Vaksinasi Covid-19 di Indonesia ditujukan untuk menciptakan herd immunity. Pemerintah pun memprioritaskan program vaksin bagi lansia, guna melindungi golongan rentan tersebut dari potensi penularan virus corona.

“Vaksinasi ini juga penting bagi lansia karena kelompok usia lanjut lebih rentan terhadap infeksi virus Corona. Adanya penyakit penyerta dan kondisi fisik yang mulai melemah membuat lansia lebih sulit untuk melawan infeksi, termasuk Covid-19. Itulah sebabnya, lansia menjadi prioritas untuk menerima vaksin ini” ungkap dr. Yosef Purwoko, M.Kes., Sp.PD.K-GER, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Geriatri Rumah Sakit Nasional Diponegoro, Universitas Diponegoro.

“Vaksinasi bertujuan membuat kita lebih imun, lebih kebal, kita tidak bisa lepas, lari atau sembunyi terus menerus di era pandemi atau tidak bekerja. Ini implikasinya bermacam-macam termasuk kegiatan-kegiatan yang lain, sehingga ilmu pengetahuan berkembang  dan terbentuklah vaksin-vaksin dengan berbagai pusat-pusat uji vaksin dari mulai uji laboratorium sampai dengan post marketing” lanjutnya.

dr. Yosef menyampaikan secara alamiah kondisi lansia sebenarnya sudah rentan, karena ada salah satu organ bernama timus yang berada dibelakang tulang dada dimana dalam pertumbuhan usianya makin lama makin mengecil. Kelenjar timus merupakan bagian penting dari sistem getah bening di dalam tubuh, tugas penting kelenjar timus adalah memproduksi sel darah putih. Timus itu semacam tempat untuk belajar bagi sel darah putih salah satunya, limposit yang masuk di timus akan lulus leukosit yang akan berperan dalam imunitas seluler. Imunitas adalah kekebalan terhadap invader, atau apa saja yang masuk di tubuh kita.

“Lansia tidak bisa disamakan kondisi fisik dan selulernya atau jaringan yang ada didalamnya dengan orang dewasa, remaja atau anak-anak. Sehingga ada prasyarat  untuk diberikan vaksin diantaranya harus di screening, artinya pada lansia terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum dan sesudah dilakukan vaksinasi Covid19. Dalam kondisi sehat dan stabil, akan di screening, yang terpenting adalah kejujuran pasien misalnya terbuka mengatakan memiliki penyakit apa, sebab ada penyakit-penyakit yang saat ini stabil namun bisa terinduksi karena vaksin itu sendiri. Karena ini memasukkan zat asing mungkin dia memberi respon atau reaksi, reaksi yang muncul mendadak seperti reaksi alergi. Makanya tetap harus dipantau, setelah disuntik tidak boleh langsung pulang ditunggu dulu apakah ada reaksi. SOP nya sudah pasti screening, kemudian dilakukan vaksinasi lalu monitoring” tuturnya.

“Screening itu menjadi penting, untuk mengetahui keadaan individu yang akan di vaksin. Jadi misalkan lansia belum bisa di vaksin karena hasil screening ternyata ada penyakit bawaan, seperti kanker misalnya, kita beri pengertian yang baik dengan melakukan edukasi, komunikasi dan informasi, prinsipnya memberikan solusi, pengetahuan dan pemahaman, agar tetap menjaga kesehatan, protokol kesehatan 5 M dan tidak perlu khawatir berlebihan. Bagi masyarakat, terutama para lansia jangan takut untuk vaksin, dengan mengikuti syarat sesuai ketentuan atau prosedur dan mentaati prokes” pungkasnya.

Untuk informasi terkait bisa diakses di

https://www.youtube.com/watch?v=jA6p7rOvDJM&list=PLQk2NkLlo-a1hddbDrbnaZjsALI3AU3fA&index=14 . (Linda Humas)