SEMARANG – Bagi Ranny Ramadhani Yuneni, hasrat untuk ikut menjaga kelestarian dunia kelautan dirasakan mulai tertanam sejak dirinya kuliah Universitas Diponegoro (UNDIP) pada tahun 2009. Saat menjadi mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip, Ranny merasa bahwa pilihannya tepat dan dia benar-benar jatuh cinta pada kelautan.

Oleh karenanya, begitu lulus perempuan kelahiran Cilacap 20 Maret 1991 ini memilih berkativitas di bidang kelautan secara total. Sejak tahun 2013 dia memilih bekerja di WWF (World Wide Fund for Nature) Indonesia.  “Saat ini saya menjadi anggota WWF Indonesia pada Progam Kelautan dan Perikanan di Indonesia, khususnya mengkoordinir Spesialis Konservasi Hiu dan Pari,” kata Ranny saat diwawancara, Kamis (15/7/2021).

Ranny yang saat ini tengah menyelesaikan Program Studi Magister (S2) Ilmu Lingkungan Pascasarjana di Universitas Udayana Bali, mengaku bekerja dalam isu spesies laut (marine species) terutama Marine Megafauna seperti Hiu dan Pari. Sudah sembilan tahun lebih menjalani kegiatan di konservasi dan kelautan, alumni SMA N 2 Tanggerang ini mengaku tekadnya terjun ke bidang ini makin diperkuat setelah bergabung di Marine Diving Club (MDC) sebagai anggota angkatan XVII sejak tahun 2010.

“Setelah itu, saya bereksplorasi menyelam di banyak perairan dalam dan luar negara Indonesia dengan setidaknya >450 logs dive dengan level Advance OW PADI. Dalam memulai karir, saya ditempatkan di area yang cukup terpencil di Raja Ampat Papua untuk mengedukasi anak-anak terkait dengan pentingnya mencintai dan merawat terumbu karang dan Hiu di lautan,” dia menuturkan pengalamannya.

Atas kecintaan dan merawat spesias di lautan, saat masih berusia 20 tahun Ranny dinobatkan menjadi Manta Ambassador untuk mendukung adanya riset berkala Pari Manta di Kepulauan Komodo, Nusa Tenggara Timur di tahun 2013. Sejak itu pula dia makin konsisten mendukung pemerintah dalam pengelolaan Hiu dan Pari yang berkelanjutan.

Ia juga terus berinovasi dalam pengembangan teknologi mitigasi bycatch spesies laut dengan tujuan meningkatkan keloloshidupan (survival rate) spesies-spesies tersebut yang tertangkap tidak sengaja (bycatch). Selain itu dia juga mendukung beberapa riset daya dukung wisata penyelaman di kawasan perlindungan laut, dan aktif berperan dalam kampanye penurunan konsumsi hiu di WWF Indonesia yang dikenal dengan #SOSharks Campaign.

“Sebagai alumni Undip, saya sangat bangga. Banyak ilmu tentang kelautan yang saya peroleh di kampus yang sangat membantu dalam kegiatan yang saya lakukan sekarang. Bagi saya arti kesuksesan adalah dapat membagi ilmu seluas-luasnya dan dapat berperan untuk me-“mainstreaming”kan spesies laut terutama Hiu dan Pari di Indonesia,” terang perempuan alumni SMP N 1 Tanggerang.

Keterlibatannya dalam penelitian atau riset tentang dunia kelautan sekarang ini juga makin intens. Dalam program konservasi Hiu-Pari yang melibatkan lebih dari 60 mahasiswa misalnya, cakupan kegiatannya sudah menyebar dari wilayah Indonesia bagian Barat hingga Timur. Tak heran kalau namanya tercantum dalam berbagai publikasi seperti skripsi, tesis dan jurnal di 22 Universitas di Indonesia; juga  kontribusinya dalam penyediaan data kelautan secara nasional.

Ranny juga terus bergiat menginisiasi pelaksanaan Hiu-Pari Indonesia yang digelar sejak tahun 2015 sampai tahun 2021. Di forum ini lebih dari 350 riset nasional dan regional yang telah dipresentasikan, mulai dari biologi-ekologi, sosial-ekonomi, serta pengelolaan-konservasi. Ranny juga aktif dalam Threatened Species Working Group (TSWG) CTI-CFF yang melingkupi enam (6) negara di area segitiga terumbu karang dunia.

Selama karirnya, perempuan yang sudah menjadi member Shark Specialist Group (SSG) Asia (sebelumnya hanya Asia Tenggara) International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2016 ini mendapatkan pengakuan sebagai Women in Conservation di DIVE Magazine United Kingdom, dan dari WWF-Singapore dalam isu penyelamatan spesies terutama Pari Manta (manta rescue issue) dan spesies laut lainnya.

Seneng banget ini merupakan penghargaan yang luar biasa dalam karir saya. Tidak mudah mendapatkan penghargaan yang diinisiasi  dari luar negeri ini ,” ujar Ranny yang juga pernah magang di Species Endagered, Thretened and Protected (ETP) Jawa Timur, Maluku hingga Dobo – Kepulauan Aru.

Saran buat para mahasiswa Undip di tengah pandemi Covid-19, Ranny menyampaikan, agar mahasiswa sering-sering membuka laman Linkedin, terus perbanyak jaringan/networking dari semua lini baik itu pemerintahan, akademisi, NGO/LSM, dan swasta. “Selain itu jangan lupa bahwa alumni FPIK UNDIP juga tersebar dimana-mana, sehingga bertanya ataupun berkomunikasi dengan alumni juga sangat membantu mahasiswa saat ini untuk memberikan insight. Semangat!,” pungkasnya. (tim humas)