“Pramuka berperan penting dalam pendidikan karakter di Indonesia di luar kegiatan belajar mengajar. Tanpa kita sadari, semua orang pasti pernah mengikuti Pramuka walaupun hanya di sekolah dasar. Beberapa ilmu yang dipelajari saat kegiatan Pramuka pasti ada yang melekat hingga kita beranjak dewasa, terutama pelajaran mengenai kehidupan bermasyarakat. Organisasi Pramuka juga memiliki kode kehormatan berupa Satya dan Darma Pramuka yang apabila diamalkan maka dapat menciptakan generasi dengan perangai yang ideal. Sedangkan bentuk konkrit pentingnya Pramuka dalam kehidupan yaitu, Organisasi Pramuka sering terjun langsung dalam kehidupan masyarakat seperti membantu mengatur lalu lintas, penanaman pohon, sosialisasi kesehatan, bakti masyarakat, bahkan pada masa pandemi sekarang Pramuka membentuk Pramuka Peduli yang bertugas sebagai Relawan Covid-19”. Hal tersebut disampaikan Rizqa Tri Wulandari, Ketua Dewan Racana Diponegoro – UKM Pramuka Universitas Diponegoro Gugus Depan 11.046.

“Saya sudah bergabung dengan organisasi Pramuka semenjak SMA dan merasa organisasi ini adalah wadah yang tepat bagi saya untuk mengembangkan diri. Sewaktu masuk SMA, saya hanya seorang diri dan tidak memiliki teman dari SMP yang sama. Lalu saya mengikuti organisasi Pramuka, menjadi pengurus atau Dewan Ambalan, dan memenangkan beberapa perlombaan tingkat daerah dan mengikuti kegiatan tingkat nasional. Dari sini saya sadar bahwa saya bisa berkembang dan memiliki banyak sekali relasi baik dari dalam sekolah, maupun luar sekolah. Dari sini saya ingin melanjutkan bergabung ke Racana Diponegoro, apalagi Racana Diponegoro adalah salah satu dari 4 UKM Inti dan merupakan UKM tingkat Universitas, pastinya relasinya lebih luas dan kegiatannya lebih bervariasi” tuturnya.

Rizqa menyampaikan kegiatan UKM Pramuka Undip selama pandemi ini difokuskan pada pengembangkan softskill dan skill kepramukaan Anggota Racana Diponegoro. Menyelenggarakan kegiatan dengan dasar value added atau bisa menambah nilai dari anggota, misalnya Work Class Radip (kelas untuk mempersiapkan dunia kerja), Ningrum (Learning Forum, kegiatan sharing untuk meningkatkan softskill anggota, terutama di bidang komunikasi dan public speaking), Webinar Survival (Webinar dengan materi tentang pengetahuan kepramukaan dan cara untuk bertahan di alam bebas dan bencana alam).

“Disamping itu, karena para anggota tidak bisa bertemu secara langsung, kami juga mengadakan kegiatan santai dengan tujuan untuk bersenang-senang dan bonding anggota, contohnya yaitu Areng Aring (Sharing santai antar anggota), One Hour Closer (Live Instagram dengan pemateri dari eksternal Racana Diponegoro). Selain itu kegiatan rutin kami juga terus berjalan, seperti kegiatan kaderisasi, Dipovibes (Lomba Pramuka Penegak Se-Jawa Tengah), perayaan hari ulang tahun, renungan hari-hari besar Pramuka, Musyawarah Pandega, dan pelatihan minat bakat anggota” lanjut mahasiswi S1 Akuntansi Faklutas Ekonomika dan Bisnis ini.

“Harapan saya di Hari Pramuka ke-60 ini semoga pandemi segera berakhir agar kegiatan Pramuka di Indonesia dapat dilaksanakan di lapangan kembali, dan saya yakin Pramuka pasti dapat beradaptasi, memaksimalkan penggunaan teknologi, terus berkreasi, dan berinovasi untuk memajukan negeri. Jaya selalu Pramuka Indonesia!” harapnya.

Rizqa mengungkapkan bahwa pendidikan dan organisasi itu sangat penting. Dalam menempuh pendidikan formal, siswa mempelajari suatu hal secara teori, selanjutnya belajar mempraktikkan teori tersebut melalui organisasi. Selama  berkuliah, ia telah berdinamika dalam kelompok-kelompok dan komunitas di luar kampus. Dari pengalaman itu ia menjadi tahu, bahwa akan sangat berbeda orang yang mengikuti organisasi dan yang tidak mengikuti organisasi. Orang yang mengikuti organisasi akan cenderung lebih menghargai pendapat teman, berdiskusi dalam memutuskan sesuatu, mudah beradaptasi (tidak condong pada satu kelompok), dan memiliki jiwa leadership. Ia mengatakan selagi masih diberikan waktu, harus bisa mengeksplorasi kemampuan yang dimiliki, salah satunya dengan berorganisasi.

“Di era digital ini, dengan kemudahan mengirimkan berita dan mengomentari sesuatu, tanpa sadar kita dapat menyakiti bahkan memprovokasi orang lain. Maka dari itu, sebagai mahasiswa yang mendapatkan pendidikan lebih, kita harus memberikan contoh yang baik  kepada orang lain dengan bijak dan mengontrol jempol kita saat menyentuh layar hp. Selain itu, selagi masih diberikan waktu, kesehatan, dan kelapangan, kita harus benar-benar memanfaatkannya untuk belajar lebih dan untuk mengeksplorasi potensi kita, agar di masa tua nanti tidak ada penyesalan yang tersisa” pesan Rizqa. (Linda Humas)