SEMARANG – IKA Medika (Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro), Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) dengan menggandeng sejumlah pihak diantaranya Yayasan SmileTrain, Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (PERAPI), Perhimpunan Dokter Spesialias Mata (PERDAMI) Cabang Jateng, dan Klinik Diponegoro, memperingati Dies Natalis ke-60 Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (UNDIP) dengan menggelar bakti sosial (Baksos). Kegiatan Baksos yang meliputi operasi bibir sumbing, operasi katarak, dan khitan massal dilakukan di Lobby RSND Tembalang, Kota Semarang, Sabtu (11/9/2021).

Ketua Panitia Dies Natalis ke- 60 FK Undip, dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B (K) Onk; mengatakan dalam menghadapi pandemi Covid-19 semua pihak harus bersinergi. “Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, namun harus saling membantu. Acara ini adalah wujud nyata berupa kolaborasi antara FK Undip, alumni, RSND dan pihak lain dengan melaksanakan bakti sosial,” kata Wisnu Prajoko.

Menurut dia, tujuan kegiatan ini adalah menurunkan angka kebutaan di sekitar Jateng dan membantu masyarakat umum yang membutuhkan penanganan bibir sumbing karena kesulitan biaya. “Kegiatan ini juga bentuk pengabdian Ikatan Alumni FK Universitas Diponegoro dan RSND,’’ dia menambahkan.

Saat ini masih banyak warga masyarakat yang mengalami kesulitan, apalagi adanya wabah Covid-19 membuat kesulitan menjadi bertambah. Karena itu, dia mengajak semua pihak untuk ikut serta meringankan dan membantu penyelesaian masyarakat yang menghadapi masalah kesehatan. ‘’Harapan kami, bisa mengoptimalkan potensi supaya bisa membantu yang membutuhkan.’’

Sementara itu, mewakil Dekan FK Undip, Kepala Departemen Spesialis FK Undip, dr. Dwi Ngestiningsih, Sp.PD, mengatakan operasi katarak, operasi bibir sumbing, dan khitan massal ini merupakan kegiatan yang baru pertama kali dilakukan FK Undip.

“Kami harapkan kegiatan pengabdian ini bisa diteruskan menjadi kegiatan dan berkala sehingga bisa menjadi wujud pengabdian bagi masyarakat yang membutuhkan. Terimakasih juga pada donatur dan sejumlah pihak yang telah bekerja sama dengan kami,” ujar Ngestiningsih.

Dia berharap semua kegiatan Baksos berjaan lancar dan terlaksana dengan baik dan bisa bermanfaat bagi semua. Dalam peresmian baksos secara simbolis tersebut juga diberikan tali asih kepada pasien.

Direktur RSND Dr. dr. Sutopo Patria Jati, M.M., M.Kes dalam sambutannya mengatakan, peresmian bakti sosial dalam rangka Dies Natalis  ke-60 FK Undip ini  sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang membutuhkan. ‘’Dalam operasi bibir sumbing ini pasien menggunakan fasilitas RSND, ada lima ruangan yang disiapkan. RSND menjadi salah satu ikonnya Undip, besar kecilnya RSND tergantung teman-teman Undip, kalau semua potensi dimaksimalkan, maka akan menjadi besar,’’ jelasnya.

Kegiatan ini, menurutnya, juga sebagai salah satu tonggak sejarah bersama. ‘’Ini baru pertama dan akan terus berlanjut. Harapan kami, menjadi partner atau mitra untuk melakukan baksos kepada masyarakat. Sebab, kekuatan FK Undip menjadikan mitra yang produktif kami. Kami, RSND juga akan menjadi lebih bagus, kita tidak mau kalah dengan Rumah Sakit milik Perguruan Tinggi lain, yang memang saat ini kondisinya memang luar biasa dan banyak yang menata diri,’’ kata dokter Sutopo.

Mengenai jangkauan kegiatan, disebutkan bahwa pasien yang dilayani dalam Baksos bukan hanya dari Semarang, tapi juga dari Brebes, Blora, bahkan ada yang dari Kulonprogo Yogyakarta. “Harapan kami, kegiatan ini  bermanfaat  bagi pasien dan keluarga pasien, kita juga beranjangsana ke sejumlah pasien operasi bibir sumbing  di Brebes, Blora, bahkan ke Kulonprogo yang luar provinsi Jateng,” ungkapnya.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialias Mata (PERDAMI) Cabang Jateng, Dr. dr.Trilaksana Nugroho, M.Kes,SpM(K)FISCM, mengatakan pihaknya sangat senang terlibat dalam kegiatan ini, karena menjadi salah satu kontributor.

‘’Hampir dua tahun selama pandemi ini kami off, sehingga operasi katarak dilakukan sangat terbatas. Untuk operasi massal ini sempat off, akibatnya pelayanan operasi katarak bagi masyarakat yang tidak mampu, off juga,’’ tutur Trilaksana Nugroho.

Padahal ada penelitian yang menyebutkan di tahun 2016 terjadi peningkatan 100 persen jumlah kebutaan di Indonesia dibanding tahun 1996. Pada tahun 1996, dari survei kesehatan ada 1,5 persen dari penduduk Indonesia yang mengalami kebutaan. Sedangkan tahun 2016, ada 3 persen usia di atas 50 tahun yang mengalami kebutaan. ‘’Sedangkan katarak sendiri memegang 50 persen dari 3 persen itu, jadi bisa dibayangkan banyak kasus katarak. Di satu sisi, katarak bisa direhabilitasi dan disembuhkan, sehingga besar harapan kami, ikut berkontribusi bersama dengan Undip.  Kami ingin berkontribusi kami ingin melakukan kegiatan ini berkesinambungan.”

Salah satu pasien Agnes Topan mengaku sangat bahagia, mengikuti acara Baksos di RSND. ‘’Saya berterimakasih dan saya berharap Baksos ini dilakukan berkelanjutan karena masih banyak warga yang mengalami bibir sumbing yang belum dioperasi. Kami benar-benar sangat berterimakasih,’’ ungkapnya. (tim humas)