“Pengalaman kuliah S1 di Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro meninggalkan memori yang berkesan atau kenangan indah baik tentang suasana waktu kuliah, dosen, pertemanan bahkan aneka  penjaja keliling di sekitar kampus terekam begitu jelas di ingatan.  Ilmu yang saya dapatkan waktu kuliah dulu, sekarang ini tentu sudah sangat berkembang. Saya juga masih berkesempatan bertemu dan ngobrol dengan para dosen, teman-teman bahkan mahasiswa S1 dan membuat saya makin penasaran akan perkembangan ilmu komunikasi” tutur Septi Wulandari calon mahasiswa baru yang lolos UM S2, Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Diponegoro

“Undip masih menjadi pilihan bahkan saya tidak memikirkan kampus lain untuk tempat studi lanjut, akhirnya memantapkan diri mengambil S2 di Undip. Undip itu sudah menjadi bagian hidup saya, setelah lulus SMA saya diterima di Undip pada tahun 2003, selepas lulus saya juga masih sering diajak berkolaborasi dengan dosen Undip dalam beberapa kegiatan meskipun  skala kecil. Saya melihat perkembangan Undip sangat maju pesat” lanjutnya.

Keinginan Septi melanjutkan studi  di Magister Ilmu Komunikasi sudah muncul sejak 5 tahun lalu namun karena masih khawatir belum bisa membagi waktu  dengan baik antara pekerjaan, kuliah dan urusan rumahtangga, ia meredam keinginannya. Namun pada akhirnya dengan tekad bulat ia mulai mencoba mendaftar secara online dan memilih kembali jurusan Komunikasi guna mendukung kariernya di ranah media yang selama ini ditekuninya.

“Tidak ada kendala selama proses ujian masuk. Saya mengikuti prosedur, mulai dari pendaftaran, ujian hingga verifikasi berkas. Yang cukup membuat saya agak insecure adalah saat ujian tertulis mengenai pemahaman materi ilmu komunikasi.  Jujur karena sudah terlalu lama berkecimpung di dunia profesional, saya sudah tidak begitu ingat tentang teori-teori komunikasi atau menulis karya ilmiah. Tapi karena saya bersemangat sekali dan belajar jadi semua berjalan lancar. And here I am, Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, sungguh saya bersyukur dan berbahagia bisa lolos” ungkapnya.

“Pergi ke sekolah untuk mendapatkan pendidikan formal kita lakukan sejak kecil dari TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah. Tapi sejak kapan kita benar-benar sadar bahwa sekolah itu penting guna mendapatkan ilmu dan mengembangkan wawasan. Ada yang belum sadar jika pendidikan penting, ada yang sudah sadar sejak duduk di bangku SD, ada yang baru sadar setelah sekian lamanya berlalu.  Kapanpun waktunya, tidak ada kata terlambat, kita tidak boleh berhenti belajar. Berpendidikan itu  penting dan tidak akan pernah sia-sia” pungkasnya. (Linda Humas)