Caulerpa lentillifera atau yang biasa disebut masyarakat Rembang sebagai latoh adalah salah satu komoditas lokal yang potensial untuk dikembangkan. Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk membudidayakannya masihlah rendah. Kandungan gizi yang tinggi dan potensi untuk ekspor ke negara-negara seperti Jepang dan Korea belumlah menggugah minat masyarakat di Rembang untuk mengelolanya secara serius. Selama ini latoh hanya dicari secara tradisional dan tidak dibudidayakan secara masif. Pasalnya dulu masyarakat mendapatkannya dengan mudah, tinggal pergi ke pantai dan latoh sudah dapat ditemukan dengan mudah. Masyarakat merasa tidak perlu membudidayakannya karena dianggap sebagai sesuatu yang mudah dicari, maka tidak perlu dilestarikan. Hingga sekarang tiba suatu masa di mana latoh sudah jarang ditemukan dan harganya di pasaran juga relatif mahal bagi masyarakat sekitar. Padahal masyarakat di Rembang memiliki budaya untuk mengkonsumsi latoh, yaitu mengolahnya menjadi urap.

Berkaca kepada realita yang ada, tim Program Kreativitas Masyarakat-Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) dari Universitas Diponegoro mencoba untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada. Tim yang beranggotakan Bahrul Ulum Habiba, Aji Rusanto, Zavia Ananda Safitri, dan Chrissilia Yunia Atmojo yang dibimbing oleh Kadhung Prayoga, S.P., M.Sc inipun memprakarsai untuk membuat “Ekowisata Latoh Berbasis Masyarakat Sebagai Upaya Pelestarian Komoditas Lokal di Daerah Pantai Utara Jawa Kabupaten Rembang”. Keempat mahasiswa ini memilih Desa Pantiharjo yang berada di Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang sebagai desa percontohan. Berdasarkan penuturan dari Bahrul Ulum Habiba selaku ketua tim, desa ini dipilih karena mayoritas masyarakatnya adalah nelayan yang terdampak pandemi, pendapatan mereka bahkan harus turun hingga 50%. Terlebih ibu-ibu di Desa Pantiharjo juga tidak memiliki kegiatan produktif. Harapannya dengan adanya program ini pendapatan keluarga nelayan meningkat dan bisa terbentuk kawasan ekowisata latoh yang sekaligus mengedukasi masyarakat sekitar.

Kondisi sekarang di Desa Pantiharjo adalah hanya terdapat satu orang saja yang bekerja sebagai pencari latoh. Hal ini dilatarbelakangi risiko dalam pengambilan latoh, pencari latoh harus menyelam sedalam kurang lebih satu meter dan dilakukan saat tengah malam jika ingin mendapatkan hasil optimal dengan kondisi yang segar. Tetapi, pencarian latoh tidak bisa dilakukan setiap hari karena masalah musim dan ketersediaan latoh di alam. Karenanya, program pengabdian masyarakat yang dibuat ini menggunakan kolam sebagai media budi daya latoh. Teknik ini dirasa ideal karena sederhana, tidak membutuhkan biaya yang tinggi, serta mudah dalam perawatan alat maupun komoditasnya. Ditambah teknik kolam penampungan tidak membutuhkan lahan yang luas sehingga dapat dikembangkan pada lahan terbatas. Apalagi belum ada konsep pembudidayaan latoh berbasis masyarakat yang ada di daerah pantai sehingga kegiatan ini diharapkan sebagai pilot project pemberdayaan masyarakat pesisir. Ketika berkembang menjadi kawasan ekowisata juga dapat digunakan sebagai rujukan masyarakat, utamanya anak sekolah untuk mengetahui proses budi daya latoh dan sebagai sarana edukasi. Mengingat generasi sekarang di Rembang banyak yang tidak mengetahui latoh itu seperti apa.

Dalam persiapan program ini dilakukan dengan cara mengajak masyarakat melalui sosialisasi yang dilaksanakan secara daring maupun luring. Kegiatan yang selanjutnya dilakukan selama program pengabdian ini berupa pencarian titik lokasi dalam pembuatan kolam yang tentunya harus memenuhi kriteria tertentu, pencarian mitra, sosialisasi dengan masyarakat sekitar, melakukan perizinan dengan pemerintah Desa Pantiharjo, dan yang terakhir pelaksanaan kegiatan. Dalam pelaksanaan kegiatan yang dilakukan yaitu kerjasama dengan masyarakat sekitar untuk gotong royong dalam pembuatan kolam budi daya. Setelah semua pembuatan kolam selesai. tim serta mitra melakukan pengecekan dan uji coba kebocoran pada kolam serta memasang berbagai peralatan yang dibutuhkan dalam budi daya. Mitra kemudian dilatih oleh tim terkait kegiatan budi daya dan perawatannya.

Pelaksanaan budi daya dilakukan dengan tahap awal yaitu pembibitan, perawatan, panen dan pascapanen, pembentukan ekowisata, serta evaluasi. Pada tahap pembibitan mitra diajari bagaimana memilih bibit yang baik serta yang berpotensi untuk tumbuh dan tentunya segar. Mitra melakukan praktik langsung dengan terjun ke lapangan untuk melakukan pembibitan dengan menggunakan sepasang kotak bambu sebagai pengganti substrat menempel pada akar latoh. Langkah selanjutnya yaitu perawatan, perawatan yang dilakukan yaitu berupa pembersihan kolam dengan menggunakan saringan untuk mengambil kotoran pada kolam, melakukan pergantian air yang dilakukan 1 minggu sekali. Selanjutnya adalah pemupukan yang dilakukan selama seminggu dua kali. Diakhiri dengan pemanenan dan pelatihan pasca panen agar harga jual latoh bisa meningkat.

Dalam tahapan lanjutan yaitu pembentukan desa ekowisata latoh. Pembentukan dilakukan dengan melakukan penataan kawasan sekitar kolam, menyiapkan keperluan yang dibutuhkan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, dan penyebarluasan informasi melalui media sosial seperti yang ada di akun tik tok @ekowisatalokanom. Kegiatan ini ternyata dirasakan memberi dampak yang signifikan oleh ibu-ibu yang ada di Desa Pantiharjo. “Program ini sangat baik dilakukan, harapannya bisa berkelanjutan. Mengingat latoh sudah semakin langka dan ini adalah upaya yang nyata untuk mejaga kelestariannya.” Ujar Ibu Saripah, selaku Ketua PKK Desa Pantiharjo.