“Setelah gagal ikut UMPTN tahun 2002 dengan pilihan Peternakan dan Biologi Universitas Diponegoro, saya didorong keluarga untuk kuliah di Fakultas Sastra, padahal saya lulusan SMA Negeri 1 Semarang jurusan IPA. Bahkan, tes masuk Diploma yang dipilih adalah Bahasa Inggris, pilihan pertama dan pilihan kedua Bahasa Jepang akhirnya diterima di pilihan kedua. Saya mahasiswa Sastra angkatan 2002, dan lulus tahun 2007” tutur Denny Eko Wibowo, A.Md., S.Sn., M.A., Alumni D3 Bahasa Jepang Universitas Diponegoro.

“Sejak masuk kuliah di Jurusan Bahasa Jepang, hal menarik yang tentu diperoleh adalah belajar bahasa negara lain dengan aksara khas dan aturan komunikasi yang unik, juga belajar ragam budaya Jepang. Meskipun awalnya kurang tertarik, tetapi kemudian menumbuhkan rasa minat yang tinggi, sebab banyak yang dipelajari dari bahasa Jepang ini berkaitan dengan kebudayaan manusia Jepang. Bukan hanya hal teknis menuturkan bahasa, dan menuliskan Hiragana-Katana-Kanji namun juga belajar bagaimana sikap yang tepat saat berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang. Hal yang membuat saya heran dan mencoba mengingat pengalaman belajar bahasa Jepang adalah saat terbiasa dengan pensil, maka saya tidak banyak menyediakan pulpen. Ini membuat saya menjadi merasa unik, bahkan kawan dari jurusan lain selalu heran jika hendak meminjam pulpen dari saya. Bukan masalah tidak punya pulpen, tetapi hampir keseluruhan kelas menggunakan pensil sebagai alat tulis utama dalam menulis aksara-aksara tersebut.” lanjutnya.

“Undip merupakan wadah belajar saya sebagai mahasiswa pertama kali, setelah lulus dari tingkat sekolah menengah. Status siswa menjadi mahasiswa ini, bagi saya merupakan proses pengalaman yang sangat berharga. Terlebih dari pengalaman berorganisasi di UKM Kesenian Jawa Undip, kecakapan atau keterampilan teknis diperoleh dalam bangku kuliah, namun softskill menjadi kompetensi dan karakter sikap yang lebih penting. Softskill adalah daya hidup yang mampu mengadakan keberlanjutan kemandirian seseorang. Undip menjadi wadah tempa peralihan karakter siswa menuju mahasiswa, sekaligus wadah mengasah softskill dalam lingkungan yang baru” ungkapnya.

Setelah lulus D III Bahasa Jepang Undip, Denny memutuskan keluar kota Semarang sebagai titik awal menemukan passion sejak kecil dalam dunia seni. Ia pernah menjadi karyawan maintenance EDC, pernah menjadi perias pengantin, hingga “ngamen” dalam acara-acara yang memerlukan sajian seni. Tahun 2010 ia memutuskan menekuni passionnya di dunia seni dengan melanjutkan studi di ISI Yogyakarta, jurusan S1 Seni Tari.

“Setelah lulus di tahun 2015, keinginan saya terus belajar mendorong studi lanjut S2 ke Program Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM Yogyakarta pada tahun 2015. Tahun 2018 studi S2 saya usai, sekaligus saat itu menjadi awal karir saya sebagai dosen dimulai. Pada titik ini, saya yakin bahwa seni adalah hal yang bisa sejajar dengan bidang ilmu lain, yang memiliki banyak scholar atau cendekiawan, doktor atau bahkan professor. Semoga ada rezeki dan sehat sehingga studi lanjut tingkat doktoral bisa diwujudkan” lanjutnya.

Saat ini ia bekerja di Universitas Universal, Batam – Kepulauan Riau, sejak 2018 terbit sebagai dosen dan memiliki NIDN di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi sekaligus menjabat sebagai Koordinator Program Studi Seni Tari. Sebelumnya, ia menduduki posisi Sekretaris Dekan Fakultas Seni yang telah ditunaikan dari 2019-2021.

“Pendidikan tidak hanya penting, tetapi berdaya. Pendidikan semacam proses asah-asih-asuh, proses interaksi yang tidak hanya mengasah kemampuan teknis tetapi juga softskill. Kesempatan peroleh pendidikan kini sangat terbuka untuk siapa saja, warga negara Indonesia. Lantas, kenapa kita harus memposisikan diri seperti masa lampau yang sangat susah peroleh pendidikan? Zaman sudah berubah sedemikian rupa, bahkan kelak pendidikan akan menemukan model-model pembelajaran yang sifatnya dinamis sesuai perkembangan peradaban manusianya. Berjalanlah hari ini, sebab jika tidak berjalan hari ini, esok kita harus berlari” pungkas Denny. (Linda Humas)