menuturkan salah satunya dengan implementasi Building Informasi Modelling (BIM). BIM ini merupakan suatu metode atau platform yang memungkinkan para pemangku kepentingan di industri konstruksi (yaitu pemilik proyek, konsultan perencana, kontraktor, sampai pengguna dari fasilitas terbangun) untuk bekerja bersama secara digital sepanjang siklus hidup proyek, mulai dari fase awal perencanaan, fase konstruksi, sampai pada fase operasi dan pemeliharaan. Dulu semua proses dilakukan manual, nah dengan implementasi BIM ini maka pelaksanaan proyek menjadi lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. Sehingga ada BIM 3D, 4D, 5D, 6D, 7D, sampai yang terkini 8D. BIM3 D bersifat basic modelling 3 dimensi, BIM 4D terkait penjadwalan, BIM 5D terkait biaya, BIM 6D terkait energi, BIM 7D terkait manajemen asset, dan BIM 8D terkait safety. Pemerintah sendiri juga mendorong implementasi BIM ini melalui PP 16/2021 tentang Bangunan Gedung dan Permen PUPR 22 /2018 dan PP 9/2021 ttg Pembangunan Gedung Negara dan Pedoman Konstruksi Berkelanjutan.

“Dalam merespon perkembangan Revolusi Industri 4.0 ini, Teknik Sipil telah mengajarkan mata kuliah Internet of Things (IoT) dan BIM. IoT merupakan mata kuliah sebagai bagian dari kurikulum wajib di Undip. Sedang BIM khusus hanya ada di Teknik Sipil. Jadi kami membekali para mahasiswa sipil dengan penguasaan tentang teknologi BIM ini, mengingat saat ini sedang banyak dibutuhkan ahli-ahli BIM di industri kostruksi.  Kami juga bekerja sama dengan beberapa provider BIM software untuk lebih mengenalkan BIM ini kepada para mahasiswa sipil. Saat ini kami juga merupakan ATC (Authorized Training Centre) BIM salah satu vendor BIM terkemuka di Jawa Tengah. Jadi mahasiswa kami bs belajar dan mendapatkan sertifikasi yang menunjukkan mereka sudah menguasai BIM tersebut” terangnya.

Perguruan tinggi memainkan peranan penting, sebagai pelopor dalam pengembangan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi serta menjadi kekuatan penggerak dalam transformasi sosial menuju kehidupan masyarakat yang maju dan modern. Telah banyak inovasi-inovasi yang dilahirkan oleh Teknik sipil, misalnya Pengembangan Permeable Paving Block dari Material Daur Ulang; Pengembangan Platform Database Pembelajaran Audit Investigasi Bangunan Publik; Metode Kuantitatif Evaluasi Terhadap Level Intensitas Guncangan Bangunan Pada Tiap Lantai Akibat Gempa; Pengkinian indeks kerusakan permukaan jalan (surface distress index/sdi); Metode Strengthening dengan Haunch Self Compacting Geopolymer Concrete (SCGC) pada Hubungan Balok Kolom (HBK) Beton Bertulang Dalam Sistem Rangka; Metode Penjangkaran dengan Coakan pada Perkuatan Eksternal Balok Beton Bertulang Menggunakan Lembaran Fiber-Reinforced Polymer (FRP); Metode Pembuatan Mortar Reclaimed Asphalt Pavement Dengan Perlakuan Awal Proses Pirolisis. Sedangkan untuk kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat diantaranya sosialisasi BIM untuk kontraktor kecil menengah, sosialisasi Biopori untuk mencegah banjir dan meningkatkan cadangan air tanah  dan pengelolaan Sampah di Waduk Diponegoro.

Kiprah dosen-dosen Teknik Sipil UNDIP pun tidak diragukan lagi diantaranya sebagai Ketua / Pengurus Asosiasi Ahli yaitu Prof Ayke – Ketua FIB beton Indonesia (Federation Internationale du Beton / International Federation for Structural Concrete (fib)  beranggotaan 45 negara, Prof Sri Tudjono – Ketua HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia) Jawa Tengah, Prof Sriyana – ketua Forum DAS Jateng, pengurus HATHI (Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia) Prov Jateng, ketua DPC PAPPRI Semarang, Prof Sri Prabadiani – ketua HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Jawa Tengah, dan Dr. Ferry Hermawan – Ketua Perkumpulan Ahli Keselamatan Konstruksi Indonesia DPW JATENG K3.

“Kami terus mendorong segenap civitas akademika di Teknik sipil Undip untuk terus berkarya dan berinovasi sesuai bidang keahlian masing-masing. Kita juga terus berusaha memperbaharui alat-alat laboratorium dan meningkatkan kapasitas dosen, mahasiswa dan laboran. Kita juga bekerja sama dengan pihak-pihak eksternal, baik dengan pemerintah, kementerian teknis (PUPR, Perhubungan, dll), perguruan tinggi mitra baik di Indonesia maupun internasional, maupun dengan para pelaku industri untuk meneliti, memecahkan masalah-masalah bangsa dan industri, serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi” tuturnya.

Minat masyarakat cukup tinggi untuk menuntut ilmu di Teknik Sipil Undip, baik S1, S2, dan S3. Teknik Sipil Undip termasuk 10 besar jurusan di Undip yang tingkat kompetisinya tinggi (1 kursi diperebutkan 30 calon mahasiswa). S1 berdiri sejak 1958, Jumlah lulusan S1 sudah lebih dari 7 ribu. Alumni sudah tersebar ke seluruh Indonesia. S2 berdiri sejak 1998, jadi selama 23 tahun ini sudah meluluskan 738 alumni (rata-rata meluluskan 32 orang per tahun). Saat ini jml mhsw aktif 186, termasuk yang terbesar di Undip. Utk S2, selain mahasiswa reguler kami aktif kerjasama dengan kementerian dan industri untuk S2 kerjasama dan yg terbaru S2 by research akan mulai semester depan. Konsentrasi di S2 Teknik sipil meliputi Sumber daya air, Transportasi, Teknik Struktur, Manajemen Rekayasa Infrastruktur, Manajemen Konstruksi, Geoteknik, Manajemen Rekayasa Bangunan Irigasi, Rekayasa Bendungan  serta Perawatan dan Rehabilitasi Bendungan. Sedangkan S3 sejak berdiri 2004, lulusan S3 sudah 79 orang (sudah 17 tahun, jadi per tahun meluluskan 4-5 org Doktor).

“Jadi sejauh ini sudah cukup banyak minat masuk ke Teknik Sipil bahkan sebenarnya kita malah agak membatasi dari sisi jumlah mahasiswa yang masuk. Hal ini untuk menjaga rasio jumlah dosen dan mahasiswa yg ideal, dan menjaga kualitas pembelajaran. Misalnya ada suatu masa di S3, S2 kita moratorium dulu mahasiswa yg masuk karena untuk menjaga kualitas Pendidikan dan pembelajaran. Tapi tentunya kami juga tidak berdiam diri, kami harus memperbaiki diri secara internal, baik di kualitas SDM, sarana prasarana, dan kerjasama dengan berbagai pihak.  Kita masih terus pengadaan dosen baru dengan kualifikasi S3, untuk menggantikan dosen-dosen yang memasuki usia pensiun” katanya.

“Contoh Capacity building dosen diantaranya kami mengirimkan 4 dosen ke IHE Belanda tahun 2017 dan 2019 untuk mengikuti short course tentang ttg polder system dan pantai. Saya sendiri juga berkesempatan mengikuti International Dean Course (IDC) yg diadakan di Jerman, Philipina, Indonesia tahun 2016-2017. Kami juga terus berupaya untuk pengadaan alat-alat laboratorium untuk menunjang pembelajaran dan riset. Jadi kami mempunyai laboratorium bahan dan struktur, laboratorium transport, laboratorium mekanika tanah, laboratorium sumber daya air dan laboratorium manajemen konstruksi. Selain laboratorium uuntuk pembelajaran dan riset, kami juga melayani masyarakat dan industri konstruksi, misal untuk uji beton, uji aspal dan uji tanah. Dari sisi publisitas dan komunikasi dengan para pemangku kepentingan, kami sedang merevitalisasi website Departemen Teknik Sipil, dan akun medsos untuk lebih mengenalkan sipil kepada para calon mahasiswa, orang tua mahasiswa, dan pihak-pihak lainnya” lanjutnya.

Dr. Jati menyampaikan dalam mendukung UNDIP menuju World Class University Departemen Teknik Sipil selalu siap, sedang, dan sudah berkonstribusi dalam mensupport UNDIP menuju WCU. Ada baberapa aspek yang telah lakukan dan dicapai yang mendukung indikator-indikator kinerja WCU, yakni Akreditas internasional (IABEE). Sejak tahun 2018 sudah terakreditasi internasional IABEE (Indonesian Accreditation Board for Engineering Education). IABEE merupakan lembaga akreditasi mandiri Indonesia yang mendapatkan pengakuan dari masyarakat internasional. Jadi saat ini, IABEE telah menjadi anggota Washington Accord (WA) dengan status Provisional Signatory. Washington Accord (WA) adalah sebuah perjanjian kerjasama internasional dalam bidang akreditasi program studi teknik (bachelor of engineering) di bawah payung International Engineering Alliance (IEA). Diharapkan IABEE dapat meningkatkan status keanggotaan ini menjadi Signatory pada tahun 2021.

Lebih lanjut Dr. Jati mengatakan Akreditasi internasional IABEE ini otomatis juag mendorong peningkatan kualitas pengajaran kami sesuai standar internasional khususnya di bidang Engineering. Sesuai standar IABEE, maka Departemen Teknik Sipil Undip menerapkan system OBE (Outcome-based Education), yaitu pendidikan berbasis outcome. Jadi kami dalam mengajar tidak sekedar mengajar, tapi kami memastikan capaian-capaian pembelajaran apa yang akan dicapai oleh para mahasiswa, sehingga mereka mempunyai bekal kompetensi yang memadai setelah lulus nantinya. Di S1 mempunyai program IUP (Internasional Undergraduate Program). Di IUP ini nantinya mahasiswa diharapkan mempunyai international exposure, sehingga mahasiswa bisa punya pengalaman internasional, meningkatkan pengetahuan, kapasitas. Dalam IUP kuliah dilakukan dalam Bahasa Inggris. IUP ini nanti akan mendorong terjadinya mobilitas mahasiswa dalam bentuk student exchange. Tentunya tidak hanya mahasiswa, tapi juga dosennya.

Sedangkan dari sisi mahasiswa internasional Teknik Sipil sudah meluluskan 40 mahasiswa internasional dr program magister Teknik Sipil Undip. Rasanya ini terbanyak di Undip. Saat ini kami ada 2 mahasiswa internasional S2, dari Palestina dan Timor Leste. Selanjutnya Kerjasama Pendidikan internasional, diantaranya Kerjasama Undip dg Asian Institute of Technology  (AIT) Bangkok Thailand dengan mengirim mahasiswa S2 kementerian PU untuk belajar ke sana, dengan skema CTS (Credit transfer) dan Kerjasama Pendidikan skema 3+2 dengan National Cheng Kung University (NCKU) dan The National United University (NUU) Taiwan. Kami sudah mengirim 16 mhsw sejak 2018. Peserta dapat gelar S1 dr Undip, mereka mendapatkan beasiswa dan gelar S2 dari universitas mitra tersebut.

Untuk penelitian kerjasama internasional, di Teknik Sipil melibatkan kerjasama dengan perguruan tinggi di luar, misalnya dr Univ Loughborough, Inggris, Nihon University, Jepang, National Cheng Kung University (NCKU) Taiwan, TU Delf Belanda, dll. Keberhasilan mendapatkan hibah penelitian internasional misal Newton Fund, UK & EPSRC, UK. “Dengan kerjasama internasional tersebut maka akan meningkatkan kualitas publikasi internasional dari dosen-dosen Teknik Sipil. Kerjasama-kerjasama internasional ini otomatis juga mendorong mobilitas para dosen secara internasional, baik dosen kami ke luar (Outbond) atau dosen tamu (Inbound). Biasanya dosen yang penelitian sekaligus menjadi dosen tamu di tempat kami, mereka ikut mengajar dan membimbing mahasiswa kami baik di S1, S2 dan S3” pungkasnya. (Linda Humas)