Di tangan Yelfia, alumni Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, ikan lele menjadi berbagai macam produk olahan  yang menarik. Ia mendirikan usaha dengan label MaRiSa Food pada tahun 2011 dengan membuat produk  makanan berbahan dasar ikan lele. Awalnya ia mengolah lele menjadi abon lele saja namun kini telah berkembang menghasilkan berbagai produk olahan ikan seperti ladrik, kripik kulit, fillet crispy, bakso, fish roll, nugget, tahu bakso, pastel abon dan otak-otak.

“Usaha yang saya jalani sekarang tidak terlepas dari latar belakang pendidikan di jurusan perikanan. Lulus kuliah saya bekerja di perusahaan swasta nasional, yang bergerak dibidang  pengolahan ikan. Tiga tahun bekerja disana, saya resign kemudian 1,5 tahun berikutnya saya mulai merintis usaha olahan ikan berbekal pengalaman kerja dan ilmu akademis yang dimiliki. Tentu modalnya adalah kesabaran, keuletan, terus berinovasi dan selalu konsisten untuk menghasilkan produk yang hiegenis, aman dan bergizi” tuturnya.

“Awal-awal pemasaran produk Marisa Food dari dari rumah ke rumah, melalui media sosial,  selanjutnya mendapatkan izin Produksi  Industri Rumah Tangga (PIRT) dan bergabung dalam program Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Purbalingga hingga pada akhirnya bisa memasuki toko-toko modern. Produk kami tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya seperti borax, MSG dan bahan pengawet lainnya, sehingga terjamin mutunya dan aman di konsumsi. Kedepan saya berharap tidak hanya mengolah ikan lele tetapi juga bervariasi dan berinovasi mengolah jenis ikan yang lain” lanjutnya.

Yelfi mengatakan FPIK merupakan jurusan yang yang sesuai dengan passionnya, ia masuk melalui jalur  Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) angkatan tahun 2002 dan lulus pada tahun 2006. “Pengalaman menjadi mahasiswa Undip tentunya banyak sekali, terutama mendapatkan ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat dan saya butuhkan dalam dunia kerja yang saya tekuni, saya  mempunyai fighting spirit, berjuang dalam keterbatasan, membagi waktu antara menjadi akademisi dan berorganisasi” ungkapnya.

“Generasi muda harus pandai-pandai dalam memanajemen waktu, fokus dalam tugas utama, tetapi juga tetap beraktualisasi dalam hal hal yang mendukung pengembangan diri untuk bekal setelah lulus nanti. Dunia kerja penuh tantangan dan peluang, banyak kegiatan-kegiatan positif yang bisa dilakukan, seperti berorganisasi untuk pembentukan karakter, menulis bagi yang hobi menulis ataupun berdagang untuk memupuk jiwa wirausaha” pungkasnya. (Linda Humas)