Ibu hamil juga merupakan salah satu pihak yang rentan  terkena Covid-19, mengingat ibu hamil memiliki sistem imunitas tubuh yang rendah, COVID-19 bisa saja menginfeksi. Di tengah serangan pandemi virus corona saat ini, meskipun virus corona pada ibu hamil akan menampakkan gejala yang sama dengan pengidap positif COVID-19 pada umumnya, ibu hamil perlu mengetahui dengan baik apa saja risiko yang dapat terjadi pada saat virus menginfeksi tubuh.

dr. Yuli Trisetoyono, Sp.OG (K), Dokter Spesialis Obstetri-Ginekologi Konsultan Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro menyampaikan bahwa serangan Covid-19 gelombang kedua ini lebih dasyat dan menimpa juga ibu hamil. Apabila dilihat dari kejadaiannya, di awal-awal kebanyakan pasien yang terpapar di usia 9 bulan, sedangkan angka yang bergejala tidak sampai 50% dan yang bergejala berat sampai ke ICU sekitar 4,5%. Tetapi pada serangan kedua ini benar benar dasyat kenaikannya, banyak pasien hamil yang umur-umur hamil masih muda, usia kehamilannya 29 minggu atau 30 minggu sudah terpapar dan dalam kondisi berat, tentunya meningkatkan mortalitas baik pada ibu hamil maupun pada janinnya.

“Jika ibu hamil kemudian diketahui positif covid harus mengikuti serta memperhatikan adanya gejalanya termasuk yang OTG (Orang Tanpa Gejala) maupun yang gejalanya ringan, misalkan demam, pilek dan batuk, atau gejala sedang bahkan berat. Dan harus ada koordinasi, jadi apabila pasien hamil covid segera lapor misalkan ke bidan, puskesmas yang terdekat atau melalui RT sehingga ada pengawasan” tuturnya.

“Mengenai makanan bagi ibu hamil yang positif Covid-19, tentunya tidak ada perbedaan. Artinya hamil tidak hamil, hamil dengan covid atau hamil tidak terpapar covid tentunya harus mengkonsumsi makanan yang bernutrisi dan bergizi tinggi. Orang hamil disarankan untuk mengonsumsi makanan yang bernutrisi, mengandung banyak zat besi, protein, vitamin karena kebutuhan tubuhnya meningkat, bahkan nutrisi itu meningkat rata-rata 1,5 sampai dengan 2 kali lipat” lanjutnya.

Menurut dr. Yuli, bagi ibu hamil  tanpa gejala cukup mengonsumsi vitamin misalnya tablet zat besi, kalsium dan asam volat. Apabila ada gejala ringan, dapat diberikan suplemen, vitamin C dosis tinggi, vitamin D dan Zinc. Vitamin D diberikan antara 1000 sampai 5000 unit per hari masih sangat aman untuk dikonsumsi ibu hamil, ditambah dengan berjemur agar terpapar sinar matahari. Dan juga disesuaikan dengan obat-obatan yang lain, misalkan sakit kepala dapat diberikan paracetamol yang dari puskemas. Pasien dengan gejala ringan yang isoman dapat diresepkan obat anti virus ataupun antibiotik, tetapi yang disarankan hanya anti virus  saja. Biasanya dokter akan memberikan Oseltamivir kemudian multivitamin yang mengandung vitamin C, Vitamin D dan Zinc. Untuk mendapatnya dapat menghubungi puskesmas terdekat atau dapat memanfaatkan Telemedicine, jika membutuhkan resep menggunakan Telemedicine yang resmi.

dr. Yuli juga menuturkan dalam hal persalinan seharusnya tidak ada perbedaan, dalam arti seorang pasien covid boleh melahirkan secara normal. Persalinan sesuai indikasi dibidang kebidanannya, misalkan normal atau tidak ada kelainan apapun bisa melahirkan secara normal.

“Bagi pasien-pasien hamil yang sedang isoman, tidak perlu terlalu panik, yang penting dibaca buku panduan pemeriksaan antenatal, sudah jelas sekali bagaimana panduan untuk mengetahui tanda-tanda persalinan, tanda-tanda kegawatan dalam kehamilan maupun persalinan. Jadi dengan membaca panduan itu kita tahu kapan harus menghubungi faskes atau puskesmas terdekat, serta bagaimana cara melakukan pemantauan kehamilan bagus atau tidak selama isoman. Selain itu dalam hal covid juga harus bisa merasakan gejalanya, apakah masuk ringan atau berat. Yang harus ke rumah sakit jika sudah sesak nafas atau nafasnya pendek-pendek, umumnya nafas itu 18 sampai 24 kali per menit, kalau lebih dari 30 kali berarti suatu tanda kegawatan.  Jangan panik namun tetap waspada” pesannya.

Berita terkait dapat diakses di channel youtube https://www.youtube.com/watch?v=sT6AvO9Bzxg. (Linda Humas)