SEMARANG – Program Studi (Prodi) Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (UNDIP) membekali mahasiswanya dengan pengetahuan IoT (Internet of Things) dan Teknologi Informasi (TI) di semester pertama agar bisa mengembangkan keilmuan dan pengetahuan sesuai dengan realitas zaman. Pada momentum awal kuliah khususnya di semester pertama, mata kuliah IoT dan TI diberikan bersama dengan Pengantar Ilmu Perpustakaan, Ilmu Dokumentasi dan Pengantar Ilmu Informasi.

Ketua Ketua Prodi S1 Ilmu Perpustakaan FIB Undip, Dra Rukiyah M.Hum., mengatakan penempatan mata kuliah IoT dan Pengantar Teknologi Informasi di semester awal bertujuan agar dalam perkembangan keilmuannya para mahasiswa bisa melakukannya secara maksimal karena ditopang dengan pengetahuan pendukung yang sesuai realitas zamannya. “Sekarang ini digitalisasi dan teknologi informasi sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama, termasuk di ilmu perpustakaan. Karena itu, mata kuliah IoT dan TI diberikan saat pembentukan dasar disiplin keilmuan,” kata Rukiyah, Jumat (23/7/2021).

Yang pasti, menurutnya, Mata Kuliah IoT dan Pengantar TI sudah menjadi mata kuliah wajib, bukan mata kuliah pilihan. Sehingga semua mahasiswa tanpa terkecuali harus mengikuti dan lulus dua mata kuliah tersebut. “ Itu mata kuliah wajib yang ada di semester pertama yang disajikan bersama mata kuliah dasar keilmuan. Wajib diambil tanpa terkecuali,” dia menegaskan.

Dalam mempersiapkan lulusannya, Prodi S1 Ilmu Perpustakaan FIB Undip terus berupaya menyempurnakan kurikulumnya agar match dengan kebutuhan yang aktual. Karena itu Prodi Ilmu Perpustakaan selalu meminta masukan dari kalangan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dan lembaga-lembaga publik mengenai kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan dari lulusan ilmu perpustakaan.

Respons terhadap dinamika yang terjadi di dunia kerja serta hal-hal yang dihadapi para lulusan dalam konteks profesionalnya, menjadi bahan evaluasi dan penyesuaian kurikulum yang dilakukan secara rutin. Tentunya tetap mengacu pada regulasi yang ada, karena penyelenggaraan pendidikan tinggi memiliki aturan dan standar yang jelas.

Mengenai perkembangan dalam dunia kerja yang makin beragam, Rukiyah melihatnya sebagai sebuah kondisi yang memang harus dihadapi. ‘’Sekarang ini peluang kerja lulusan kami bisa ke banyak bidang dan sektor. Lulusan kami tidak hanya jadi pustakawan, tetapi juga bisa menjadi document controller, publisher, peneliti, academic librarian, subject specialist, cyberian, sifter information resources, information manager, infographic maker, content creator,  konsultan informasi, database administration serta analis data,” ungkapnya.

Perkembangan yang terjadi di era industry 4.0 yang terlihat dengan makin beragamnya jenis kegiatan dan spesialisasi yang muncul, menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara Prodi S1 Ilmu Perpustakaan Undip. Kebutuhan akan analis data digital misalnya, tentu tidak bisa dilakukan jika tak dilengkapi dengan keahlian IoT dan teknologi informasi. “Memang pengetahuan yang kami berikan tidak final, tapi para mahasiswa dan lulusan Prodi harus mengembangkannya sendiri.”

Sebagai Prodi di lingkungan universitas berstatus PTN BH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum) yang sudah mencapai Akreditasi A, Ilmu Perpustakaan FIB Undip yang lahir berdasarkan surat izin Dikti No.3025/D.T.2005 ini tergolong Prodi yang cukup cemerlang. Berdasarkan berdasarkan Surat Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), No.1178/SK/BAN-PT/Akred/S/N/2018 yang berlaku sampai dengan 2 Mei 2023, Ilmu Perpustakaan FIB Undip mendapat Akreditasi A. (tim humas)