Jerawat merupakan kondisi yang terjadi pada kulit yang ditandai dengan adanya benjolan  merah meradang dan pada permukaan kulit. Kondisinya dapat bersifat ringan, sedang atau  parah. Jerawat ringan dapat digambarkan sebagai beberapa bintil kecil dan benjolan merah, sedangkan jerawat sedang dan parah melingkupi bagian yang lebih luas pada wajah, leher, punggung dan dada.

“Jerawat adalah suatu penyakit dimana ditandai dengan adanya muncul bintik kecil yang isinya sebum, bintil meradang bisa bernanah, biasanya terjadi pada remaja, dengan usia belasan tahun  hinggal 25 tahun kemudian akan menurun setelah dewasa. Kemunculan tersebut karena pengaruh hormonal, hormonal itu akan mempengaruhi produksi akan kelenjar minyak” tutur dr. Muslimin, Sp. KK, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro.

Menurut dr. Muslimin, jerawat bisa juga berkaitan dengan gennya, jika orang tua berjerawat kemungkinan anaknya juga bisa berjerawat. Jadi yang diturunkan sekitar 50% sampai 90% genetik. Namun tergantung juga ayah dan ibunya, kalau hanya satu, kecenderungan lebih kecil daripada kedua orang tua yang berjerawat. Orang Asia dan Afrika jerawatnya lebih banyak karena itu faktor genetik, tipe kulit berbeda, semakin kulitnya gelap kondisi jerawat bisa berat, sampai 20% populasi yang menderita jerawat akan berlanjut menjadi jerawat yang berat. Berbeda dengan eropa, kebanyakan kecil-kecil dan ringan.

“Secara umum jerawat akan muncul di daerah-daerah yang memiliki kelenjar minyak, yang paling banyak berada di wajah, dada, punggung, di lengan atas atau ditempat lain yang ada kelenjar minyaknya. Kelenjar minyak bisa dipengaruhi oleh hormonal, ia akan semakin meningkat, kemudian secara hormonal dapat mempengaruhi epitel atau kulit yang diluar dan pertumbuhannya akan berlebihan. Adanya epitel, sebum atau bakteri akan menyumbat saluran dari kelenjar minyaknya, akibat penyumbatannya itu akan terjadi peradangan. Tingkatannya mulai dari ringan, seperti komedonal, peradangan, benjolan kecil kemerahan, penonjolan berisi nanah hingga ada benjolan yang besar-besar” lanjutnya.

“Sedangkan bekas jerawat yang cekung-cekung bisa di subsisi atau pengirisan bagian bawah kulit dengan menggunakan jarum. Jadi kita lakukan anastesi lokal kemudian kita masukkan jarum lalu kita lepaskan jaringan parutnya yang di bawah. Saat jarum ditusuk, ikatan jaringan akan terlepas, sehingga kulit cekungan atau parut bekas jerawat di kulit perlahan naik” ungkap dr. Muslimin.

Ia juga menyampaikan pesan bagi para ibu yang menggunakan kosmetik, harus dipilih yang basisnya adalah basis air bukan minyak, mencuci wajah menggunakan sabun yang lembut, mencucinya tidak boleh terlalu sering, cukup mencuci wajah 1 sampai 2 kali per hari, kecuali setelah berkeringat banyak boleh dicuci lebih dari 2 kali. Jika kebanyakan sinar matahari dapat memicu timbulnya jerawat, pola makanan juga berpengaruh pada timbulnya jerawat, seperti fast food atau kadar gula yang tinggi. Sementara pada wanita yang mengalami menstruasi

biasanya muncul jerawat karena faktor hormonal. Memang kadar androgen tetap, tetapi kadar hormon estrogen dan progesteron akan mengalami perubahan siklus, sehingga jerawat muncul sebab hormon androgen yang dominan. Risiko kemunculan jerawat didukung dengan kondisi kulit yang lebih sensitif saat haid.

“Jerawat itu penyakit yang umum pada remaja, jika sering terjadi jerawat, perhatikan cara membersihkan atau merawat kulit, bagi para perempuan perhatian juga bahan-bahan yang diaplikasikan, bedak jangan mengandung basis minyak. Biasanya jerawat itu kecenderungan akan kronis tetapi sebenarnya dia akan sembuh sendiri, namun dampaknya secara estetika wajah tentunya akan berkurang dan membuat stress, tetap happy, kita bisa mengatasi jerawatdan konsultasi dengan dokter keluarga atau dokter spesialis kulit” pungkasnya.

Berita terkait dapat diakses di channel youtube https://www.youtube.com/watch?v=4r9PkPiQn9U&list=PLQk2NkLloa1hddbDrbnaZjsALI3AU3fA&index=13. (Linda Humas)