Gangguan kepribadian adalah salah satu jenis penyakit mental. Kondisi ini menyebabkan penderitanya memiliki pola pikir dan perilaku yang tidak normal dan sulit untuk diubah.  Seseorang dengan gangguan kepribadian umumnya mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan memahami situasi. Hal ini menyebabkan masalah dan keterbatasan dalam membangun hubungan serta menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti pekerjaan, sekolah, hingga aktivitas sosial, termasuk menghadapi stres hingga depresi. Penderita gangguan ini pun terkadang tidak dapat membedakan mana yang normal dan tidak. Ia menganggap bahwa perilaku dan cara berpikirnya tampak alami dan tidak memiliki masalah. Bahkan, ia mungkin menyalahkan orang lain atas situasi yang dihadapinya.

“Kepribadain adalah suatu cara berfikir, berperasaan, dan juga berperilaku yang khas pada tiap-tiap orang. Sehingga membedakan antara satu orang dengan orang yang lain, jadi tidak ada kepribadian yang sama walaupun kembar sekalipun. Karaktristik ini biasanya menetap dari waktu ke waktu atau tidak berubah, dan dipengaruhi oleh pola asuh, pengalaman, lingkungan dan karakteristik yang diwariskan dari orang tua” tutur  dr. Tanjung Ayu Sumekar, M.SI. Med., Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro.

Menurut dr. Tanjung, orang yang mengalami gangguan kepribadain berarti kepribadiannya terganggu, salah satu dari jenis dari gangguan mental dimana seseorang itu mempunyai pola pemikiran, perasaan dan  perilaku yang sudah tidak normal lagi dan juga susah diubah. Biasanya orang dengan gangguan kepribadian itu sulit dalam berhubungan dengan orang lain. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, beberapa teori dan factor menyebutkan diantaranya faktor genetik, faktor struktur otak dan struktur kimia dan faktor trauma di masa kecil, misalnya ketidakharmonisan dalam keluarga ataupun mungkin pengabaian sejak kecil.

“Gangguan kepribadian dibagi menjadi tiga klaster, yaitu gangguan kepribadian kelompok A, kelompok B, dan kelompok C. Kelompok A umumnya memiliki pemikiran dan perilaku yang aneh, eksentrik, tidak wajar dan ada kecurigaan berlebihan, misalnya gangguan skizotipal, schizoid dan paranoid. Kelompok B, memiliki perilaku emosional yang tidak stabil, seringkali meluapkan emosi yang tidak bisa diprediksi, lebih mudah emosi dan dramatis. Dan kelompok C memiliki ciri cemas, sering merasa khawatir, takut dan apa-apa dipikir” terangnya.

“Gangguan kepribadian dapat diterapi dan diobati, biasanya jika ia datang ke psikolog atau psikiater dalam keadaan stres atau depresi, kita obati dulu rasa cemas dan depresinya dengan melakukan wawancara secara mendalam apa kira-kira penyebab stres, cemas  atau depresinya. Lalu kita lihat bagaimana kehidupan di masa lalu, bagaimana kepribadiannya, bisa dengan mengerjakan Kuisioner tertentu. Jika da indikasi lain, misalnya penyebabnya ada zat atau alhohol, dia bisa diperikasa secara laboratorium, kira-kira ada tidak penyalahgunaan zat. Selanjutnya terapi utama adalah psikoterapi, seperti terapi kognitif perilaku, secara teori perilaku seseorang didadasari dari pemikirannya. Ada juga Psikoterapi psikodinamik yaitu membuat pasien mengetahui kira-kira apa yang menyebabkan ia berperilaku seperti itu selama ini. Apakah mungkin ada riwayat-riwayat masa lalu di masa kecil, sehingga diharapkan ia beradaptasi dengan kenyataan dan bisa menangani agar perilakunya berubah.  Tetapi memang  butuh waktu, bisa mingguan, bulanan bahkan tahunan sehingga dibutuhkan kesabaran dan komitmen untuk  mau menjalani terapi ini” lanjutnya.

“Jika kita menyadari ada perilaku yang mengarah pada gangguan kepribadian dari kita sendiri misalnya, segera berkonsultasi pada tenaga kesehatan, bisa psikolog atau psikiater. Terutama bila gejala-gejala tersebut sudah menganggu aktivitas sehari-hari atau mendatangkan keluhan-keluhan rekan-rekan disekitar kita. Dan jika kita menemui ada orang di lingkungan kita yang juga menunjukkan gejala gangguan kepribadian, coba kita ajak berbagi cerita mengenai kondisinya. Kalau kita melihat ada tanda-tanda seseorang ingin melukai diri sendiri dan berpotensi melukai orang lain atau ingin bunuh diri, sebaiknya kita dampingi dan segera mencari pertolongan bisa datang ke rumah sakit” pesan dr. Tanjung. (Linda Humas)