SEMARANG –  Memasuki usia yang tidak muda lagi, namun semangat belajar terus diperlihatkan Prof DR Sultana MH Faradz PAK, PhD dalam hal pengembangan kelimuan di bidang genetika. Baru-baru ini dosen sekaligus peneliti kedokteran di Fakultas Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang memberikan ide tentang pengembangan penggunaan obat-obatan yang lebih personal berdasarkan profil genetika yang kompleks.

Saat menjadi narasumber utama di sebuah majalah Australia Indonesia Association Vivtorian (AIAV) News yang diterbitkan akhir Agustus 2021, Prof Sultana melalui hasil wawancara bersama redaksi AIAV yaitu Carly Norman menjelaskan, untuk mengantisipasi tren permasalahan munculnya seputar genetika di tahun mendatang, Prof Sultana bersama tim akan mengusulkan penelitian penggunaan obat-obatan yang personal (personal medicine).

Perempuan yang pernah dianugerahi berbagai penghargaan atas karyanya di bidang medis, termasuk: Finalis Alumni Australia dalam Riset dan Inovasi dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada tahun 2009; Peneliti Kedokteran Terbaik Nasional dari Yayasan Bakrie Tahun 2012 menjelaskan, bahwa dengan obat-obatan yang lebih personal berpotensi setiap orang dimasa mendatang mungkin akan menggunakan chip. Di masa mendatang dokter dapat membaca file berdasarkan chip. Hal ini akan membuat dokter memahami obat ideal pasien berdasarkan pola DNA mereka.

“Ini sangat penting dilakukan untuk mengatasi persoalan terkait gejala penyakit yang disebabkan faktor genetika yang semakin kompleks di masa mendatang bagi masyarakat,” kata Prof Sultana kepada tim humas, Senin (6/9/2021).

Menurutnya, setiap ilmuwan harus memimpikan apa yang bisa mereka lakukan untuk dunia ini sehingga bisa bermanfaat. Melalui kepakarannya, dirinya ingin membantu banyak orang. Prof Sultana juga menyinggung pola pikir di negara berkembang bagi orang yang hanya untuk mengincar lebih banyak uang dari pada pengetahuan dan berhenti begitu mereka mencapai posisi tinggi.

“Misalnya, pekerjaan saya dimulai dengan disabilitas intelektual, tetapi sekarang dalam gangguan perkembangan seks. Dengan mendapatkan gelar PhD saya, itu adalah awal dari kehidupan ilmiah saya. Sains adalah bidang yang dinamis dan membutuhkan pembelajaran terus menerus, oleh karena itu mengapa belajar adalah pembelajaran sepanjang hayat,” tuturnya.

Sebagai seorang perempuan yang memiliki banyak prestasi, Prof DR Sultana menceritakan pengalamannya pertama kali belajar sitogenetika di Jepang. Dirinya merasa senang mempelajari ini karena tidak ada perkembangan pengetahuan ini di Indonesia. “Saya cukup frustrasi ketika saya kembali ke Indonesia karena saya tidak memiliki peralatan yang sama, untungnya sebuah rumah sakit swasta mengizinkan saya untuk menerapkan ilmu ini dan saya dapat menyebarkan pekerjaan saya di pusat-pusat lain. Saya kemudian pergi ke Sydney, Australia untuk mempelajari sitogenetika kanker selama tiga bulan, di mana mereka mendorong saya untuk melanjutkan ke PhD saya. Jadi, saya kembali lagi ke Australia dengan beasiswa selama lima tahun di University of NSW. Saat itu mengalami kehidupan yang sulit, karena saya membawa ketiga anak saya dan suami saya di Belanda sedang menyelesaikan PhD,” jelasnya.

Mengenai ketertarikan belajar genetika, Prof. Sultana menceritakan pertama kali tertarik bekerja dengan disabilitas intelektual pada anak-anak, karena waktu itu dirinya tidak menemukan informasi tentang down syndrome atau pada wanita di atas tiga puluh lima tahun yang mempunya risiko kemungkinan mereka untuk memiliki anak dengan down syndrome. Dari situ dirinya belajar bagaimana melakukan konseling genetik untuk menasehati, memberikan edukasi kepada keluarga dan pasien tentang hal itu.

Kemudian, dirinya menulis buku tentang masalah ini berjudul “Mengenal Sindrom Down: panduan untuk orang tua dan profesional”, dan memberikannya kepada orang tua/pasien. Orang tua sering terkejut dan malu memiliki anak dengan down syndrome dan tidak ingin memiliki anak lagi karena kekawatiran penyakit menurun , tetapi ini adalah pendapat yang salah yang dipicu oleh informasi yang salah. Hal ini sangat menginspirasi untuk membantu dan mendidik keluarga-keluarga.

“Inilah sebabnya mengapa belajar adalah pembelajaran sepanjang hayat. Semua pekerjaan ini telah membawa saya untuk mempelajari gangguan diferensiasi seks, juga dikenal sebagai alat kelamin yang ambigu (rancu). Sampai saat ini saya masih riset dengan MCRI/Royal Children’s Hospital, Australia. Saya bisa melakukan ini karena Australia kaya dana dan peralatan canggih, sedangkan Indonesia banyak kasus,” pungkasnya. (tim humas)