Seorang sastrawan, seniman, pecinta atau penikmat seni tidak mengenal latar belakang pendidikan, agama, dan budaya. Siapa saja bisa jatuh hati pada seni bahkan menjadi seorang penyair ataupun sastrawan. Dan jarang diketahui ternyata ada banyak pakar ekonomi yang mencintai puisi, meskipun puisi mungkin tidak akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi maupun pendapatan nasional atau puisi tidak akan menemukan obat atau vaksin baru. Tetapi pada kenyataannya kekuatan puisi mampu menyentuh batin manusia, membangun semangat, empati, dan membuka paradigma sehingga manusia bisa berkarya untuk membangun perubahan sosial, bahkan peradaban.

Bagi Dr. Darsono, S.E., MBA., Akt, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Anggota Majelis Wali Amanat Undip sekaligus Dewan Komisaris Bank Jateng, di tengah kesibukannya sebagai seorang pengajar sekaligus menjabat, puisi telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia menyampaikan pandangan-pandangan hidup melalui puisi, menciptakan sekaligus membaca puisi-puisi sebagai bentuk kecintaannya.

Dr. Darsono menuturkan ketika SMA pernah bergabung di kegiatan teater, awal membaca puisi adalah karya dari WS. Rendra, diantaranya berjudul Sajak Orang Lapar. Kemudian ketika di Undip, menjadi pembina Teater Buih FEB dan sering mendampingi mahasiswa-mahasiswa pentas teater. Selanjutnya pada tahun 2018 menjadi inisiator lahirnya “Undip Berpuisi”, “Undip Berpuisi” diselenggarakan pertama kali pada tanggal 11 Oktober 2018 di Taman Inspirasi sekaligus sebagai perayaan Dies Natalis ke-61 Undip, dihadiri secara langsung oleh Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

“Hidup harus mempunyai hobi apapun hobinya, karena hobi bisa menjadi katup pembuka ketika kita bermasalah. Kesenian merupakan bagian dari hobi, suatu aktifitas kreatif, kreatifitas itu yang akan yang membuat inovasi-inovasi  yang meningkatkan peradaban sebuah bangsa, bangsa yang besar pasti dibangun dari sebuah kesenian. Sedangkan berpuisi sebagai bagian dari berkesenian adalah cara berpikir, ada pergolakan dari jiwa kita dan puisi itu sesuatu yang harus original, tidak boleh mencontoh. Kita bisa melihat Bali yang  hidup karena keseniannya.” terangnya.

“Di sebuah negara harus ada parameter di bidang kesenian, baik puisi, teater, orchestra  atau kesenian lainnya. Tidak menjadi permasalahan banyak sedikitnya penonton tetapi yang terpenting adalah makna, elaborasi dan menunjukkan eksistensi bahwa Undip memiliki kemajuan peradaban melalui seni-seninya. Kampus adalah pusat peradaban yang maju, puisi sebagai salah bagiannya menjadi  ekpresi dan eksplorasi dari sebuah pemikiran, kritik, kegalauan yang harus diungkapkan” lanjutnya.

Ada suatu pengalaman batin saat ia membuat puisi berjudul “Pangeran: Aku Diponegoro”, Dr. Darsono menggambarkan bagaimana sebagai warga Undip atau bagian trah Diponegoro menjiwai jiwa-jiwa Diponegoro. Kondisi-kondisi yang ada ditulisnya menjadi rangkaian puisi sekaligus bentuk kesadaran. Selain itu menurutnya pembacaan sejarah Diponegoro dalam bentuk Pupuh Babad Diponegoro juga menjadi sarana dalam mengingat sejarah.

“Upaya-upaya dalam memahami arti penting puisi ini yang harus kita mulai dari SD atau SMP, berkesenian yang murah bisa dilakukan dengan menulis di kertas untuk diungkapan sebagai bentuk kritik dan pemahaman yang baru. Melalui puisi, yang salah bisa diluruskan, puisi itu filsafat sehingga negara yang berfilsafat akan ketemu sari pati kehidupannya” ungkapnya.

Puisi dalam pandangan Dr. Darsono,  memiliki fungsi sebagai pintu gerbang untuk belajar tentang masa lalu, filsafat, memperluas pengetahuan dan pemahaman tentang dunia, mulai dari sejarah, jawaban akan kesulitan hidup, perubahan peradaban, hingga kearifannya. Inilah yang menjadi alasan puisi penting bagi kehidupan. “Ketika saya berpuisi, menulis  atau membaca puisi rasanya plong, ada sesuatu yang ingin saya sodorkan dan puisi menjadi terapi bagi saya. Para penulis puisi harus berani membacakan puisi di setiap event apapun, akan lebih menarik jika puisi diiringi dengan musik, setting bagus apalagi dengan penghayatan” ujarnya.

Sedangkan mengenai harapan untuk kemajuan Undip menuju World Class University (WCU), menurutnya ada batasan-batasan atau standar kualitatif yang harus dikembangakan untuk menyatakan WCU, mulai dari fasilitas, dari cara berkebudayaan dan dari cara melakukan pendidikan, dan sebagainya yang harus dibuka sehingga modal yang sudah ada akan terus meningkat. Harapannya di Undip memiliki Gedung Teater karena banyak civitas akademika Undip yang suka berkesenian.

“Masa pandemi ini kita juga harus tetap bersemangat, tetap bahagia bersama berkesenian. Semoga Undip maju, terus maju dan melaju” pungkasnya. (Linda Humas)