Program Studi S1 Sejarah Universitas Diponegoro menyelenggarakan Workshop Metodologi Sejarah IV dengan tema Sejarah Visual. Hadir sebagai narasumber Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran (28/7).

Ketua Departemen Sejarah Undip, Dr. Dhanang Respati Puguh, M. Hum. menyampaikan harapan semoga workshop ini dapat membuka wacana tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga para dosen. “Sejarah visual ini penting sebagai suatu upaya yang mesti dilakukan agar para dosen dan mahasiswa Sejarah Undip untuk terus memutakhirkan ilmu sejarah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi”  ungkapnya.

Dalam materinya, Prof. Reiza menyampaikan bahwa Sejarah Visual adalah respon disiplin ilmu Sejarah terhadap berbagai perubahan besar di era disrupsi, dari era paper culture ke paperless culture. “Respon ini penting, jika ilmu sejarah tidak mau dianggap tidak mampu menghadapi tantangan zaman. Secara metodologis, sejarah visual pada dasarnya bisa dipahami dalam dua pengertian besar. Pertama, sejarah visual sebagai sumber sejarah dan kedua, sejarah visual sebagai hasil rekonstruksi sejarah. Dalam pengertian pertama, sejarah visual merupakan sebuah kegiatan atau proses pengumpulan sumber sejarah dalam bentuk visual, yakni berupa wawancara dengan para pelaku sejarah yang direkam secara visual dalam bentuk gambar bergerak” tuturnya.

“Dalam pengertian kedua, sejarah visual merupakan hasil rekonstruksi sejarah yang berbasis pada penggunaan sumber-sumber visual atau menjadikan sumber visual sebagai sumber utama dalam rekonstruksi sejarah. Dengan pengertian seperti ini, maka karya sejarah yang berkonstruk sejarah visual secara substansial akan kaya dengan gambar, baik bergerak maupun tidak bergerak, serta kaya akan deskripsi dan analisis yang berbasiskan fakta visual” lanjutnya.

Sejarah visual juga memiliki beberapa kemungkinan konstruksi, sejarah visual yang disajikan dalam bentuk tertulis dan sejarah visual yang disajikan dalam bentuk visual. Sejarah visual yang disajikan dalam bentuk tertulis, yakni sejarah visual yang menjadikan gambar bergerak maupun tidak bergerak sebagai objek kajian peristiwa sejarah tetapi kisah sejarah yang dihasilkan masih dalam bentuk tulisan. Sejarah visual yang disajikan dalam bentuk visual, menjadikan gambar bergerak maupun tidak bergerak sebagai objek kajian peristiwa sejarah dan kisah sejarah yang dihasilkan disajikan dalam bentuk visual, yakni berupa gambar bergerak maupun gambar tidak bergerak.

Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi, informasi dan komunikasi di era digital seperti sekarang ini tumbuh semakin cepat. Sisi positifnya adalah masyarakat yang menjadi pengguna aktif teknologi, situs-situs, serta media komunikasi sosial, mereka dapat menyampaikan informasi dan juga mendapatkan informasi secara lebih mudah. Tentunya banyak kemungkinan di masa mendatang, skripsi pun tidak lagi tertulis tetapi dalam bentuk visual.

“Sebagai sebuah gagasan yang baru, tentu gagasan mengenai sejarah visual ini tidak seratus persen diterima tetapi patut untuk dipertimbangkan sebagai upaya agar sejarah tetap bisa eksis” pungkasnya. (Linda Humas)