SEMARANG – Namanya unik: Mentari Diufuk Timur. Dia adalah salah satu alumni dari Program Studi (Prodi) S1 Bahasa dan Kebudayaan Jepang Fakultas Ilmu dan Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (UNDIP). Belajar di Bahasa dan Kebudayaan Jepang sepertinya memang cocok dengan nama yang disandangnya.

Kini, dia bermukin di negara Jepang dengan bekerja sekaligus kuliah di program S2 University of the Ryukyus, Okinawa, Jepang. Mentari yang masuk Undip tahun 2012 dan lulus tahun 2018, kini mengikuti studi di Faculty of Humanities and Social Sciences, dan menjalani kesehariannya sebagai pekerja part time di Mirai Nakagusuku Afterschool Daycare for special needs children, suatu sekolah atau kursus tambahan bagi anak-anak.

Pilihan Mentari melanjutkan S2 ke Negeri Matahari Terbit, karena ketertarikannya meneliti salah  satu Bahasa di Jepang yang hampir punah, yakni Bahasa Uchinaguchi, bahasa lokal daerah Shuri/Naha di Okinawa. ‘’Saya berminat meneruskan lebih lanjut penelitian S1 saya tentang bahasa yang terancam punah di Jepang, dan membandingkannya dengan keadaan yang terjadi di masyarakat Indonesia,” tutur Mentari Diufuk Timur.

Menurut dia, langkahnya itu adalah untuk meningkatkan awareness terhadap ketahanan berbahasa itu sendiri. Dia menuturkan, pertama kali mendengar tentang bahasa yang terancam punah saat mengikuti program pertukaran pelajar. Sejak saat itu dia bertekad melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Saya juga percaya bahwa melestarikan bahasa harus dimulai dari domain yang paling kecil, yakni keluarga dan anak-anak, karena itu saya mengambil pekerjaan yang berhubungan dengan care anak-anak,’’ jelasnya.

Adapun pekerjaannya sekarang, sebagai supervisornya anak-anak, semacam pengasuh, dilakoninya untuk lebih mengenal kehidupan masyarakat Jepang. ‘’Saya harus menemani mereka belajar dan bermain, problem solving dan support kehidupan sehari-hari karena anak-anak di daycare saya anak berkebutuhan khusus,’’ jelas Mentari yang mengambil program S2 dengan biaya sendiri.

Mentari mengatakan, jurusan yang diambilnya tak jauh dari linguistik. ‘’Karena saya dulu peminatannya linguistik, sekarang saya juga mengambil linguistik, spesifiknya sosio-linguistik,’’ jelas Mentari, yang suaminya juga bekerja di Jepang ini.

Mengenai proses belajar yang dijalaninya saat kuliah di Undip, khususnya di Program Studi (Prodi) S1 Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB, adalah pilihan sendiri didasarkan minat yang terbangun lama. ‘’Sejak kecil saya senang belajar bahasa, jadi saya senang sekali bisa mendapatkan kesempatan kuliah di Prodi S1 Bahasa dan Kebudayaan Jepang. Saya mempelajari bahasa Arab dan Inggris selama SMP-SMA, sehingga bahasa Jepang merupakan bahasa yang baru untuk saya. Saya juga berkesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang karena sudah mempelajari bahasa Jepang sebelumnya.”

Sosok yang sudah mahir berbahasa Jepang ini juga lancar berbahasa Inggris dan Arab. Kemampuannya berbahasa Jepang bahkan sudah diakui dengan perolehan Japanese Level Proficiency Test (JLPT) –semacam TOEFL untuk Bahasa Inggris, dari Nihongo Nouryoku Shaken level N2. Dia bertekad bisa meraih Level N1.

Mengenai semua yang diperolehnya sekarang, Mentari mensyukuri kesempatan pertukaran mahasiswa yang diperolehnya saat kuliah di Undip. Kesempatan itu membuat Mentari berkesempatan mengenal banyak dosen di University of the Ryukyus (Ryukyu Daigaku), termasuk bertemu dengan dosen pembimbing S2-nya, Prof Masahide Ishihara.

Saat ini dia mengaku mendapat penawaran kerja dari sejumlah pihak di Jepang, namun ke depan setelah lulus S2 Mentari belum bisa memastikan akan melanjutkan karier di bidang yang mana. Namun kemungkinan besar akan berkarier di Jepang terlebih dahulu. ‘’Suami saya bekerja di Jepang, jadi kemungkinan saya belum bisa ke Indonesia dalam waktu dekat. Saya pernah bekerja di LPK Cahaya Mandiri Indonesia dan terbiasa menjadi penerjemah, jadi saya berminat untuk menjadi penerjemah bahasa Jepang. Kebetulan sudah ada beberapa tempat yang menawarkan employment di bidang tersebut tapi saya belum memutuskan karena masih fokus dengan penelitian saya terlebih dahulu,’’ kata perempuan kelahiran Balikpapan, 28 Agustus 1994, dan lama tinggal di Solo karena mondok sejak SMP-SMA.

Sebagai catatan, Mentari semasa kuliah juga menorehkan beberapa prestasi seperti  menjadi Mahasiswa pertukaran pelajar tahun 2016/2017 ke University of the Ryukyus, Okinawa, Japan; menjadi peserta program Student Counterpart 1st Summer Course Program Center of Asian Studies Diponegoro University and Faculty of Education Nagoya University (2017), dan menjadi pendamping dan penerjemah bagi mahasiswa Jepang. Sebelumnya dia juga pernah menjadi Mahasiswa Internship di University of the Ryukyus Summer Japanese Business Internship program (2018) untuk magang di beberapa perusahaan Jepang di Okinawa. (tim humas)